Pelajaran 7 Sekolah Sabat 9-15 Mei 2015

PELAJARAN 7:   9-15 MEI

 

YESUS, ROH KUDUS, DAN DOA

 

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: LUK. 2:25-32; YOH.16:5-7; LUK. 23:46; LUK. 11:1-4; MAT. 7:21-23; LUK. 11:9-13.

AYAT HAFALAN: “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat, dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” (Lukas 11:9,10).

Dari ketiga injil sinoptis, Lukas lebih sering berbicara dibanding yang lain mengenai hubugnan Yesus dengan Roh Kudus. Sementara Matius merujuk Roh Kudus 12 kali dan Markus enam kali. Lukas memiliki 17 rujukan dalam Injilnya dan 57 dalam kitab Kisah. Dari pembuahan Yesus menjadi manusia (Lukas 1:35) sampai kepada penegasan perintah misi sedunia-Nya (Lukas 24:44-49), Lukas melihat hubungan penting antara Yesus dan Roh Kudus. Hubungan itulah dasar untuk memahami pelayanan Juruselamat kita. Demikian juga, Lukas menunjukkan pentingnya berdoa dalam kehidupan dan misi Yesus. Sepenuhnya Ilahi, setara dengan Bapa dan Roh, Yesus dalam kemanusian-Nya meninggalkan kepada kita teladan dalam hal berdoa.

            JIka Yesus melihat kebutuhan berdoa, betapa lebih wajib kita membutuhkannya?

            “Tanpa doa yang tekun dan tetap maka kita berada di dalam bahaya semakin kurang berhati-hati dan menyimpang dari jalan kebenaran. Setan selalu berusaha terus menghalang-halangi jalan menuju takhta kemurahan itu, supaya kita tidak dapat bermohon yang sungguh-sungguh dalam iman memperoleh anugerah dan kuasa melawan pencobaan.”—Ellen G. White, Kebahagiaan Sejati, hlm. 107.

 

MINGGU: 10 MEI

Yesus dan Roh Kudus

            Sebagai seorang bukan Yahudi yang bertobat dan rekan misionaris Rasul Paulus, Lukas melihat masuknya keseluruhan Kristologi ke dalam sejarah—dari penjelmaan Yesus sampai kepada kenaikan-Nya dan sampai kepada tersebarnya jemaat itu—sebagai suatu keajaiban Ilahi dan dituntun oleh Roh Kudus. Di dalam kehidupan Yesus kita melihat keseluruhan Keallahan bekerja dalam penebusan kita (Lukas 3:21,22); dan, melalui rujukan-rujukannya yang terus menerus kepada Roh Kudus, Lukas menekankan hal ini.

            Apakah yang ayat-ayat berikut ini katakan kepada kita mengenai peran Roh Kudus mengenai kedatangan Kristus di dunia dalam tubuh manusia? Lukas 1:35, 41; 2:25-32.

            Misi Yesus dimulai dengan beberapa rujukan kepada Roh Kudus. Menurut Lukas, Yohanes Pembaptis meramalkan bahwa dia membaptis dengan air, namun Ia yang akan datang akan membaptis dengan Roh (Lukas 3:16). Pada waktu baptisan Yesus, baik Bapa dan Roh Kudus menegaskan keabsahan dari misi penebusan-Nya. Allah Bapa menyerukan dari atas bahwa Kristus adalah Anak yang dikasih-Nya dalam bentuk seekor merpati (Lukas 3:21,22). Sejak saat itu Yesus “penuh dengan Roh Kudus” (Lukas 4:14).

            Kata-kata pendahuluan dari khotbah-Nya di Nazaret adalah aplikasi nubuatan Mesianik Yesaya mengenai Diri-Nya: “Roh Tuhan ada pada-Ku” (ayat 18). Roh itu adalah pasangan-Nya tersu-menerus, kekuatan yang meneguhkan-Nya, kehadiran yang tetap di antara pengikut-pengikut-Nya ketika Yesus tidak lagi berada di tengah-tengah mereka (Yohanes 16:5-7). Bukan itu saja, Yesus berjanji bahwa Allah akan memberikan karunia Roh kepada mereka yang meminta (Lukas 11:13). Roh yang pernah menghubungkan Kristus kepada Bapa-Nya dan misi penebusan itu adalah Roh yang sama yang akan meneguhkan murid-murid dalam perjalanan iman mereka. Oleh karena itu, pentingnya Roh itu dalam kehidupan Kristiani yang utama: sesungguhnya, menghujat Roh Kudus adalah yang paling berat dari semua dosa (Lukas 12:10).

            Apakah wujud nyata, cara-cara praktis kita dapat membuka diri kita kepada tuntunan Roh Kudus? Artinya, bagaimanakah kita bisa berhati-hati sehingga pilihan-pilihan kita dalam cara apapun tidak mengeraskan kita terhadap suara-Nya?

 

 

SENIN: 11 MEI

Kehidupan Doa Yesus

 

            Di antara kita banyak kisah Yesus berdoa, beberapa hanya dicatat dalam Injil Lukas. Perhatikanlah kejadian-kejadian berikut ini yang menunjukkan Yesus berdoa pada saat-saat penting dalam hidup-Nya.

  1. Yesus berdoa pada saat baptisan-Nya (Lukas 3:21). “Suatu masa baru dan penting sedang terbentang di hadapan-Nya. Sekarang Ia sedang memasuki perjuangan hidup-Nya.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 103. Dia tidak akan berani memulai babak pelayanan-Nya yang lebih luas—yang pada akhirnya akan membawa-Nya ke salib Golgota—tanpa doa.
  2. Yesus berdoa sebelum memilih 12 murid-Nya (Lukas 6:12,13). Tidak ada seorang pemimpin memilih pengikutnya secara sembarangan. Namun Yesus bukan hanya memilih pengikut tetapi memilih mereka yang dapat benar-benar mengerti dan mengenali Pribadi-Nya dan misi-Nya. “Jabatan mereka adalah yang terpenting yang pernah diamanatkan kepada manusia, dan adalah yang diterima langsung dari Kristus sendiri.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 310.
  3. Yesus berdoa bagi murid-muridNya (Lukas 9:18). Pemuridan menuntut komitmen yang sepenuhnya kepada Yesus dan pemahaman akan identitasNya. Supaya keduabelas murid dapat mengenal siapa dia, Yesus “berdoa seorang diri,” dan kemudian setelah itu Dia menantang mereka dengan pertanyaan penting itu: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20).
  4. Yesus berdoa sebelum Dia dimuliakan (Lukas 9:28-36) dan mendapatkan bagi Diri-Nya sendiri pengesahan Surga yang kedua bahwa Ia adalah “Anak-Ku yang Ku-pilih.” Ujian hingga saat ini dan ujian yang akan datang, tidak dapat mengubah hubungan dekat antara Bapa dan Anak. Doa itu juga menghasilkan murid-murid yang menjadi “saksi mata dari kebesaran-Nya” (2 Ptr. 1:16).
  5. Yesus berdoa di Bukit Zaitun (Lukas 22:39-46). Barangkali inilah doa yang paling penting dalam sejarah keselamatan. Di sinilah kita dapati Juruselamat itu menghubungkan surga dan bumi, dan dengan demikian Ia menetapkan tiga prinsip penting: Keutamaan kehendak dan tujuan Allah; komtimen untuk melaksanakan keutamaan itu walaupun berisiko darah dan kematian; dan kekuatan untuk mengalahkan setiap pencobaan di sepanjang jalan menuju penggenpana tujuan Allah.
  6. Yesus berdoa, menyerahkan hidup-Nya ke dalam tangan Allah (Lukas 23:46). Dalam kata-kata-Nya yang terakhir di salib, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku.” Yesus memberikan kepada kita tujuan paling utama dari doa. Pada waktu kelahiran atau kematian, di hadapan musuh atau sahabat, ketika tidur atau bangun, doa haruslah menjaga hubungan kita tetap dengan Allah.

            Apakah yang contoh-contoh ini katakana kepada Anda mengenai kehidupan berdoa Anda sendiri?

 

SELASA: 12 MEI

Contoh Doa (Bagian 1)

 

            Bacalah Lukas 11:1-4. Bagaimanakah ayat-ayat ini membantu kita untuk memahami bagaimana doa bekerja?

           “Bapa” adalah cara kesukaan Kristus menggambarkan Allah dan tercatat demikian sekurangnya 170 kali di dalam keempat Injil. Dalam menyebut Allah sebagai Bapa kami, kita mengakui bahwa Allah adalah Pribadi, yang dapat melakukan hubungan paling akrab dengan manusia. Allah adalah pribadi, nyata, mengasihi, dan peduli seperti seorang Ayah. Tetapi Ia adalah Bapa di surga. Ia berbeda dari bapa kita di bumi, karena Ia adalah Mahakuas, Mahatahu, dan Mahahadir, dan benar-benar suci.

            Ungkapan “Bapa di surga” selamanya mengingatkan kita bahwa Allah adalah suci dan berpribadi dan bahwa Kekristenan bukanlah hanya sebuah gagasan filosofi atau bukanlah gagasan panteis mengenai Allah yang adalah segala sesuatu.

            “Dikuduskanlah nama-Mu” (Lukas 11:2). Di sini juga kita mendapatkan sebuah pengingat terhadap kesucian dan kekudusan Allah itu. Mereka yang mengaku mengikut Dia dan masih berdosa kepada-Nya sedang menajiskan nama itu. Kata-kata Yesus dalam Matius 7:21-23 dapat menolong kita memahami dengan lebih baik apa artinya menguduskan nama Allah.

            “Datanglah Kerajaan-Mu” (Lukas 11:2). Kitab injil merujuk kerajaan Allah lebih dari 100 kali: hampir 40 dalam kitab Lukas, hampir 50 dalam kitab Matius, 16 dalam kitab Markus, dan 3 dalam kitab Yohanes. Inilah mengapa Yesus datang dan menyatakan dan menetapkan, baik realitas kerajaan kasih karunia sekarang ini dan janji akan kerajaan kemuliaan yang akan datang. Tidak memasuki kerajaan yang pertama itu, tidak akan dapat memasuki yang kedua, dan adalah harapan Juruselamat supaya murid-murid-Nya bisa mengalami kerajaan yang pertama dalam mengantisipasi yang kedua.

            “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Lukas 11:2, NKJV). Kehendak Allah itu diakui dan dipatuhi di surga. Yesus mengambil fakta tersebut dan mengubahnya menjadi sebuah harapan supaya kehendak tersebut terjadi juga di bumi. “Di bumi” tidak menunjukkan secara umum tetapi tertentu saja. Kiranya kehendak Allah terjadi di bumi, tetapi kiranya hal itu dimulai dari kita, dari masing-masing kita secara pribadi.

            Apakah anda mengenal Tuhan itu, atau hanya mengetahui mengenai Dia? Dalam cara apakah kehidupan doa Anda dapat menarik Anda lebih dekat kepada-Nya?

 

 

RABU: 13 MEI

Contoh Doa (Bagian 2)

 

            “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Lukas 11:3). Permohonan ini dimulai dengan kata berikanlah. Apakah kata itu terucap dari bibir seorang jutawan atau seorang anak yatim piatu yang terus menerus kekurangan, doa tersebut sekaligus mengungkapkan ketergantungan dan pengakuan kepercayaan. Kita semua tergantung pada Allah, dan permohanan yang sangat penting, “Berikanlah,” mendorong kita untuk mengakui bahwa Allah adalah sumber dari semua pemberian itu. Dia adalah Sang Pencipta. Dalam Dia kita hidup, bergerak dan kita ada. “Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita” (Mzm. 100:3).

            Allah adalah Bapa yang memberikan kepada kita semua yang kita butuhkan. Dalam terang janji ini, apakah jaminan agung yang Anda dapat temukan dalam Lukas 11:9-13?

            “Ampunilah kami akan dosa kami” (Lukas 11:4). Pengampunan adalah jantung injil. Tanpa pengampunan Allah, kita tidak mendapat keselamatan: “Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu… telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita” (Kol. 2:13). Mereka yang telah mengalami pengampunan Allah haruslah menjangkau keluar dan merangkul setiap jiwa yang mungkin bersalah kepada mereka. Memohon ampun sebagaimana “kami pun mengampuni” (Lukas 11:4) tidak berarti bahwa pengampunan Allah tergantung pada pengampunan kita kepada orang lain; malahan, keadaan kita yang telah diampuni meminta bahwa sebagai murid kita harus selalu hidup dalam memperluas lingkaran kasih karunia—menerima kebajikan Allah di satu pihak dan juga melanjutkan kasih dan pengampunan-Nya kepada orang-orang lain yan gmungkin telah menyinggung perasaan kita.

            “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami” (Luk. 11:4, NKJV). Dua fakta yang perlu diperhatikan. Pertama, pencobaan bukanlah dosa. Kata Yunani untuk “pencobaan” adalah peirasmos. Kata benda bahasa Yunani yang berakhiran –asmos biasanya menjelaskan sebuah proses, bukan hasil. Kitab Suci tidak melihat pencobaan sebagai suatu hasil akhir; itu adalah metode, sebuah proses yang digunakan untuk mecapai suatu hasil tertentu. Walaupun pencobaan bukanlah dosa, menyerah kepadanya adalah dosa. Kedua, Allah bukanlah perencana pencobaan (Yak. 1:13). Allah dapat mengizinkan pencobaan terjadi, tetapi Ia tidak pernah mencobai dalam arti memikat seseorang untuk berdosa. Jadi, doa adalah pengakuan bahwa Allah adalah sumber kekuatan utama untuk melawan si jahat.

            Tinjaulah kembali Lukas 11:1-4. Pikirkanlah tentang segala persoalan yang tercakup. Dalam cara bagaimanakah pengalaman Anda pada setiap persoalan ini dapat diperkaya dan diperdalam melalui doa?

KAMIS: 14 MEI

Pelajaran Lanjutan Mengenai Doa

             Segera setelah memberikan sebuah contoh doa kepada murid-murid-Nya, Yesus mengajarkan mereka, melalui perumpamaan seorang sahabat di tengah malam (Luk. 11:5-13), perlunya doa yang tekun. Kemudian, ketika mendekat pada akhir pelayanan-Nya, Ia mengingatkan para pengikut-Nya perlunya penyesalan atas dosa dan kerendahan hati dalam berdoa (Luk. 18:9-14). Kedua perumpamaan ini menunjukkan bahwa doa bukanlah hanya rutinitas agama, tetapi sebuah perjalanan, percakapan, dan kehidupan dengan Bapa secara terus menerus.

            Bacalah Lukas 11:5-8. Yesus mengatakan perumpamaan ini untuk mendorong ketekunan dalam doa. Berdoa bukanlah menjadi satu rutinitas. Sebaliknya, doa harus menjadi dasar dari suatu hubungan—ketergantungan yang mutlak, tetap, dan terus-menerus kepada Allah. Doa adalah napas jiwa: tanpa doa, kita mati secara rohani. Yesus mengatakan perumpamaan seorang tetangga yang menolak menjadi tetangga yang baik. Permohonan yang terus-menerus dari sahabatnya untuk sepotong roti demi memenuhi keadaan darurat di tengah malam menjadi sia-sia. Tetapi akhirnya, bahkan tetangga seperti itu menyerah dan mengalah kepada ketukan yang mengetuk terus-menerus di tengah malam. Betapa lebih lagi bagi Allah bagi seseorang yang bertekun dalam doa? Ketekunan seperti itu bukan untuk mengubah pikiran Allah tetapi menguatkan iman percaya kita.

            Bacalah Lukas 18: 9-14. Apakah pelajaran penting di sini mengenai doa?

____________________________________________________________________________________________________________________________

            Orang Farisi itu berharap Allah menyetujuinya berdasarkan pada apa yang dia telah lakukan, perbuatan-perbuatan kebajikannya. Pemungut cukai itu menyerahkan dirinya kepada kasih karunia Allah. Penerimaan Allah datang kepada kita bukan berdasar pada siapa atau apa kita ini tetapi melalui kasih karunia-Nya saja. Hanya mereka yang menyesal, rendah hati, dan hancur di hadapan Allah dapat menerima kasih karunia itu.

            “Kelemahlembutan dan kerendahan hati adalah syarat-syarat keberhasilan dan kemenangan. Sebuah mahkota kemuliaan sedang menunggu mereka yang sujud menyembah di kaki salib.”—Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 4, hlm. 190.

            Orang-orang yang belum mengenal Tuhan cenderung membandingkan dirinya dengan mereka yang, dianggapnya, lebih buruk daripada mereka, semua itu untuk meyakinkan dirinya bahwa mereka tidak sebegitu buruk. Mengapakah hal tersebut menyesatkan? Apakah hubungannya jika orang lain lebih buruk daripada kita?

 

JUMAT 15 MEI

PENDALAMAN: “Jiwa yang berbalik kepada Allah memperoleh pertolongan, dukungan, kuasa, oleh doa setiap hari dengan sungguh-sungguh, akan memperoleh aspirasi yang mulia, persepsi kebenaran dan tugas yang jelas, maksud-maksud tindakan yang agung, dan lapar dan dahaga akan kebenaran yang terus-menerus. Oleh mempertahankan hubungan dengan Allah, kita akan disanggupkan untuk menyebarkan kepada orang-orang lain, lewat pergaulan kita dengan mereka, terang, damai, ketenangan, yang berkuasa di dalam hati kita. Kekuatan yang diperoleh di dalam doa kita kepada Allah, bersatu dengan upaya yang tekun di dalam melatih pikiran dalam keprihatinan dan menaruh perhatian, mempersiapkan seseorang untuk tugas harian dan memelihara roh kedamaian dalam segala keadaan.”—Ellen G. White, Khotbah di Atas Bukit, hlm. 98.

            “Dengan memanggil Allah Bapa kita, kita mengakui semua anak-anak-Nya sebagai saudara-saudara kita. Kita semua adalah sebagian dari jaringan besar umat manusia, semua anggota satu keluarga. Dalam permintaan kita, harus kita masukkan sesama manusia seperti diri kita. Tidak seorang pun dibenarkan berdoa minta berkat untuk dirinya sendiri.”—Hlm. 120.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Hubungan menurut Lukas antara Yesus dan Roh Kudus tidak berakhir di Injilnya saja. Tidak seorang pun yang membaca buku Kisah, jilid kedua tulisan Lukas mengenai sejarah gereja Kristen, yang tidak akan melihat dinamika menarik dari Roh Kudus dalam kehidupan komunitas Kristen, misinya, dan para pelayannya. Memang, hanya Lukas yang mencatat perintah Yesus kepada murid-murid-Nya setelah kebangkitan-Nya untuk tinggal di Yerusalem sampai mereka “diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi” (Luk. 24:49) sebelum mereka dapat pergi sampai ke ujung bumi dengan pekabaran mengenai Juruselamat yang telah disalibkan dan yang telah bangkit itu. Lukas kemudian memulai buku Kisah dengan Yesus mengulangi janji Roh Kudus (Kisah 1:7,8) dan janji itu digenapi pada hari Pentakosta (Kisah 2). Apakah yang semua ini katakan kepada kita mengenai peranan inti dan Roh Kudus di dalam kehidupan jemaat?
  2. Dalam cara-cara apakah tindakan berdoa itu sendiri adalah pengakuan akan ketergantungan dan kebutuhan kita akan Allah? Bacalah Lukas 18:9. Apakah masalah kerohanian yang mendalam yang Yesus maksudkan dengan perumpamaan setelah ayat itu?