Pelajaran Sekolah Sabat 2 – 8 Mei 2015

PARA WANITA DALAM PELAYANAN YESUS

Sabat Petang
Untuk Pelajaran Pekan Ini Bacalah: Lukas 1:39-55; 2:36-38; 7:11-17; 36-50; Roma 10:17; Lukas 8:1-3; 18:1-8
Ayat Hafalan: Galatia 3:26-28

Injil Lukas sering disebut “Injil Para Wanita” karena, lebih banyak dibanding Injil lain, Injil Lukas membuat penjelasan khusus akan kepedulian Yesus pada kebutuhan para wanita dan juga akan keterlibatan wanita dalam pelayananNya.
Pada zaman Yesus, sebagaimana di beberapa kebudayaan sekarang ini, wanita dipandang kurang berharga. Beberapa orang Yahudi pada waktu itu bersyukur kepada Tuhan sebab mereka tidak diciptakan sebagai seorang hamba, seorang bukan Yahudi, atau seorang wanita. Masyarakat Yunani dan Romawi sering memperlakukan wanita bahkan lebih buruk. Budaya Romawi mengembangkan sikap mengizinkan ketidaksopanan yang hampir tanpa batas. Seorang pria sering mengambil istri hanya untuk mendapatkan anak sah yang dapat mewarisi hartanya, dan memiliki beberapa gundik untuk kesenangan persundalannya sendiri.
Terhadap latar belakang para wanita diperlakukan dengan buruk seperti itu, Yesus membawakan kabar baik bahwa para wanita adalah, tentunya keturunan Abraham (lihat Lukas 13:16). Betapa senangnya para wanita mendengar hal tersebut saat itu, di dalam Yesus, mereka adalah anak-anak Allah dan memiliki persamaan nilai dengan laki-laki dalam pandangan Allah. Pekabaran hari ini kepada para wanita dari segala bangsa tetap sama: kita semua, pria dan wanita, satu di dalam Kristus Yesus.

Minggu, 3 Mei
Wanita yang Menyambut Kedatangan Yesus

Hanya Lukas yang mencatat reaksi dari para wanita terhadap keajaiban sejarah kosmik: bahwa Anak Allah mengambil rupa manusia untuk menyelesaikan misi penebusan BapaNya dan menggenapi harapan tentang Mesias dari umatNya. Walaupun para wanita ini tidak memahami sepenuhnya apa yang sedang terjadi, kata-kata dan reaksi mereka kepada peristiwa yang menakjubkan ini mengungkapkan iman dan ketakjuban mereka akan pekerjaan-pekerjaan Allah.
Bacalah Lukas 1:39-45, pertemuan antara Elisabet dan Maria. Apakah yang dikatakan Elisabet yang menunjukkan pengertiannya, walaupun terbatas, akan peristiwa besar yang akan terjadi?
Setelah Elisabet berbicara, Mari kemudia melanjutkan dengan kata-katanya sendiri (Lukas 1:46-55). Kata-kata ini sering dipahami sebagai sebuah nyanyian, yang penuh dengan bagian-bagian dari Perjanjian Lama, membutikan bahwa Maria adalah pelajar Kitab Suci yang setia dan dengan demikian cocok untuk Ibu Yesus. Nyanyian Maria berakar tidak hanya dalam Kitab Suci tetapi jauh di dalam hubungannya dengan Tuhan. Sebuah identitas muncul antara jiwanya dan Tuhannya, dan antara imannya dan pengharapan Abraham.
Bacalah Lukas 2:36-38. Apakah kebenaran penting yang diangkat dalam kisah Hana di Bait Suci ini?
Harapan yang ditunggu-tunggu mendapat penggenapan yang radikal di dalam Yesus. Seorang janda mengenal mukjizat ini, dan sejak itu misi yang harus dilakukannya adalah untuk memberitakan Juruselamat kepada semua mereka yang datang ke bait Allah. Dia ini menjadi penginjil wanita pertama mengenai kabar baik itu.
Cobalah bayangkan keheranan dan ketakjuban wanita-wanita ini saat peristiwa-peristiwa terbuka di sekitar mereka. Apakah yang dapat kita lakukan untuk menolong supaya di dalam hati kita tetap menyala keheranan dan ketakjuban dari kebenaran-kebenaran besar yang kita telah dipanggil untuk memberitakan?

Senin 4 Mei
Para Wanita dan Pelayanan Penyembuhan Yesus

Bacalah Lukas 7:11-17, kisah mengenai mukjizat di Nain. Wanita ini miskin dan janda, kini menghadapi satu lagi cobaan, kematian anak satu-satunya. Kerumunan besar pelayat bersama-sama dengan dia dalam acara pemakaman, sedang mengungkapkan belasungkawa dan simpati di depan umum. Kehilangan anak laki-laki satu-satunya dibarengi ketidakpastian kehidupan seorang diri di hari yang akan datang mengubah janda ini kepada gambaran kesedihan dan tanpa pengharapan.
Tetapi iring-iringan pemakakan yang akan keluar dari kota itu bertemu dengna iring-iringan lain yang sedang masuk. Di paling depan iring-iringan yang sedang keluar ada kematian dalam keranda; di paling depan iring-iringan yang sedang masuk ada kehidupan dalam keagungan sang Pencipta. Ketika iring-iringan ini bertemu, Yesus memandang janda itu, tanpa harapan dan penuh kesedihan. “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati_nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Jangan menangis’” (Lukas 7:13). Permintaan untuk jangan menangis tidak berarti apa-apa kalau itu bukan dari Yesus, Tuhan kehidupan. Karena di balik perintah “Jangan menangis”ada kuasa untuk menyingkirkan alasan mengapa dia menangis. Yesus menghampirinya, menyentuh keranda itu, dan menyuruh anak muda itu bangkit. Sentuhan itu dapat dianggap najis menurut adat (Bil. 19:11-13), tetapi bagi Yesus belas kasihan adalah lebih penting daripada aturan adat. Menjawab kebutuhan manusia adalah lebih mendesak daripada mengikut ritual belaka.
Kampung Nain bukan hanya menyaksikan mujizat besar tetapi juga mendapatkan pesan yang luar biasa: di dalam Yesus tidak ada perbedaan antara kepedihan emosional pria dan wanita. Dan kehadiranNya menenatang dan mengacaukan kuasa kematian.
Bacalah juga Lukas 8:41, 42, 49-56. Yairus adalah seorang yang berpengaruh—kepada sinagog, seorang petugas yang bertanggung-jawab atas urusan dan pelayanan di sinagog. Setiap hari Sabat ia akan memilih orang yang akan memimpin doa, membaca Alkitab, dan berkhotbah. Ia bukan saja seorang yagn istimewa dan berpengaruh tetapi juga kaya dan berkuasa. Ia mencintai anaknya dan tidak ragu-ragu mendekati Yesus untuk menyembuhkan anaknya.
Dalam kisah-kisah ini, kuasa kata-kata Yesuslah yang membawa anak lelaki yang telah meninggal kembali kepada ibunya dan anak perempuan yang telah meninggal kembali kepada ayahnya. Pikirkan tentang bagaimana luar biasanya tindakan ini bagi mereka yang telah melihatnya, teristimewa bagi orang tuanya. Apakah yang kisah ini katakana kepada kita mengenai kuasa Allah? Apa yagn kisah ini katakan kepada kita mengenai betapa terbatasnya kita dalam memahami kuasa itu (bagaimana pun juga, ilmu pengetahuan saat ini tidak memiliki petunjuk mengenai bagaimana ini dapat terjadi). Yang paling penting, meskipun demikian, apakah yang harus kita lakukan untuk belajar percaya dalam kuasa ini, dan kebaikannya Tuhan yang menggunakannya, bagaimana pun keadaan kita sekarang?

Selasa 5 Mei
Wanita yang Bersyukur dan Beriman

Dalam Lukas 7:36-50, Yesus mengubah acara jamuan menjadi suatu peristiwa rohani penting yang memberikan martabat bagi seorang wanita berdosa. Simon, seorang terpandang, seorang Farisi, mengudang Yesus untuk makan. Para undangan sudah duduk, terjadi gangguan secara tiba-tiba. “di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa” (ayat 37) bergegas langsung menuju Yesus, memecahkan buli-buli pualam berisi minyak wangi yang sangat mahal, menuangkan urapannya kepadaNya, sujud menyembah di kakiNya, dan membasuhnya dengan air matanya.
Apakah pelajaran yang dapat kita ambil dari tuangan penuh syukur wanita ini dan penerimaan Yesus akan tindakan imannya?
“Bila pada pandangan mata manusia perkaranya kelihatan tanpa harapan, Kristus melihat dalam Maria kesanggupan bagi kebaikan. Ia melihat sifat-sifat tabiatnya yang lebih baik. Rencana penebusan telah memberikan kepada manusia kemungkinan yang besar, dan kepada Maria kemungkinan itu akan diwujudkan. Oleh anugerahNya ia turut mengambil bagian dari sifat Ilah, … Marialah yang mula-mula memasyurkan Juruselamat yang sudah bangkit itu.” – Ellen White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 188 – 190.
Dalam Lukas 8:43-48, sebuah kasus keadaan yang paling buruk berubah menjadi tujuan Juruselamat yang paling terhormat. Sekian lama, wanita ini mengalami penyakit yang tidak dapat disembuhkan yang telah menghancurkan tubuh dan jiwanya. Namun, di tengah-tengahtragedi yang telah 12 tahun ini, secercah harapan tiba-tiba muncul di situ: “Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus” (Markus 5:27).
Apakah yang telah didengarnya? Sedikit atau banyak, kita tidak tahu. Tetapi dia tahu bahwa Yesus peduli dengan orang miskin: Dia merangkul orang yang terbuang; Dia pedulikan mereka yang putus asa, di antaranya adalah wanita ini. Tetapi mendengar saja tidak cukup; mendengar harus menuntun kepada iman (Roma 10:17). Dengan iman itu menuntunnya kepada tindakan sederhana menjamah ujung jubahNya. Sentuhan itu terdorong oleh iman, memiliki tujuan, mujarab, dan berfokus kepada Kristus. Hanya iman seperti itu dapat menerima ucapan berkat dari pemberi hidup: “Imanmu telah menyelamatkan engkau” (Lukas 8:48).
Sangat mudah untuk memandang orang dan menghakimi mereka, bukan? Bahkan jika kita sering tidak mengucapkannya, di dalam hati kita menghakimi mereka, hal itu juga salah. Bagaimanakah kita dapat belajar untuk berhenti menghakimi orang lain, sekalipun dalam hati, siapa tahu kita berada dalam situasi mereka, apakah yang akan kita buat?

Rabu 6 Mei
Beberapa Wanita yang Mengikuti Yesus

Bacalah Lukas 10:38-42. Apakah kebenaran rohani penting yang dapat kita Tarik dari kisah ini (lihat juga Lukas 8:14) untuk diri kita sendiri?
Sebagai petugas untuk menjamu tamu-tamu, Marta “sibuk sekali melayani” (Lukas 10:40) dan sibuk memberikan yang terbaik bagi tamu-tamunya. Tetapi Maria “duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya” (ayat 39). Begitu sibuk sehingga Martha mengeluh kepada Yesus bahwa dia dibiarkan untuk melakukan pekerjaan berat sendirian. Walaupun Yesus tidak menegur Martha karena kesibukannya melayani, Dia menunjukkan perlunya prioritas yang tepat dalam kehidupan. Persekutuan dengan Yesus adalah yang pertama penting dalam pemuridan; makan dapat menyusul.
“Pekerjaan Kristus memerlukan pekerja-pekerja yang teliti dan bersemangat. Banyak bidang pekerjaan yang luas bagi kau Martha, dengan semangat mereka dalam pekerjaan agama yang giat. Tetapi biarlah mereka duduk dengan Maria lebih dulu di dekat kaki Yesus. Biarlah kerajinan, ketangkasan, dan tenaga mereka disucikan oleh anugerah Kristus, dengan demikian kehidupan akan menjadi suatu kuasa yang tidak terkalahkan bagi kebaikan.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 143.
Bacalah Lukas 8:1-3; 23:55, 56; 24:1-12. Apakah yang ayat-ayat ini ajarkan mengenai peranan wanita dalam pelayanan Kristus?
Ketika pelayananNya semakin luas, Yesus “berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa, memberitakan” dan mengajar (Lukas 8:1), dengan kedua belas murid bersama-sama dengan Dia. Lukas juga mencatat kesaksian yang berkuasa oleh beberapa wanita tertentu yang Yesus telah sembuhkan, yang tersentuh oleh khotbahNya, dan orang-orang kaya, juga mengikut Dia dalam pelayananNya yang semakin besar. Berikut ini ada beberapa yang Lukas sebutkan: (1) Beberapa orang perempuan tertentu yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat, termasuk Maria Magdalena; (2) Yohana, istri Khuza, bendahara Herodes; (3) Susana; (4) “Banyak perempuan lain… melayani rombongan itu” (ayat 3).
Ketika kita mengerti bahwa Yesus mati bagi setiap manusia, kita dapat lebih memahami kesetaraan sejati setiap orang di hadapan Allah. Seberapa baikkah kita merefleksikan kebenaran ini dalam sikap kita terhadap orang lain? Artinya, bagaimanakah Anda mungkin cenderung meremehkan orang lain yang terkadang kurang layak dibandingkan dengan diri Anda sendiri?

Kamis 7 Mei
Bertekun dalam Doa, Berkorban dalam Memberi

Lukas menunjukkan bahwa Yesus berpaling kepada kedua janda untuk mengajarkan kebenaran rohani yang penting.
Pada peristiwa pertama (Lukas 18:1-8), Yesus merasa iba kepada seorang janda yang malang dan tidak berdaya yang datang kepada seorang hakim yang berkuasa dan tidak takut akan Allah dalam usahanya untuk memperoleh keadilan. Perempuan ini adalah korban ketidak-adilan dan kecurangan, namun, dia percaya aturan hukum dan keadilan. Tetapi hakim itu “tidak takut akan Allah” dan “tidak menghormati seorang pun,” jadi jelas dia tidak peduli untuk menolong janda ini. Memperhatikan janda-janda adalah syarat Alkitabiah (Kel. 22:22-24; Mzm. 68:6; Yes. 1:17), tetapi hakim ini dengan seenaknya mengabaikan Hukum Taurat. Namun, janda ini mempunyai satu senjata, ketekunan, dan dia menggunakannya terus-menerus menghadap hakim dan mendapatkan keadilannya.
Perumpamaan ini mengajarkan kepada kita tiga pelajaran penting: (1) Tetaplah berdoa dan tidak pernah patah semangat (Lukas 18:1), (2) Doa mengubah banyak hal—bahkan hati seorang hakim yang jahat, dan (3) Iman yang gigih adalah iman yang menaklukkan. Iman sejati memiliki nasihat yang abadi kepada setiap orang Kristen: pantang menyerah, walaupun artinya harus menunggu penjelasannya ketika “Anak Manusia itu datang” (ayat 8).
Pada peristiwa kedua (Lukas 21:1-4; Markus 12:41-44), tidak lama setelah Yesus selesai mencela kemunafikan beragama dan tuntutan ahli-ahli Taurat dan para pemuka di sekitar bait Allah yang Dia kemudia menunjukkan perbedaan mencolok kepada mereka, seorang janda miskin yang mengungkapkan sfat agama yang sejati.
Yesus menggambarkan beberapa pemimpin agama sebagai orang yang “menelan rumah janda-janda” (Lukas 20:47) dan yang melanggar amanat Alkitabiah untuk memperhatikan janda-janda dan orang miskin. Sebagaimanan dewasa ini, ada banyak orang memberi supaya kelihatan saleh saja; dan parahnya apa yang mereka berikan diberikan dari kelebihan kekayaan mereka. Pemberian mereka betul-betul tanpa diliputi pengorbanan pribadi. Sebaliknya, Yesus menyuruh kepada murid-muridNya memandang kepada janda itu sebagai contoh agama sejati karena dia memberi seluruh yang dimilikinya.
Pamer adalah motivasi dari kelompok yang pertama; berkorban dan kemuliaan Allah adalah motivasi janda itu. Untuk mengakui kepemilikan Tuhan atas segala yang dia miliki dan untuk melayaniNya dengan segala yang dia miliki itulah semangat yang menggerakkan janda itu dalam memberikan dua peser uangnya. Apa yang diperhitungkan di hadapan mata Pencipta yang dapat melihat segala sesuatu bukan apa yang kita berikan tetapi alasan kita memberi; bukan seberapa banyak yang kita berikan tetapi berapa ukuran pengorbanan kita.
Berapa banyakkah yang Anda korbankan untuk kebaikan orang lain dan demi Tuhan?

Jumat 8 Mei
Pendalaman

Dia “yang mengingat ibuNya ketika sedang tergantung dalam penderitaan di atas kayu salib; yang menampakkan diri kepada wanita-wanita yang sedang menangis dan menjadikan mereka jurukabarNya untuk menyampaikan kabar kesukaan pertama dari Juruselamat yang telah bangkit—sekarang ini Dia adalah sahabat dekat dan bersedia menolong mereka dalam segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan.”—Ellen G. White, The Adventist Home, hlm. 204
“Allah memiliki pekerjaan bagi wanita demikian juga pria. Mereka dapat mengambil tempat dalam pekerjaanNya pada krisis ini, dan Dia akan bekerja melalui mereka. Jika mereka dipenuhi dengan rasa tanggung-jawab, dan bekerja di bawah pengaruh Roh Kudus, mereka akan memiliki penguasaan diri yang diperlukan saat ini. Juruselamat akan merefleksikan kepada para wanita yang mengorbankan diri ini, sinar kemuliaan wajahNya, dan akan memberikan kepada mereka kekuatan yang melampaui para pria. Mereka dapat melakukan pekerjaan yang pria tidak dapat lakukan dalam keluarga, pekerjaan yang dapat menjangkau sampai kepada kehidupan batiniah. Mereka dapat datang mendekati hati mereka yang pria tidak dapat. Tenaga mereka dibutuhkan.” –Ellen G. White, Evangelism, hlm. 464, 465.
Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan
1. Salah satu aspek yang paling menarik dari Injil, termasuk Lukas, menyangkut peranan wanita dalam hal kebangkitan Yesus. Semua kisah Injil ada para wanita sebagai yang pertama melihat Kristus bangkit dan memberitakan kebangkitanNya kepada orang lain. Pembela-pembela Alkitab telah menggunakan fakta ini untuk membantu menegaskan realitas kebangkitan tubuh Yesus, yang berapa orang sangkal dan pertanyakan. Mengapa peranan wanita di sini menjadi begitu penting? Karena jika, sebagaimana beberapa pernyataan, kisah kebangkitan Yesus adalah rekayasa para penulis, mengapa mereka menempatkan wanita, yang tidak begitu dihargai oleh masyarakat itu, sebagai yang pertama melihat dan memberitakan Yesus? Jika mereka mengarang cerita supaya berusaha membuat orang-orang saat itu percaya, mengapa menggunakan para wanita gantinya pria? Diskusikanlah.
2. Dalam masyarakat yang tidak selalu mengakui martabat wanita, Yesus memberikan kepada mereka kedudukan milik mereka dalam tatanan penciptaan Allah: mereka adalah anak-anak Allah, anak-anak Abraham, dan setara dengan pria dalam era baru Injil. Saat yang sama, walaupun sama di hadapan Allah, pria dan wanita tidaklah sama. Bagaimana kita menegaskan kesetaraan pria dan wanita di hadapan Allah dan meskipun saat yang sama meneguhkan dan mengakui perbedaannya, dan bagaimanakah perbedaan itu berperan dalam kehidupan jemaat?