Renungan Harian Umat Pilihan 4 Agustus

YANG KURUS PADA TIKUS GEMUK

 

”Yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku” (Keluaran 20:5,6).

 

Meskipun sebagian kita mungkin tidak tahu apakah gen itu sebenarnya, kita menyadari bahwa gen menentukan sifat-sifat seperti seberapa tinggi kita atau warna apa mata yang akan kita miliki. Faktanya adalah bahwa kita terbiasa mencari gen yang saling mengendalikan dan mewarisi setiap sifat ketika para ilmuwan menemukan suatu sifat itu bertahan selama beberapa generasi setelah gen itu sendiri telah menghilang, mereka takjub.

 

Bagaimanakah ceritanya? Ketika memakan diet tinggi lemak, maka tikus percobaan yang normal menjadi obesitas, seperti yang terjadi pada manusia. Terlebih lagi, tikus obesitas itu jadi memiliki masalah yang sama dengan yang dikembangkan oleh orang gemuk-penyakit kardiovaskular, tekanan darah tinggi, dan bahkan resistensi insulin. Tapi keberadaan gen tunggal yang muncul dalam beberapa tikus memungkinkan tikus-tikus itu berdiet makanan tinggi lemak dan masih tetap ramping dan langsing, tidak seperti teman tikus lain yang menjadi gemuk. Dan tikus-tikus kurus itu bebas penyakit. Bila Anda memasukkan gen tikus kurus kepada tikus gemuk, maka tikus gemuk itu akan kurus juga. Gen itu membantu memetabolisme glukosa tikus itu lebih cepat, dan menurunkan berat badan, dan sebagai hasilnya, menjadi lebih sehat. Menjadi membingungkan adalah bahwa tikus gemuk yang menjadi ramping itu juga beranak. Meskipun generasi berikutnya diberikan makanan tinggi lemak, namun anak-anak tikus itu tetap langsing juga meskipun gen itu telah menghilang. Jadi, gen tidak diteruskan. Dan untuk beberapa generasi tikus berikutnya, walau tanpa gen, populasi tikus itu tetap kurus bahkan dengan diet tinggi lemak.

 

Inilah salah satu contoh fenomena yang sekarang dikenal sebagai epigenetika-sesuatu yang tampaknya mengingatkan pada perintah pertama dan diulangi beberapa kali dalam Pentateukh (Kel. 34:7; Bil. 14:18; Ul. 5:9). Tapi kemudian, pernyataan hukuman dikelilingi kata-kata cinta. Allah pastikan bahwa Dia memiliki kemurahan dan kasih hingga generasi ke seribu bagi orang-orang yang “mengasihi-Ku dan memelihara perintah-perintah-Ku.” “Tuhan, … lambat untuk marah, berlimpah kasih… dan memaafkan pelanggaran, pemberontakan, dan dosa “(Kel. 34:6,7).

 

Cara kita hidup memiliki konsekuensi alami yang dapat bertahan selama beberapa generasi melalui efek epigenetik misterius. Mengetahui bahwa apa yang saya lakukan dapat mempengaruhi cucu saya dan bahkan cicit saya, maka membuat saya merenung dan melakukan sesuatu dengan pemikiran cermat dan mendalam. Jadi saya memilih dengan hati-hati untuk mengikuti prinsip-prinsip hidup sehat dan taat kepada hukum Allah.

 

Tuhan, saya memilih untuk menaati Firman-Mu hari ini.

 

Selamat beraktifitas dan Tuhan memberkati.