"Kesetiaan dan Kejujuran Yusuf Contoh Bagi Kita"

osvald
Osvald TAROREH
Website Writer

Acara Evangelisasi PA, BWA, dan Rumah Tangga telah dilaksanakan pada Minggu, 1 Juni 2008 di Gereja Taman Harapan. Merupakan gabungan kegiatan dari tiga departemen yaitu Dorkas, BWA/Rumah Tangga, dan PA Senior.

Acara dimulaikan jam 12.45 dipimpin oleh Willy Tangkilisan, Ketua Pemuda. Lagu buka jemaat sudah menyanyikan “Adakah Tersurat Namaku Disana?”. Dilanjutkan doa buka oleh Memey. Sebelum firman Tuhan dibawakan Ketua Lawrence Walean, anggota PA telah membawakan lagu selingan “Akan Berkumpulkah Kita?”

Dalam pembicaraannya, Ketua Lawrence Walean telah mengambil tema dari Kejadian 39 mengenai kisah Yusuf. Ia telah dilahirkan dari sebuah keluarga besar (banyak anak) dan menjadi anak kesayangan orang tua karena dimanjakan. Dia lebih sering berada di rumah ketimbang kakak-kakaknya sehingga Yusuf banyak mendengar cerita mengenai Tuhan dari ayahnya, Yakub.

Hal terpenting yang diceritakan Yakub pada Yusuf adalah janji-janji Tuhan kepada umat-umatNya yang percaya. Sehingga ketika Yusuf dijual kepada orant-orang Ismae, ia tetap mengingat janji perlindungan Tuhan bagi dirinya dan ia tidak pernah merasa takut (Sejarah Para Nabi 156)

Satu hal lain, kerajinan, kejujuran, kesetiaan Yusuf tidak pernah hilang dimana saja ia berada. Ia juga tidak pernah menutupi keberadaannya sebagai umat Allah. Identitas dirinya tidak pernah hilang dari dirinya. Sehingga semua pekerjaan yang ia lakukan selalu berhasil karena ia diberkati Tuhan.

Untuk menjadi jujur, setia, dan dekat kepada Tuhan bukanlah perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi termasuk godaan yang dialami Yusuf dari istri Potifar. Jika Yusuf melanggar, pasti istri Potifar tidak akan melapor kepada suaminya. Tetapi Yusuf menolak hal itu sehingga istri Potifar difitnah dan dipenjarakan.

Kalimat Yusuf yang terkenal dikutip dalam Kejadian 39:9b, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan dosa yang besar ini kepada Allah?”

Berapa sering dalam pekerjaan kita dihadapkan dengan situasi yang sama seperti Yusuf. Ellen White menulis dalam Sejarah Para Nabi hal. 158, “Hendaknya semua orang muda mengingat atas apa yang mereka lakukan bahwa mereka sedang berada di hadapan hadirat Allah. Tidak ada yang tersembunyi, semua perbuatan kita terlihat.”

Kejujuran Yusuf harus dibayar mahal, ia dipenjara dan mengalami banyak penderitaan (Mazmur 105:18, 19). Hidupnya penuh siksaan, tapi ia tidak pernah mengeluh tapi selalu bersyukur padaNya. Ia tahu Allah tidak pernah meninggalkannya.

Kesetiaan dan kejujuran sering harus dihadapi dengan kepahitan hidup. Pengkhotbah 11:9, “... Tetapi ketahuilah karena segala hal ini Allah akan membawamu ke depan pengadilan” demikian nasehat Raja Salomo. Rasul Paulus juga mengingatkan kita untuk melakukan semuanya itu untuk kemuliaan Tuhan (I Korintus 10:31).

Lagu tutup “Kukasih Padamu” dan doa tutup serta makan siang yang disiapkan Kel. Yanel Tumalun dibawakan oleh Ketua Lawrence Walean.

Commenting is closed for this article.

Aug 25, 06:56 PM Pernikahan Lindy Legoh dan Andrew Pusung

Lindy Legoh dan Andrew Pusung telah dipersatukan dalam upacara nikah di Gereja Advent Menteng pada hari Minggu, 17 Agustus 2008 dengan upacara...

Keep Reading...

Aug 22, 04:18 PM Utusan Taman Harapan di KLB Konferens DKI Jakarta

Dalam rangka pelaksanaan Konferensi Luar Biasa Konferens DKI Jakarta dan Sekitarnya yang akan dilaksanakan pada 7...

Keep Reading...