Pelajaran Sekolah Sabat Minggu ke-6 “Ester dan Mordekhai”

Pelajaran 6                              *1–7 Agustus

 

 

Ester dan Mordekhai

Sabat Petang

 

Bacalah untuk Pelajaran Pekan ini: Ester 1–10, 1 Kor. 9:19–23, Yoh. 4:1–26, Kis. 17:26, Mat. 22:21, Rom. 1:18–20.

 

Ayat Hafalan: “’Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.’” (Ester 4:14, NIV).

E

 

 

 

ster sudah biasa menjalankan misi khusus, tingkat tinggi dalam pusaran politik berbahaya dari kekaisaran Parsi. Misinya melibatkan dia dalam satu rangkaian perbedaan menyolok.  Seorang perempuan yatim, anggota suatu etnis dan agama minoritas, hidup di negara adikuasa pada zamannya, menjadi istri raja Parsi.  Ini bukanlah kisah peri yang dipoles.  Ia diangkat dari tidak dikenal, disiapkan untuk mengemban misi yang sangat khusus.  Misi yang meminta dari dia suatu siasat kerja yang berresiko, yang pada awalnya tersamar.  Diakhir ia harus mengadakan suatu pengakuan berbahaya tentang etnik dan agamanya.

Didukung oleh sepupunya yang juga ayah angkatnya Mordekhai, kesaksiannya yang berani di istana kekaisaran Parsi yang membangkitkan rasa ingin tahu itu telah menyelamatkan bangsanya, membalikkan status sosial mereka yang rendah, dan menjadikan mereka suatu pokok kekaguman seluruh kekaisaran.

Tidak ragu, akibat dari kesetiannya, pengetahuan mengenai Allah yang benar menjadi lebih meluas diantara orang kafir, penakluk mereka.  Walaupun bukan kisah misionari mu yang “khas”, tuturan cerita Ester dan Mordekhai mengemukakan prinsip menarik yang dapat membantu kita mengerti apa maksudnya bersaksi dalam situasi khusus.

 

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 8 Agustus.
Minggu                                                 2 Agustus                                                                                   

 

Ester di Parsi

 

Bacalah Ester 1:2–20.  Apa yang sedang terjadi disini? Hal apakah tentang cerita ini yang sulit dimengerti dari sudut pandang kita sekarang?  (Sedang anda membaca, ingat bahwa banyak rincian yang tidak disampaikan.)

 

 

 

 

 

 

    

Pesta seminggu lamanya yang disajikan raja Ahasyweros untuk para pembesar-pembesar dan pegawai-pegawainya sepertinya sangat hebat, bahkan untuk seseorang pada puncak kekuatan politik, jauh dari apa yang kebanyakan orang Kristen anggap berterima.  Mengkonsumsi alkohol yang tidak terbatas (Ester 1:7, 8) tidaklah biasa, karena menenggak alkohol selama perayaan formal purba itu biasanya dikendalikan oleh adat-adat kebiasaan dan upacara agama.  Dalam kasus ini, alkohol mengaburkan pertimbangan raja, sampai ia memerintahkan istrinya Wasti, menyediakan hiburan bagi pesta raja yang semuanya laki-laki mabuk.  Hal ini jauh dibawah martabat seorang perempuan menikah, dan seorang anggota keluarga istana.  Apapun sambutannya, Wasti menghadapi suatu dilema kehilangan status.  Dan pilihan beraninya untuk mempertahankan harga dirinya didepan nafsu rendah seorang penguasa otokratik, menyiapkan pembaca untuk mengerti kuasa kebaikan yang digunakan seorang wanita berprinsip, bahkan di dalam istana suatu kerajaan yang didominasi laki-laki.

Tapi, sementara itu juga, kita harus menghadapi tindakan-tindakan Ester.  Ester 2:3 memberi kesan bahwa wanita-wanita ini bukanlah relawan.  Raja mengeluarkan perintah, dan Ester harus datang.  Seandainya ia menolak, siapa yang tahu apa yang akan terjadi?

Bacalah 1 Korintus 9:19–23.  Didalam cara apakah dapat kita terapkan prinsip-prinsip yang terlihat dalam ayat-ayat ini kepada apa yang terjadi dengan Ester?  Atau, apakah prinsip-prinsip itu dapat diterapkan?

 

 

 

 

 

 

Sejauh ini, pahlawan sejati dalam kisah ini adalah Wasti, yang lalu menghilang dari sejarah.  Kesopanannya dan keteguhannya pada prinsip, membuka jalan bagi Ester.  Dalam beberapa kasus, memang, berteguh pada prinsip tidaklah selalu membawa kebaikan yang nyata.  Pada akhirnya mengapakah kita harus berteguh pada prinsip, walau kita tidak tahu hasil akhir dari tindakan kita itu sekalipun?

 

 

 


Senin                                  3 Agustus                                                                             

 

Ester di Istana Raja

 

Bacalah Ester 2:10, 20.  Situasi-situasi apakah yang dapat muncul dimana ikatan agama atau kebangsaan harus disembunyikan, sekurang-kurangnya untuk satu waktu tertentu?

 

 

 

 

 

 

Bacalah Yohanes 4:1–26, kisah Yesus dan perempuan Samaria di sumur.  Mengapa Yesus katakan padanya secara berterusterang bahwa Dirinyalah Mesias itu, ketika diantara kaum-Nya sendiri Ia tidak berapa terbuka?  Bagaimanakah cerita ini dapat membantu kita mengerti kata-kata Mordekhai kepada Ester?

 

 

 

 

 

 

Dua kali Mordekhai pesan kepada Ester supaya jangan menyatakan kebangsaannya dan latar belakang keluarganya.  Hal ini menyulitkan beberapa juru tafsir yang pertanyakan perlunya sikap menutup-nutupi, khususnya ketika kaum Yahudi sedang tidak terancam.  Tidakkah ia dapat menjadi saksi tentang Allahnya kepada orang-orang kafir ini kalau ia terbuka tentang dirinya dan tentang Allah yang ia sembah?

Atau, mungkinkah juga seorang Yahudi kurang dipercaya di istana Parsi sehingga menyatakan kebangsaannya akan menghalangi dia untuk diperkenankan menghadap raja ketika ia hendak memperjuangkan nasib bangsanya?  Namun, nampaknya bahkan sebelum ada ancaman, Mordekhai telah amarkan Ester supaya tidak menyatakan identitasnya.  Faktanya ialah bahwa Alkitab tidak memberikan alasan bagi kata-kata Mordekhai kepada Ester; namun seperti yang terlihat dalam contoh Yesus, seseorang tidak harus menyatakan segala sesuatu sekaligus pada setiap kesempatan.  Kebijaksanaan adalah suatu kebajikan.

Sementara itu, mengapa Yesus berkata begitu berterus-terang kepada perempuan di sumur, tapi tidak demikian kepada kaum-Nya sendiri?

“Kristus lebih menahan diri apabila Ia berbicara kepada mereka itu.  Apa yang tidak diberikan kepada orang Yahudi, dan yang kemudian hari dianjurkan supaya dirahasiakan oleh murid-murid, dinyatakan kepada wanita itu.  Yesus melihat bahwa ia akan menggunakan pengetahuannya itu untuk membawa orang lain pula guna mengambil bagian dari rahmat-Nya.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jil 5. hal. 192.

 

Pernahkah anda berada pada suatu keadaan dimana anda menganggap bijak untuk tidak bicara terlalu banyak tentang imanmu atau kepercayaanmu?  Apakah alasanmu?  Sekarang, jika anda mengenang kemasa lampau, perbedaan apakah yang mestinya anda telah lakukan, jika ada?

 


Selasa                         4 Agustus                                                                                 

 

“Untuk Saat yang Seperti Ini” (Ester 2:19–5:8)

 

Dalam Ester 3:1–5, isi cerita mulai terurai. Mordekhai, seorang Yahudi–mentaati perintah yang melarang penyembahan berhala–menolak menyembah Haman, yang hanya seorang manusia.  Sangat geram, Haman mengusahakan caranya sendiri untuk membalaskan dendamnya kepada apa yang dianggapnya penghinaan.  Mordekhai, oleh tindakan-tindakannya, dalam satu cara, sedang bersaksi diantara orang-orang kafir ini tentang Allah yang benar.

Alasan apakah yang Haman gunakan untuk membersihkan kerajaan Parsi dari orang Yahudi?  Apakah yang dikatakan hal ini kepada kita tentang betapa mudahnya membiarkan perbedaan-perbedaan kebudayaan membutakan kita terhadap peri kemanusiaan semua orang? Ester 3:8–13; lihat juga Kisah 17:26.

    

 

 

 

 

 

     Setelah rencana jahat Haman terkuak, Mordekhai

 

ungkapkan kesulitannya secara terbuka, menggunakan satu-

 

satunya ritus agama Yahudi yang disebutkan dalam kitab

 

Ester:.Ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung

 

dan abu,  . . . sambil melolong-lolong dengan nyaring dan

 

pedih” (Esther 4:1 NIV).  Sementara itu, Ester bersedia

 

berbuat sesuai dengan tuduhan Haman. Ia akan menjadi seorang

 

Yahudi pelanggar hukum kerajaan Parsi, dengan berani

 

menghadap raja tanpa diundang, sebagai bagian dari rencana

 

menggagalkan rencana jahat Haman.  Raja mengizinkan Ester,

 

dan berkenan menerima undangan makannya.  Sekarang Ester

 

memimpin di dalam drama yang dihadapi orang-orang Yahudi

 

dalam pembuangan di seluruh Parsi.  Dalam kisah ini, Ester

 

menunjukkan penyangkalan diri dan kepahlawanan (Ester 4:16),

 

siasat (Ester 5:8), dan keberanian (Ester 7:6).

 

“Melalui Ester, sang ratu, Tuhan melakukan suatu kelepasan yang hebat bagi umat-Nya.  Disaat ketika seakan tidak ada kekuatan untuk meluputkan, Ester dan perempuan-perempuan yang menyertainya, dengan puasa dan doa, dan tindakan cepat, menghadapi masalah itu dan memberikan kelepasan kepada kaum mereka.

“Suatu studi tentang upaya perempuan-perempuan sehubungan dengan pekerjaan Tuhan di zaman Perjanjian Lama akan mengajarkan kita suatu pelajaran yang dapat menyanggupkan kita menghadapi keadaan darurat dalam pekerjaan sekarang.  Mungkin kita tidak akan dibawa ke tempat yang kritis dan menonjol seperti umat-umat Allah dizaman Ester, tapi sering perempuan-perempuan yang telah bertobat dapat melakukan suatu bagian penting dalam posisi yang lebih rendah.”—Ellen G. White Comments, dalam The SDA Bible Commentary, jil. 3, hal. 1140.

Bacalah Esther 4:14, kata-kata terkenal Mordekhai kepada Ester: “‘Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu’” (NKJV).

Didalam cara apakah prinsip-prinsip di belakang kata-kata ini dapat diterapkan padamu, sekarang juga?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu                             5 Agustus                                                                                  

 

Mordekhai dan Haman

 

Sesuai Ester 5–8, bagaimanakah Ester telah sanggup menyelamatkan bangsanya?

 

 

 

 

 

 

 

Catatan tentang dua jamuan makan Ester mengantarkan cerita ini ke titik kritisnya.  Juga mencatat pembalikan besar dari suatu rencana jahat pemusnahan etnis.  Dalam perjalanannya, kisah itu membuka perbedaan antara kehormatan yang benar dan kehormatan diri, dan juga mencatatkan tentang hukuman bagi tokoh jahatnya.  Persekongkolan-persekongkolan jahat istana ini berdampak luas.  Memberi kita sekilas pandang kegiatan-kegiatan di balik layar dari seorang raja absolut dan istananya.  Ester dan Mordekhai menggunakan jabatan mereka, pengetahuan kebudayaan tempat mereka hidup, dan iman mereka kepada janji-janji wasiat Allah kepada umat-Nya untuk memberi mereka kelepasan.

Sementara itu, meski pelayanan hidupnya tenang, Mordekhai membiarkan imannya dikenal orang, selain melalui penolakkannya untuk bersujud dihadapan Haman.  Orang telah memperhatikan dan menasihati dia, tapi ia menolak tawar-menawar dengan imannya (Ester 3:3–5).  Tentu, hal ini merupakan suatu kesaksian kepada orang lain.

Bacalah Ester 6:1–3.  Apakah yang dikatakan oleh ayat ini tentang Mordekhai?  Pelajaran apakah yang dapat kita tarik mengenai bagaimana umat Allah dapat berfungsi, bahkan bersaksi, di negeri asing?

 

 

 

 

 

 

Walaupun jelas Mordekhai adalah pengikut Tuhan, namun

ia juga menunjukkan kesetiaan dan pengabdian terhadap

penguasa bangsa dimana ia hidup. Sementara menolak menyembah

seorang manusia, ia tetap seorang warga yang baik, dalam hal

ia membeberkan suatu persekongkolan jahat terhadap raja.

Walaupun kita tidak punya cukup informasi mengapa ia tidak

segera diberi penghargaan atas perbuatannya, mungkin sekali

ia melakukannya dan melupakannya, tanpa mengharapkan

imbalan.  Pada waktunya, namun, perbuatan baiknya itu

dipahalai lebih dari sekedar imbalan.  Teladannya disini

mungkin paling baik diungkap dengan kata-kata ini:

“‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan

kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan

kepada Allah’” (Mat. 22:21, NKJV).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis                              6 Agustus                                                                  

 

Ketika Banyak Orang Non-Yahudi, Masuk Yahudi

 

Bacalah Ester 8.  Pusatkan perhatian pada ayat 17.  Bagaimanakah dapat kita mengerti hal ini sehubungan dengan penjangkauan dan bersaksi?

 

Tidak diragukan, kitab Ester bukanlah suatu cerita yang “khas” tentang jangkauan keluar dan bersaksi.  Namun kita dapat melihat sesuatu yang seperti skenario ini yang terjadi disini menjelang akhir kisah.  Sebagai akibat dari pengumuman resmi raja untuk kepentingan kaum Yahudi, “banyak dari antara rakyat negeri itu masuk Yahudi, karena mereka ditimpa ketakutan kepada orang Yahudi” (Ester 8:17). Sebagian juru tafsir membantah bahwa pertobatan mereka bukanlah suatu pengalaman yang benar, karena rasa takut dan cemas haruslah tidak ada dalam penarikan jiwa.  Walau itu benar, tapi siapakah yang tahu dalam jangka panjang, bagaimana orang-orang ini, apapun motif awalnya, merespon pekerjaan Roh Suci, apalagi setelah melihat perbedaan-perbedaan besar antara kepercayaan mereka sendiri dengan kepercayaan dan ibadah kepada Allah yang benar?

Bacalah Roma 1:18–20.  Bagaimanakah konsep yang diajarkan disini dapat berperan dalam diri orang-orang ini, khususnya dalam konteks cerita ini?

 

 

 

 

 

 

Perintah asli terhadap orang Yahudi, bukan saja supaya orang Yahudi harus dibunuh, tapi juga “dirampas harta milik mereka” (Ester 3:13, NKJV).  Begitu juga, ketika orang Yahudi diizinkan membunuh musuh mereka, mereka juga diperintahkan untuk “merampas harta milik” musuh mereka. (Esther 8:11, NKJV).  Namun demikian, tiga kali dalam kitab Ester (9:10, 15, 16 NKJV) disebutkan secara khusus bahwa orang-orang Yahudi tidak “mengulurkan tangan pada barang rampasan” (NKJV).  Walaupun ayat itu tidak katakan alasannya, tapi fakta bahwa hal itu disebutkan sampai tiga kali menunjukkan diberinya penekanan pada tindakan itu.  Mungkin sekali mereka menahan diri karena ingin diketahui bahwa mereka bertindak demi pembelaan diri dan bukannya gelojoh.

 

Bagaimanakah dapat kita pastikan bahwa dalam jangkauan keluar dan kesaksian kita kepada orang lain, kita tidak melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan orang mempertanyakan motif kita?  Mengapakah hal ini begitu penting?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jumat                              7 Agustus                                                                                          

 

Pendalaman: Ellen G. White, “Zaman Ratu Ester,” Alfa dan Omega jil. 4, hal. 197-202.

 

“Perintah yang pada akhirnya akan disebarkan untuk melawan umat Allah yang sisa akan benar-benar sama dengan yang dikeluarkan oleh Ahasyweros terhadap orang-orang Yahudi.  Pada masa kini musuh-musuh gereja yang benar melihat pada rombongan kecil yang memelihara hukum Allah, seorang Mordekhai di pintu gerbang.  Penghormatan umat Allah akan hukum-Nya adalah teguran yang tetap kepada mereka yang tidak takut akan Tuhan yang sedang menginjak-injak hari Sabat-Nya.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jil. 4, hal 201, 202.

 

Pertanyaan untuk Didiskusikan:

Ø Perbandingan sejajar apakah yang dapat kita tarik antara perintah terhadap orang Yahudi dengan apa yang akan terjadi di zaman akhir ketika masalah “tanda binatang” mengemuka?

 

Ù Baik orang Yahudi purba maupun orang Kristen menyoalkan hak kitab Ester mendapatkan tempat dalam kanon Perjanjian Lama.  Kitab Ester tidak ada dalam Perjanjian Lama yang digunakan oleh komunitas pembuat gulungan naskah Laut Mati, dan juga tidak terdapat dalam Perjanjian Lama jemaat-jemaat purba Turki dan Siria.  Nama Allah tidak ada dalam kitab Ester, sementara rujukkan kepada raja kafir terdapat sekitar 190 kali.  Tidak ada sebutan tentang doa, korban persembahan, bait suci, atau ibadah, walaupun ada menyebutkan tentang puasa.  Akhirnya, penekanan pada perjanjian tentang pengampunan dan belas kasihan juga tidak disebutkan.  Dan, walaupun demikian, Tuhan memandang pantas untuk memasukkannya kedalam kanon.  Mengapa?  Pelajaran rohani yang kuat apakah yang dapat kita tarik dari padanya tentang bagaimana Allah dapat bekerja didalam hidup kita untuk kebaikan, bahkan ditengah keadaan yang nampaknya sangat sulit?

 

Ú Renungkan pemikiran tentang saat-saat dimana para misionari dan orang lain yang mengadakan penjangkauan tanpa menyatakan secara terbuka identitas dan pekerjaan mereka.  Apakah alasan-alasan absahnya (jika ada) untuk kita melakukan seperti itu, khususnya didalam konteks misi?  Kadang-kadang, misalnya, para misionari sangat berhati-hati, tidak menyebutkan siapa diri mereka, khususnya di negara-negara yang memusuhi kesaksian Kristen.  Jika kita dikesankan untuk tidak menyatakan langsung identitas kita, bagaimanakah dapat kita lakukan itu dalam cara yang jujur dan tidak menipu?