Renungan Harian “Allahku yang Ajaib” 01 Mei 2015

01 Mei, 2015

Berbicara dengan Orang Idiot

 

 

“Firman-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah bercerita tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan tidak kuketahui” (Ayub 42: 3).

               Menulis renungan yang difokuskan pada makhluk, sistem, dan proses saat Allah menciptakan, adalah pekerjaan yang menciutkan hati dan pergumulan. Karena Tuhan memiliki beraneka ragam ciptaan yang tak habis-habisnya untuk dipelajari. Keindahan dan kayanya ciptaan yang jenius dan kompleks tampaknya tak terduga daya tariknya, memesona, mengagumkan, dan mengajarkan kita banyak hal tentang Sang Pencipta. Tetapi meskipun kita tahu atau kita pikirkan banyak tentang satu topik, namun dibandingkan dengan fakta yang ada maka pengetahuan kita itu sangat terbatas. Di akhir kehidupan filsuf, astronom, matematikawan, dan fisikawan terkenal, Sir Isaac Newton mengatakan: “Saya tidak tahu bagaimana saya dapat hadir di dunia ini, karena saya tampaknya hanya seperti anak laki-laki kecil yang bermain di pantai, dan berusaha mencari kerikil yang lebih halus atau kerang yang lebih cantik dari yang biasanya, sementara samudera kebenaran yang sangat luas masih terbentang di hadapan saya.”

            Salah satu hal yang selalu saya katakan kepada pengikut kelas perkuliahan saya pada awal setiap semester, bahwa biologi adalah disiplin ilmu sulit dan terus berubah. Ahli biologi melakukan yang terbaik untuk memahami kehidupan – sebagai sistem paling menakjubkan dan kompleks yang dikenal untuk kemanusiaan. Saya menjelaskan kepada mereka bahwa setengah dari konsep yang akan kami pelajari sepanjang semester cukup akurat dan memiliki pemahaman yang benar, dan setengahnya adalah kesalahpahaman yang salah . satu-satunya masalah bagi saya adalah manakah dari dua kemungkinan di atas.

                  Realitas itu seharusnya tidak mencegah saya untuk mempelajari segala sesuatu yang bisa saya pelajari. Namun, saya harus teguh dan terus menerus mempertahankan roh mau diajar dalam diri saya. Saya dapati, ketika saya dan para sejawat saya makin banyak tahu suatu pengetahuan, maka semakin kami sadari betapa masih rendahnya pengetahuan yang kami miliki. Seorang pengkhotbah dengan agak berhumor menekankan konsep ini saat ia katakana, “Ketika saya berkata kepada kepada diri saya sendiri bahwa saya mengerti semua yang telah terjadi, maka saya harus mengingatkan diri saya, Engkau berbicara dengan orang idiot!” Seringkali kerendahan hati yang berbasis realitas seperti itu bersandar kepada informasi yang dangkal. Salah seorang orang Kristen mula-mula yang paling berpengaruh, Augustine, Uskup Hippo Regius, mengatakan begini: “Apakah Anda ingin naik? Mulailah dengan menurun. Bila Anda merencanakan sebuah menara yang akan menembus awan, maka pertama-tama adalah letakkan dasar kerendahan hati.”

              Tuhan semua orang, baik orang bijak dan orang bodoh, banyak hal yang terlalu menakjubkan bagi saya untuk saya pahami. Biarlah itu membuat saya tetap rendah hati dan mengarah kepada-Mu.