Pelajaran Sekolah Sabat 30 Mei – 5 Juni “Mengikut Yesus dalam Kehidupan Setiap Hari”

Pelajaran 10 *30 Mei 30–5 Juni

Mengikut Yesus dalam Kehidupan Setiap Hari

Sabat Petang
Bacalah Untuk pelajaran Pekan Ini: Lukas 11:37–54; 12:4–21, 35–53; Amos 6:1; Lukas 8:4–15; 22:24–27.

Ayat Hafalan: ”Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!” (Lukas 17:5).
Meskipun seorang Maha Guru, Yesus tidak mendirikan sekolah teologia atau filsafat. Tujuan-Nya adalah “untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10). Ia datang untuk menyatakan tabiat Allah, penyataan yang berpuncak di kayu salib, dimana Ia tidak hanya menunjukkan kepada manusia dan dunia-dunia yang tidak jatuh bagaimana sebenarnya Allah itu tetapi Ia juga membayar hukuman atas dosa sehingga umat manusia, meskipun keadaannya telah jatuh, dapat ditebus.

Dengan melakukan hal ini, Ia juga telah menciptakan suatu komunitas yang telah ditebus, suatu komunitas dari mereka yang, telah diselamatkan oleh kematianNya, terpilih untuk menjadi teladan kehidupan dan ajaran-Nya.

Panggilan untuk menjadi bagian dari komunitas yang telah ditebus ini adalah suatu panggilan, bukan kepada suatu status istimewa dalam kehidupan tetapi kepada suatu kesetiaan penuh pada Dia yang memanggil, pada Kristus sendiri. Apa yang diucapkan-Nya menjadi hukum kehidupan para pengikut-Nya. Apa yang dinginkan-Nya menjadi tujuan utama para pengikut-Nya. Tidak ada sejumlah kebaikan lahiriah atau kesempurnaan doktrinal dapat mengambil tempat dari kesetiaan total kepada Kristus dan kehendak-Nya.

Pemuridan, yang menjadi tanggung jawab kita secara eksklusif untuk bertinggalnya Kristus, menciptakan persyaratan penting tertentu. Tidak ada kompetisi dan tidak dapat digantikan.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 6 Juni.

Minggu 31 Mei

Jauhkanlah Kemunafikan
Dari 80 lebih rujukan untuk orang Farisi dalam Kitab Injil, sekitar 25 persennya terdapat dalam kitab Lukas. Orang Farisi dikenal dengan konservatisme doktrinal mereka, berbeda dengan orang Saduki yang dikenal dengan ide-ide mereka yang liberal. Orang Farisi seringkali adalah kaum legalis yang, walaupun mengaku percaya pada kasih karunia, mengajari keselamatan oleh pemeliharaan hukum.

Bacalah Lukas 11:37-54. Apakah yang Yesus amarkan, dan bagaimana prinsip yang sama ditunjukan sekarang ini? Bagaimanakah kita dapat memastikan bahwa kita, dalam cara kita sendiri, tidak mencerminkan hal-hal yang Yesus telah amarkan?
`
Ulasan mengenai ucapan celaka (Lukas 11:42-54) yang diucapkan kepada orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menunjukan begitu sering panggilan kepada agama yang sejati mengena kepada setiap generasi, termasuk generasi kita sendiri.

Contohnya, sementara membayar perpuluhan merupakan pengakuan yang penuh sukacita akan pemeliharaan Allah, hal itu tidak bisa menggantikan tuntutan dasar dari kasih dan keadilan dalam hubungan manusia(ayat 42).

Orang-orang inilah yang “mengabaikan keadilan dan kasih Allah,” malahan, suka “duduk di tempat terdepan di rumah ibadat” (ayat. 42, 43). Yang kehilangan pokok penting dari iman sejati!

Yesus mengamarkan juga bahwa mereka yang menyamakan ibadah sejati dengan ritual lahiriah saja adalah benar-benar najis, hampir tidak berbeda dengan mereka yang kena kepada orang mati (Lukas 11:44; juga lihat Bil. 19:16). Betapa mudahnya dapat menyalah artikan apa yang biasa dengan apa yang kudus di mata Tuhan.

Juga, Tuhan memberikan amaran kepada ahli-ahli taurat yang menggunakan pendidikan dan pengalaman mereka untuk menempatkan beban agama yang berat kepada orang lain sementara mereka sendiri “tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun” (Lukas 11:46).

Sementara itu, orang Farisi menghormati nabi-nabi yang telah meninggal tetapi menentang mereka yang masih hidup. Bahkan selagi Yesus berbicara, beberapa orang sedang merencanakan pembunuhan Anak Allah. Yang penting bukanlah menghormati para nabi melainkan mengindahkan pekabaran nubuat mereka tentang kasih, belas kasihan, dan keadilan.

Amaran terakhir adalah sesuatu yang mengerikan. Beberapa orang yang telah dipercayakkan kunci kepada kerajaan Allah telah gagal mengurus kepercayaan yang telah diberikan kepada mereka. Gantinya menggunakan kunci itu dengan bijaksana dan mengijinkan anak-anak Tuhan masuk ke kerajaaan-Nya, mereka telah mengunci orang-orang di luar dan telah membuang kuncinya.

Senin Juni 1

Takutlah akan Allah

“Takutlah akan Allah, dan muliakanlah Dia” (Wah. 14:7) adalah yang pertama dari pekabaran tiga malaikat, merupakan inti dari kehidupan dan iman Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh. Takut akan Allah bukanlah perasaan takut seperti yang biasanya orang pikirkan. Takut akan Allah adalah menyadari siapa Allah itu dan apa yang Ia mintakan kepada kita. Itu adalah tindakan iman yang mencakup kesetiaan sepenuhnya kepada-Nya. Allah yang menjadi penentu dan penguasa kehidupan kita—pikiran, tindakan, hubungan-hubungan, dan nasib kita. Pemuridan yang didasarkan pada “takut” yang demmikian itu berdiri di atas dasar yang tak tergoyahkan.

Bacalah Lukas 12:4-12. Apakah yang Yesus katakan kepada kita di sini mengenai takut?

Bagian ini menunjukkan kepada kita kepada siapa kita takut dan kepada siapa tidak usah takut. Kita tidak usah takut kepada paksaan-paksaan yang dapat berpengaruh pada tubuh kita saja di dunia saat ini. Sebaliknya, kita harus takut dan taat kepada Tuhan karena di dalam tangan-Nya adalah nasib kita yang abadi. Tetapi Allah kita—matanya memperhatikan burung pipit (Lukas 12:6) dan telah menghitung rambut di kepala kita (ayat 7)—mengasihi dan memedulikan; sebab itu, masing-masing kita sangat jauh berharga di mata-Nya. Jika kita benar-benar mempercayainya, betapa banyak kekhawatiran dunia yang akan lenyap?

Bacalah Lukas 12:13-31. Mengenai apakah yang Yesus amarkan kepada kita di sini?

Sementara Yesus menolak untuk mencampuri pertengkaran antara dua bersaudara mengenai pembagian harta, Ia menekankan relevansi hukum kesepuluh (Kel. 20:17) terhadap dosa ketamakan dan menunjukkan kebenaran penting sepanjang masa: hidup tidaklah bergantung pada kekayaan (Lukas 12:15). Orang kaya yang bodoh hidup di dunianya yang sempit yang terbatas pada dirinya. Hal-hal lain tidak penting baginya. Betapa perlunya kita berhati-hati supaya tidak jatuh ke dalam perangkap yang sama ini; hal ini penting khususnya bagi mereka yang telah diberkati dengan kelimpahan harta benda.

Walaupun kita semua suka menikmati hal-hal materi, pikirkanlah betapa kecil kepuasan akhir yang hal-hal itu dapat berikan kepadamu, apalagi dilihat dari sudut pandang kekekalan. Lalu mengapa masih begitu mudah untuk membuat kesalahan yang Yesus telah amarkan dalam Lukas 12:16-21?
Selasa 2 Juni

Bersedia dan Berjaga-jaga

“Berjaga-jaga dan kesetiaan diperlukan oleh pengikut-pengikut Kristus di setiap zaman; justru sekarang ini kita sedang berada sangat dekat dengan dunia yang kekal, memegang kebenaran yang kita miliki, memperoleh terang yang begitu besar, begitu pentingnya tugas, kita harus menggandakan kerajinan kita.”—Ellen G. White, Testimonies for the Church, vol. 5, pp. 460, 461.

Bacalah Lukas 12:35-53 dan rangkumkan arti ayat-ayat ini bagi anda khususnya, apalagi jika anda telah lama menunggu kedatangan Yesus yang kedua kali.

Orang Kristen tidak bisa menjadi kendur atau lesu. Dalam konteks kembali-Nya yang pasti, dan waktunya yang tidak diketahui, seharusnya mendorong kita untuk memiliki pinggang yang berikat dan pelita yang dijaga dan menyala. Harapan eskatologis harus menjadi pendorong kehidupan dan usaha kita, kesiapan dan kesetiaan kita. Kesetiaan yang demikian dalam melakukan kehendak-Nya di dunia dan kesiapan untuk bertemu dengan Dia dalam damai yang membedakan antara hamba yang baik dan yang jahat.

Setiap tindakan melalaikan kesetiaan seperti beralasan bahwa “Tuanku tidak datang-datang” (Lukas 12:45) sedang menempatkan seseorang di bawah bentuk pehukuman Allah yang paling berat (ayat 45-48). Semakin banyak diberi kesempatan semakin besar tanggung jawab, dan oleh karena itu, kepada siapa yang banyak dipercayakan, lebih banyak lagi yang diharapkan (ayat 48).

Hukuman nabi zaman dahulu “Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion” (Amos 6:1) nampaknya tercermin dalam amaran Kristus bahwa pemuridan Kristiani bukan berada pada keadaan yang nyaman. Paulus menjelaskan kehidupan Kristiani itu seperti halnya peperangan rohani (Ef. 6:12). Intinya adalah bahwa setiap orang Kristen terlibat dalam peperangan besar antara Kristus dan Setan, dan Salib telah memisahkan keduanya dengan jelas. Hanya dengan iman yang senantiasa di dalam Kristus yang di kayu salib seseorang dapat merebut kemenangan akhir.

“Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lukas 12:48). Apakah makna sesungguhnya dari ayat ini bagi kita sebagai umat Masehi Advent hari Ketujuh?
Rabu 3 Juni

Saksi Yang Berbuah
Allah Bapa, Allah Anak dan Roh Kudus, dalam dewan kekekalan mereka “sebelum dunia dijadikan” (Ef. 1:4), membuat rencana keselamatan itu. Yakni, bahkan sebelum manusia yang pertama dijadikan dan, tentunya, sebelum manusia yang pertama jatuh dalam dosa, Tuhan telah memiliki rencana yang pasti dalam menyelamatkan dunia. Rencana tersebut didasarkan di salib, dan kabar baik tentang salib harus diberitakan kepada semua orang di dunia. Tanggung jawab atas kesaksian itu diletakkan pada semua orang Kristen.

“Dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis. 1:8). Perintah Yesus yang terakhir ini menggarisbawahi kepentingan yang Yesus telah letakkan pada peran bersaksi dari para pengikut-Nya.

Apakah pelajaran yang harus dipelajari bagi mereka dalam kesaksian Kristiani dari perumpamaan penabur dan tanah itu? Lukas 8:4–15.

Apakah dan kapankah upah kepada mereka yang bersaksi?
Lukas 18:24–30.

Apakah yang perumpamaan tentang uang mina (Lukas 19:11-27) ajarkan mengenai kesetiaan dan tanggung jawab dalam bersaksi?

Dalam setiap ayat-ayat ini, dan yang lainnya, bahaya, tanggung jawab, dan upah dari bersaksi dan iman dinyatakan. Kita telah dibebankan dengan tanggung jawab yang kudus; tetapi mempertimbangkan apa yang kita telah peroleh, betapa kecil sebenarnya yang dimintakan dari kita?

Kamis 4 Juni

Pemimpin Yang Melayani

Bacalah Lukas 22:24-27. Bahkan sementara murid-murid bersiap untuk Paskah, mereka berdebat tentang siapa di antara mereka yang terbesar dalam kerajaan-Nya. Bagaimanakah Yesus merespon kebodohan mereka, dan apakah yang sangat berbeda dengan jawaban-Nya?

Jawaban Yesus adalah jawaban yang sangat berbeda dalam sejarah kepemimpinan. Firaun, Nebukadnezar, Alexander, Yulius Sesar, Napoleon dan Jengis Khan semua mereka melihat kepemimpinan dalam arti kekuasaan dan otoritas terhadap orang lain. Demikianlah kira-kira bagaimana yang dunia telah selalu upayakan akan kekuasaan.

“Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan” kata Yesus, “yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan” (Lukas 22:26). Dengan berkata demikian, Tuhan atas jagat raya memutar balikkan definisi kepemimpinan: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat. 20:26-28).

Dengan demikian mendefinisikan pelayanan dan penyangkalan diri sebagai prinsip utama dari cara dan kepemimpinan-Nya, Yesus memperkenalkan suatu dinamika yang baru terhadap hubungan antar manusia: kepuasan bukan dari kekuasaan melainkan dari pelayanan; kepemimpinan mendapatkan ororitasnya bukan dari posisi melainkan dari pelayanan; perubahan tidak dimulai dari takhta, melainkan dari salib. Hidup untuk mati (Yohanes 12:24).

Dalam Lukas 9:46-48 sesuatu yang sama muncul di antara murid-murid Yesus tentang siapa yang terbesar. Prinsip-prinsip duniawi masih mengakar sangat kuat di benak para murid-Nya.

Jawaban Tuan langsung mengena pada inti masalah dan memiliki salah satu tantangan terberat dalam kehidupan secara umum dan dalam kehidupan Kristen secara khusus. Kata-kata Yesus, khususnya pada bagian tentang menjadi “terkecil di antara kamu”(ayat 48) benar-benar menunjukkan betapa terbaliknya prioritas-prioritas dunia.

Dengan prinsip-prinsip dunia yang benar-benar bertentangan dari yang Yesus ajarkan di sini, bagaimanakah kita dapat bertahan jika kita menerapkan prinsip-prinsip-Nya di dalam kehidupan kita sendiri?

Jumat 5 Juni

Pendalaman:

“Siapakah yang telah memiliki hati kita? Darihal siapakah yang kita pikir-pikirkan? Tentang siapakah yang kita senang bicarakan? Siapakah yang menerima kasih-sayang dan tenaga kita yang terbaik? Jika kita adalah milik Kristus maka pikiran-pikiran kita pun padaNya, dan pikiran-pikiran kita yang paling indah juga padaNya. Semua yang ada pada kita diserahkan padaNya. Kita ingin memperoleh gambaran petaNya, menafaskan rohNya, melakukan kehendakNya,
dan memperkenankan Dia di dalam segala sesuatu.”—Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hal. 49.

“Dalam kehidupan kita ini, di dunia, meskipun terbatas karena dosa, sukacita terbesar dan pendidikan tertinggi adalah dalam pelayanan. Dan dalam kehidupan nanti, tanpa dihalangi keterbatan manusia berdosa, adalah dalam pelayanan terdapat sukacita kita yang terbesar dan pendidikan kita tertinggi—menyaksikan, dan selama-lamanya ketika kita menyaksikan pelajaran baru ‘betapa kaya dan mulianya rahasia itu;’ ‘yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.’ Colossians 1:27.”—Ellen G. White, Education, p. 309.
Pertanyaan Untuk Didiskusikan:

Yesus menyebut petani yang kaya dan berhasil itu orang bodoh (Lukas 12:20). Seorang dapat saja tidak kaya atau berhasil, tapi apakah yang membuat seorang itu bodoh dalam pandangan Allah?

Di beberapa gereja kita, kita melihat dua kelompok: pertama, para profesional, eksekutif bisnis, tokoh-tokoh gereja dan masyarakat, dan orang-orang berpengaruh, semua mereka yang mendapat kehormatan, perhatian dan dipandang; kedua, mereka yang diam dan bukan orang penting yang hanya datang dan pergi tanpa ada orang yang pedulikan mereka. Apa yang dapat anda lakukan untuk membuat mereka yang kedua juga merasa penting seperti kelompok yang pertama?

Walaupun mudah sekarang ini untuk menertawakan orang Farisi karena cara mereka menyelewengkan iman, bagaimana kita dapat memastikan bahwa kita, yang bertekun demi iman, tidak berada dalam bahaya melakukan kesalahan yang sama? Bagaimana teguh kita berdiri untuk apa yang benar dengan tidak menjadi orang Farisi? Atau, bahkan lebih penting lagi, bagaimana kita menentukan apa yang benar dan apa yang patut diperjuangkan, sebagai lawan dari “mencari kutu”?

Bagaimanakah kita memelihara sikap yang berjaga-jaga dan bersedia bagi kedatangan Yesus ketika, dengan setiap berlalunya tahun, akan lebih mudah dan semakin mudah untuk menjadi kurang berjaga-jaga?