Pelajaran Sekolah Sabat Ke-8 (16-22 Mei 2015)

 

Pelajaran 8

* 16 – 22 MEI

 

Misi Yesus

SABAT PETANG

Untuk Pelajaran Pekan Ini, Bacalah: Luk. 15:4-7, 11-32; Luk. 16:19-31; 18:35-43; 19:1-10.

AYAT HAFALAN: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Bila kita ingin menulis pernyataan misi untuk Yesus, kita tidak dapat membuat sesuatu yang lebih baik daripada mengulangi kata-kata-Nya sendiri: “Untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.” Apakah yang hilang? Manusia itu sendiri, yang telah terasing dari Allah, sa­saran kematian, dan dipenuhi ketakutan, kekecewaan, dan keputusasaan. Jika tidak ada yang dilakukan demi kita, semua manusia akan hilang.

Berterimakasihlah kepada Yesus, bagaimanapun, kita semua telah memiliki alasan kuat untuk berharap.

“Di dalam kemurtadannya manusia memang menjauhkan dirinya dari Tu­han; dunia tercerai dari surga. Antara jurang yang memisahkan itu tidak ada hubungan. Tetapi melalui Kristus dunia kembali dijembatani dengan surga. Dengan jasa-Nya sendiri, Kristus telah menjembatani jurang yang dibuat oleh dosa,…Kristus menghubungkan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa dan dalam kelemahan serta keadaan tanpa daya itu dengan Sumber kuasa yang ti­ada batasnya.'” Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 20, 21.

Dari Kejadian sampai Wahyu, Alkitab adalah kisah Allah mencari umat ma­nusia yang hilang. Lukas menggambarkan kebenaran ini dengan menggunakan tiga perumpamaan penting: domba yang hilang (Lukas 15:4-7), dirham yang hilang (ayat 8-10), dan anak yang hilang (ayat U-32).

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat, 23 Mei.

 

Minggu 17 Mei

Domba yang Hilang dan Dirham yang Hilang

Bacalah Lukas 15:4-7. Apakah yang ayat-ayat ini katakan kepada kita mengenai kasih Allah bagi kita? Mengapakah penting untuk memahami bahwa gembalalah yang pergi mencari domba yang hilang?

Lukas 15:4-7

15:4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?

15:5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira,

15:6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan.

15:7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

 

Di dunia yang dapat muncul sikap tidak peduli dan acuh tak acuh kepada kita, perumpamaan ini mengungkapkan kebenaran yang mengejutkan: Allah begitu me­ngasihi kita sehingga Dia sendiri yang akan datang kepada kita, untuk membawa kita kepada-Nya. Kita sering berbicara tentang manusia yang mencari Allah; pada kenyataannya. Aliahlah yang mencari kita.

“Jiwa yang telah menyerahkan dirinya kepada Kristus lebih berharga pada pe- mandangan-Nya daripada segenap dunia. Juruselamat mau mengalami penderitaan di Goigota agar seorang dapat diselamatkan dalam kerajaan-Nya. la tidak pernah akan meninggalkan seseorang yang baginya la telah mati. Kecuali para pengikut- Nya memilih meninggalkan Dia, Ia akan memegang mereka erat-erat.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega. jld. 6, hlm. 98.

 

Bacalah Lukas 15:8, 9. Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Lukas. Dir­ham yang hilang dapat memiliki satu dari dua penafsiran. Pertama, di Yudea pada zaman Yesus penuh dengan orang miskin, dan di kebanyakan rumah tangga satu dirham (,drahma) dapat bernilai lebih dari upah sehari, hampir tidak cukup untuk menjauhkan keluarga dari kelaparan. Kedua, sebagai tanda dari yang telah me­nikah, beberapa wanita mengenakan hiasan kepala yang terdiri dari sepuluh dir­ham—suatu jumlah yang besar, disimpan untuk waktu yang lama bagi keluarga yang miskin.

 

Dalam kedua situasi itu, kehilangan adalah masalah yang serius. Sehingga, wanita ini, benar-benar hancur dan berada dalam kesedihan yang mendalam, me­nyalakan pelita (rumahnya barangkali tidak memiliki jendela atau mungkin hanya sebuah jendela kecil), mengambil sapu. dan menggeledah rumahnya sampai dia menemukan dirham itu. Jiwanya dipenuhi sukacita yang meluap-luap, dan luapan sukacitanya memenuhi semua sahabat-sahabatnya.

“Dirham itu, walau terletak di tengah debu dan sampah, adalah tetap sekeping uang perak. Pemiliknya tetap mencarinya sebab nilainya. Demikianlah setiap jiwa, betapapun direndahkan oleh dosa, dalam pemandangan Allah terhitung berharga. Sebagaimana dirham itu membawa gambaran serta keterangan dari pemerintah­an yang berkuasa, begitulah manusia pada waktu penciptaan membawa gambaran serta keterangan mengenai Allah; dan sekalipun sekarang dikaburkan dan dikotori perantaraan pengaruh dosa, bekas-bekas tulisan masih tetapi terdapat pada setiap jiwa.”—Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi. hlm. 145.

 

Begitu banyak pengetahuan dan filsafat modern mengatakan kepa­da kita bahwa kita tidak lain hanyalah ciptaan yang secara kebetulan di alam semesta yang tidak berarti dan tidak peduli sama sekali pada kita atau nasib kita. Apakah pandangan yang benar-benar berbeda yang dibe­rikan dalam kedua perumpamaan ini?

 

SENIN 18 MEI

Anak yang Hilang(Bagian 1)

 

Dianggap sebagai cerita pendek terindah dalam sejarah yang pernah dicerita­kan tentang sifat kasih yang memaafkan, perumpamaan tentang anak yang hilang (Lukas 15:11-32), hanya dikisahkan oleh Lukas, dapat juga disebut perumpamaan mengenai bapa yang mengasihi dan dua anak yang hilang. Anak yang satu memi­lih jalan tidak menurut di negeri seberang jauh dari kasih bapanya. Yang satunya memilih tinggal di rumah tetapi tidak memahami sepenuhnya kasih bapanya atau arti seorang kakak. Perumpamaan ini dapat dipelajari dalam tujuh bagian, empat bagian berhubungan dengan anak yang hilang, dua bagian dengan bapanya, dan satu bagian dengan kakaknya.

  1. “Berikanlah kepadaku”(Lukas 15:12). Keputusan anak bungsu meminta ke­pada bapanya bagian hartanya bukan terjadi tiba-tiba, dorongan spontan. Dosa se­ringkah terjadi setelah dalam waktu yang lama memikir-mikirkan prioritas yang salah. Anak bungsu itu pasti sudah mendengar dari teman-temannya mengenai gegap gempita negeri yang jauh itu. Kehidupan di rumah terlalu ketat. Ada cinta kasih, tetapi memiliki batasan-batasannya sendiri; negeri yang jauh menawarkan kehidupan tanpa larangan. Sang bapa terlalu melindungi, cinta kasihnya terlalu mengikat. Anaknya menginginkan kebebasan, dan dalam upaya untuk bebas tanpa batas telah menjadi benih pemberontakan.
  2. “Kenapa saya?”(Lukas 15:13-16). Anak itu menjual seluruh bagiannya dan berangkat ke “negeri jauh.” Negeri yang jauh adalah suatu tempat yang jauh dari rumah bapanya. Mata kasih yang peduli, pagar pelindung hukum, pelukan kasih karunia yang selalu ada adalah asing di negeri jauh. Itulah negeri yang jauh dengan “hidup berfoya-foya” (Lukas 15:13). Kata Yunani untuk “berfoya-foya” (asolos) muncul tiga kali di tempat lain dalam Perjanjian Baru sebagai kata benda: mabuk (Ef. 5:18), hidup tidak tertib (Elus 1:6), dan hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu yang mencakup “keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan pe­nyembahan berhala yang terlarang (1 P/r 4:3. 4). Semacam Kesenangan hidup tak bertuhan menyia-nyiakan kesehatan dan kekayaannya, dan segera dia menjadi tidak ada uang, tidak ada teman, dan tidak ada makanan. Hidupnya yang gemerlap berakhir di selokan. Kelaparan sampai kepada titik melarat sama sekali, dia men­dapat pekerjaan menjaga babi, nasib yang kejam bagi seorang Yahudi.

 

  1. “Jadikanlah aku”(Lukas 15:17-19). Tetapi walaupun hilang ia adalah tetap seorang anak dengan kuasa memilih untuk kembali. Sehingga, anak itu “menyadari keadaannya” dan mengingat suatu tempat yang disebut rumah, seorang yang dike­nal sebagai bapa, sebuah ikatan hubungan yang disebut cinta kasih, la berjalan pulang ke rumah, dengan menggenggam sebuah perkataan, untuk bermohon ke­pada bapanya: “Jadikanlah aku.” Itu saja, jadikanlah aku sesukamu, dan izinkan aku berada didalam pengawasanmu yang penuh perhatian, di dalam pemeliharaan kasihmu. Rumah yang begitu baik di sana adalah hati sang ayah.

 

 

Dunia dapat kelihatan begitu memikat. Apakah hal-hal tertentu dalam dunia ini yang olehnya Anda tergoda, sehingga Anda menemukan diri Anda berpikir: “Oh, itu tidak begitu buruk,” padahai di lubuk hati Anda tahu kalau itu buruk?

 

Selasa 19 MEI

Anak yang Hilang (Bagian 2)

  1. Pulang ke rumah(Lukas 15:17-20) adalah jalan pertobatan. Perjalanan itu di­mulai “ketika ia menyadari keadaannya.” Pengakuan akan di mana dia berada, di­bandingkan dengan keadaan rumah bapanya, mendorong dia untuk “bangkit” dan “pergi” kepada bapanya. Anak yang hilang kembali ke rumah dengan empat po­tongan kalimat.

Pertama, ada penerimaan bapa sebagai “bapaku” (ayat 18). Anak yang hilang sekarang perlu bersandar dan percaya pada kasih dan pengampunan bapanya, sebagaimana kita harus belajar untuk percaya kepada Bapa kita di surga.

Kedua, pengakuan: apa yang dilakukan oleh anak yang hilang bukanlah suatu kesalahan pertimbangan, tetapi dosa terhadap Allah dan bapanya (ayal 18).

Ketiga, penyesalan: “Aku tidak layak lagi” (ayal 19). Pengakuan atas ketidakla- yakan seseorang, berbeda dengan kelayakan Allah, sangat penting untuk terjadinya pertobatan sejati.

Keempat, permohonan: “Jadikanlah aku” (ayal 19). Penyerahan kepada apa pun yang Tuhan kehendaki adalah tujuan pertobatan. Anak bungsu telah kembali.

  1. Ayah yang menantikan(Lukas 15:20, 21). Penantian dan perhatian, kesedihan dan harapan, dimulai pada saat anak yang hilang pergi dari rumah. Penantian ber­akhir ketika ayah itu melihatnya “masih jauh,” dan kemudian “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ay ahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan men­cium dia” (ayal 20). Tidak ada gambaran lain merekam tabiat Allah sebagaimana ayah yang menantikan ini. (Lukas /5:20. 21).
  2. Keluarga bergembira(Lukas 15:22 25). Ayah merangkul anaknya, memakai­kan kepadanya jubah yang baru, mengenakan cincin di jarinya dan sepatu di kaki­nya, dan menyuruh membuat pesta. Keluarga merayakannya. Jika meninggalkan rumah adalah kematian, kembalinya adalah kebangkitan, dan layak bersukacita. Anak itu memang hilang, tetapi dia tetap anak, dan ada sukacita di sorga untuk se­tiap anak yang bertobat (ayal 7).
  3. Anak yang sulung(Lukas 15:25-32). Anak bungsu hilang ketika dia melang­kah keluar dari rumah menuju ke negeri jauh; anak sulung hilang karena, walaupun dirinya di rumah, hatinya berada di negeri jauh. Seperti hati yang marah (ayal 28), mengeluh, dan merasa benar sendiri (ayal 29), dan menolak untuk mengakui sau­daranya. Sebaliknya, menyebutnya “anak bapa,” boros tidak karuan (ayat 30). Si­kap anak yang sulung kepada bapanya sama seperti sikap orang Farisi yang menu­duh Yesus: “la menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka” (ayal 2). Ucapan terakhir dari bapa pada anak sulungnya mencerminkan sikap sorga kepada semua orang berdosa yang bertobat: Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (ayat 32).

 

Tempatkanlah diri Anda pada posisi anak yang sulung. Walaupun pe­mikirannya salah, mengapakah begitu masuk “akal” sehingga dia merasa demikian? Bagaimanakah kisah ini mengungkapkan cara di mana Injil dapat melakukan melebihi apa yang “masuk akal”?

 

 

 

RABU 20 MEI

Kesempatan yang Hilang

Walaupun Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang dalam dosa, la tidak pernah memaksa siapa pun untuk menerima kese­lamatan yang Dia tawarkan. Keselamatan itu cuma-cuma dan tersedia bagi se­mua orang, namun seseorang harus menerima tawaran cuma-cuma ini dengan iman, yang menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Waktu yang kita miliki untuk mengalami hal ini hanyalah ketika kita hidup di dunia: tidak ada kesempatan yang lain.

 

Bacalah Lukas 16:19-31. Apakah pesan penting perumpamaan ini?

Lukas 16:19-31

16:19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

16:30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

 

 

Perumpamaan ini hanya terdapat dalam kitab Lukas, .dan ini mengajarkan dua kebenaran penting yang berhubungan dengan keselamatan: Pentingnya “hari ini” dalam proses keselamatan dan tidak adanya kesempatan lain untuk keselamatan setelah kematian.

Hari inilah hari keselamatan itu. Perumpamaan ini tidak mengajarkan bahwa ada dosa yang melekat dengan kekayaan atau kebaikan mutlak dengan kemis­kinan. Apa yang diajarkannya adalah bahwa kesempatan untuk diselamatkan dan hidup diselamatkan tidak bisa dilewatkan selagi kita berada di dunia ini. Kaya atau miskin, terpelajar atau tidak, berkuasa atau tidak, kita tidak memi­liki kesempatan ke dua. Semua orang diselamatkan dan dihakimi berdasarkan sikap mereka hari ini. sekarang, terhadap Yesus. “Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.” (2 Kor. 6:2).

Perumpamaan ini juga mengajarkan bahwa upah kekal tidak ada hubungan­nya dengan hal kepemilikan materi. Orang kaya itu “berpakaian jubah ungu dan kain halus” (Lukas 16:19) tetapi melewatkan ha! yang penting dalam ke­hidupan: Allah. Jika tidak mengakui Allah, sesama manusia tidak akan diper­hatikan. Dosa orang kaya ini bukan dalam kekayaannya, tetapi dalam kega­galannya menyadari bahwa keluarga Allah lebih besar daripada yang telah disiapkan untuk dia terima.

Tidak ada kesempatan kedua setelah kematian. Kebenaran kedua yang pasti yang Yesus ajarkan di sini adalah bahwa tidak adanya kesempatan kedua se­telah kematian. “Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kuli saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27). Hal lain dari perumpama­an ini adalah untuk menunjukkan kepada manusia bahwa kita telah diberikan bukti yang cukup sekarang ini, dalam kehidupan ini, untuk membuat pilihan secara sadar untuk atau melawan Allah. Setiap teologi lain yang mengajarkan semacam “kesempatan kedua” setelah kematian adalah penyesatan besar.

 

Kita senang membicarakan mengenai Allah sangat mengasihi kita dan semua yang telah Ia lakukan dan sedang lakukan untuk menyelamatkan kita. Jika demikian, apakah yang seharusnya diajarkan oleh perump­amaan ini, mengenai bahayanya sekadar menerima begitu saja kasih dan tawaran Allah akan keselamatan?

 

Kamis 21 Mei

Dulu Buta, Sekarang Melihat

Pernyataan misi Yesus bahwa Ia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang adalah suatu penegasan dari pelayanan yang holistik. la-datang untuk menjadikan pria dan wanita menjadi seutuhnya, mengubahkan mereka secara fisik, mental, rohani, dan sosial. Lukas memberikan kepada kita dua pe­ristiwa yang menggambarkan bagaimana Yesus memulihkan dua orang yang hancur menjadi seutuhnya. Seorang yang buta secara fisik, yang satunya se­cara rohani: kedua-duanya terbuang—yang satu seorang pengemis dan yang satunya seorang pemungut cukai. Tetapi kedua orang ini adalah calon-calon bagi misi penyelamatan Kristus, dan tak satu pun berada di luar hati atau jang- kauan-Nya.

 

Bacalah Lukas 18:35-43. Apakah yang diajarkan ayat ini mengenai ketergantungan kita sepenuhnya kepada Allah? Siapakah di antara kita yang tidak pernah berseru, “kasihanilah aku”?

Lukas 18:35-43

18:35 Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis.

18:36 Waktu orang itu mendengar orang banyak lewat, ia bertanya: “Apa itu?”

18:37 Kata orang kepadanya: “Yesus orang Nazaret lewat.”

18:38 Lalu ia berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

18:39 Maka mereka, yang berjalan di depan, menegor dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: “Anak Daud, kasihanilah aku!”

18:40 Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Dan ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya:

18:41 “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!”

18:42 Lalu kata Yesus kepadanya: “Melihatlah engkau, imanmu telah menyelamatkan engkau!”

18:43 Dan seketika itu juga melihatlah ia, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat melihat hal itu dan memuji-muji Allah.

 

Markus menyebut nama orang ini Bartimeus (Markus 10:46). Ia adalah se­orang pengemis di luar kota Yerikho. Seorang penyandang cacat, tidak memi­liki pengaruh sosial, dilanda kemiskinan, dengan tiba-tiba mendapati dirinya berada dalam jangkauan mukjizat sorga: “Yesus orang Nazaret lewat” (Lukas 18:37), dan imannya mendorongnya berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku” (ayat 39). Iman tidak membutuhkan mata atau kaki, atau tangan, tetapi hanya­lah hati yang terhubung kepada Pencipta dunia ini.

 

Bacalah Lukas 19:1-10. Siapakah orang “buta” dalam kisah ini?

Lukas 19:1-10

19:1 Yesus masuk ke kota Yerikho dan berjalan terus melintasi kota itu.

19:2 Di situ ada seorang bernama Zakheus, kepala pemungut cukai, dan ia seorang yang kaya.

19:3 Ia berusaha untuk melihat orang apakah Yesus itu, tetapi ia tidak berhasil karena orang banyak, sebab badannya pendek.

19:4 Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.

19:5 Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.”

19:6 Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sukacita.

19:7 Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: “Ia menumpang di rumah orang berdosa.”

19:8 Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

19:9 Kata Yesus kepadanya: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.

19:10 Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”

 

Hanya Lukas yang mencatat kisah Zakheus, pertemuan Yesus terakhir de­ngan orang-orang yang terbuang. Misi Kristus, mencari dan menyelamatkan yang hilang, digenapi dengan luar biasa dalam pertemuan-Nya dengan Zakhe­us. Zakheus adalah kepala pemungut cukai di Yerikho, kepala orang berdosa dalam penimbangan orang Farisi kota itu. tetapi kepala pendosa dicari dan diselamatkan oleh Juruselamat. Betapa Yesus menggunakan tempat dan cara yang asing untuk menyelesaikan misi-Nya. Sebatang pohon ara, seorang yang penuh rasa ingin tahu berusaha untuk melihat siapa Yesus itu, dan Tuhan yang mengasihinya menyuruh turun, karena Ia telah mengundang sendiri untuk pertemuan makan siang bersamanya. Tetapi yang lebih penting. Yesus mem­punyai pekabaran untuk dibawa: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini” (Lukas 19:9), tetapi tidak disampaikan sebelum Zakheus memper­baiki segala sesuatu (ayat 8).

Sangat mudah untuk melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, bukan? Namun kita dapat begitu sering buta bagi diri sendiri. Apakah bagian-bagian kehidupan Anda yang perlu Anda tolak, akui, dan me­nangkan atas apa yang telah Anda tunda begitu lama?

 

Jumat 22 Mei

 

 

Pendalaman: “Oleh domba yang tersesat Kristus menggambarkan bukan saja orang berdosa secara perorangan, tetapi satu dunia yang telah murtad dan telah dihancurkan oleh dosa.”—-Ellen G. White, Membina Kehidupan Abadi, hlm. 142.

Mengenai nilai satu jiwa: “Nilai satu jiwa. siapakah yang dapat menguku­rnya? Apakah engkau ingin mengetahui nilainya, pergilah ke Golgota [Getse- manij dan di sana perhatikanlah bersama-sama Kristus melalui jam-jam yang penuh sengsara, ketika la meneteskan keringat seperti keringat darah. Lihat­lah kepada Juruseiamat yang disalibkan…. Di kaki salib, dengan mengingat bahwa untuk satu orang yang berdosa Kristus mau menyerahkan nyawa-Nya, engkau dapat menaksir nilai satu jiwa.”—Hlm. 147

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Sementara semua agama menggambarkan manusia sedang men­cari Tuhan, Kekristenan menghadirkan Tuhan sebagai yang men­cari: Adam, “Di manakah engkau(Kej. 3:9)1 Kain, di mana adik­mu (Kej. 4:9)1 Elia, apakah kerjamu di sini (1 Raj. 19:9)’.’ Zakheus, turunlah (Lukas 19:5). Apakah pengalaman Anda sendiri dengan Tuhan yang mencarimu?
  2. Lihatlah kembali pertanyaan terakhir pada akhir pelajaran hari Selasa. Apakah kesalahan fatal yang dibuat oleh anak sulung itu? Apakah cacat rohani yang ditunjukkan dalam sikapnya? Menga­pakah lebih mudah memiliki sikap seperti itu daripada yang kita pikirkan? Lihat juga Matius 20:1-16.
  3. Dalam kisah orang kaya dan Lazarus, Yesus berkata bahwa ka­laupun ada seseorang datang dari kematian, akan ada orang yang tidak akan percaya. Dalam cara bagaimanakah perumpamaan ini meramalkan reaksi beberapa orang terhadap kebangkitan Yesus, di mana beberapa orang tetap tidak percaya meskipun ada bukti kuat kebangkitan-Nya?
  4. Salah satu aspek yang sangat berkesan dari pelayanan penyelamat­an Yesus adalah persamaan dalam memperlakukan semua orang, sebagaimana kepada pengemis yang buta dan Zakheus atau Ni- kodemus dan perempuan Samaria. Salib itu, lebih daripada yang lain, menunjukkan persamaan semua orang di hadapan Allah. Ba­gaimanakah kebenaran penting ini seharusnya berdampak dalam bagaimana kita memperlakukan orang-orang lain, bahkan kepa­da mereka yang—karena politik, budaya, etnis, apa pun itu—kita mungkin sebelumnya telah memiliki perasaan tidak enak? Menga­pa sikap seperti itu bertentangan dengan Yesus?
  5. Bandingkanlah kisah anak yang hilang dengan kisah orang kaya dan Lazarus. Bagaimanakah kedua kisah ini saling melengkapi?

Credit: Lanny Waworuntu Manaroinsong