Pelajaran Sekolah Sabat “Siapakah Yesus Kristus?” 11-17 April 2015

PELAJARAN 3 * 11-17 April

 

 

Siapakah Yesus Kristus?

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: LUK. 4:16-30; 6:5; Ef.1:3-5; Luk. 9:8-27; 2 Ptr.1:16-18.

AYAT HAGALAN:” Yesus bertanya kepada mereka: Menurut kamu, siapakah Aku ini? Jawab Petrus: Mesias dari Allah” (Lukas 9:20).

            Siapakah Yesus Kristus? Pertanyaan ini bukanlah sebuah siasat filosofis atau sosiologis. Pertanyaan ini kena pada intisari dari siapakah manusia itu dan, bahkan lebih penting lagi, apakah yang masa kekekalan akan lakukan bagi mereka.

            Manusia dapat mengagumi karya-karya Yesus, menghormati kata-kataNya, memuki kesabaran-Nya, memuji ketidak-mementingkan diri-Nya, dan berdiri terdiam di ujung kehidupa-Nyayang kejam. Banyak orang bahkan bersedia menerima Yesus sebagai orang baik yang telah berusaha untuk mengatur banyak hal dengan benar—untuk meletakkan keadilan di mana terjadi ketidakadilan, untuk menawarkan kesembuhan di mana ada penyakit, dan memberikan penghiburan di mana hanya ada penderitaan.

            Ya, Yesus juga bisa mendapat gelar guru terbaik, revolusioner, seorang pemimpin yang luar biasa, dan seorang psikolog yang dapat menyelidiki ke kedalaman jiwa seseorang. Dia adalah semua sebutan ini dan banyak lagi.

            Namun, tak satu pun dari hal-hal ini, yang hampir menjawab pertanyaan yang sangat penting yang Yesus sendiri tanyakan: “Menurut katamu, siapakah Aku ini?”(Lukas 9:20)

            Ini adalah Pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban, dan pada jawaban itu tergantung nasib umat manusia.

*Pelajari pelajaran pekan ini untuk persiapan Sabat. 18 April.

MINGGU 12 APRIL

Reaksi Terhadap Yesus

 

          Bacalah Injil, bacalah Perjanjian Baru. Seluruhnya buku-buku ini mengklaim bukan saja tentang apa yang Yesus lakukan, lebih penting lagi, tentang siapa Yesus itu. (Tentunya, apa yang Yesus lakukan dengan penuh kuasa membuktikan siapa Dia.) Klaim-klaim ini—bahwa Dia adalah Tuhan, bahwa Dia adalah Penebus kita. Bahwa dia sendri adalah jalan kepada hidup kekal—menuntut perhatian kita karena semua ini penuh dengan implikasi yang konsekuensinya kekal bagi setiap umat manusia.

            Bacalah Lukas 4:16-30. Apakah yang menyebabkan orang banyak bereaksi seperti itu? Lihat juga Yohanes 3:19.

            Pendengar yang satu asal dengan-Nya pada awalnya senang melihat Yesus. Yang setelah melakuakan banyak mukjizat dan keajaiban, kembali ke Nazaret, dan mereka “heran akan kata-kata yang indah” yang diucapkan-Nya (Luk 4:22) Tetapi reaksi mereka terhadap teguran-Nya menunjukkan roh apa yang benar-benar telah menggerakan mereka.

            Bacalah Lukas 7:17-22. Apakah pertanyaan Yohanes tentang Yesus, dan mengapa dia menanyakan itu?

            Bahkan Yohanes Pembaptis, pendahulu Yesus dan seorang yang mengumumkan Yesus sebagai “Anak Domba Allah.” Memiliki keraguan yang merambat ke dala jiwanya, Dia ingin tahu: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan seorang lain?” (Lukas 7:19)

            Perhatikan juga, bahwa Yesus tidak menjawab pertanyaan Yohanes secara langsung; melainkan, Ia menujukan kepada perbuatan-perbuatan yang beseru sebagai saksi”orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan, dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (ayat 22) Ada yang berpendapat bahwa Yesus tidak perlu menjawab pertanyaan Yohanes secara langsung; perbuatan dan tindakan-Nya memberikan cukup kesaksian mengenai siapa diri-Nya.

            Dalam arti, jawaban yang Yesus berikan mungkin menyebabkan Yohanes bahkan agak tambah bingung. Setidaknya, jika Yesus memiliki kuasa untuk melakukan segala hal yang luar biasa, mengapakah saya mendekam di penjara ini? Siapakah, di tengah tragedy pribadi mereka sendiri, yang tidak akan menanyakan hal yang sama: Bila Tuhan memiliki semua kuasa ini, mengapakah hal ini terjadi padaku? Mengapakah salib, dan semua lambang dan janjinya, adalah satu-satunya jawaban kita?

 

SENIN 13 APRIL

Anak Allah

 

          “Anak Manusia” dan Anak Allah” adalah dua nama yang digunakan dalam Injil untuk menjelaskan siapa Yesus itu. Yang pertama menujukkan Allah yang menjelma, yang kedua menunjukan kepada Keilahian-Nya sebagai oknum kedua dari Ketuhanan. Bersama-sama, kedua frasa ini mengajak kita untuk merenungkan keajaiban Yesus Kristus: Allah yang sekaligus adalah Ilahi dan manusia. Ini adalah konsep yang sulit untuk dipahami, tetapi sesulitan itu tidak dengan cara bagaimanapun mengambil kebenaran yang menakjubkan dan harapan yang besar dari apa yang konsep tersebut tawarkan kepada kita.

            Bacah Lukas 1:31, 32,35; 2:11. Apakah yang ayat-ayat ini katakana kepada kita mengenai siapa Yesus itu sebenarnya?

            Dalam Lukas 1:31,32, malaikat itu menghubungkan nama Yesus dengan “Anak Allah Yang mahatinggi” Kepada siapa “Tahun Allah akan mengaruniakan” kepada-Nya takhta Daud. Yesus adalah Anak Allah. Dia juga adalah Kristus, Mesias yang akan mengembalikan takhta Daud, bukan sebagai penyelamat duniawi tetapi dalam makna eskatologis di mana ia pada akhirnya akan mengalahkan upaya Setan merebut takhta Allah sendiri. Kepada gembala-gembala malaikat memberitakan bahwa bayi yang dalam palungan itu adalah “ Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan” (lukas 2:11).

            Pada saat yang sama, gelar “Anak Allah” bukan saja untuk menegaskan posisi Kristus dalam Ketuhanan, tetapi juga mengungkapkan hubungan dekat dan akrab yang Yesus miliki dengan Allah Bapa ketika Yesus berada di bumi.

            Namun, hubungan antara Bapa dan Anak tidaklah sama denganhubungan yang kita miliki dengan Allah. Pada saat hubungan kita adalah hasil pekerjaan Kristus baik sebagai Pencipta dan Penebus, hubungan-Nya dengan Bapa sebagai Anak adalah satu dari tiga yang setara, mitra yang abadi. Melalui Keilahian-Nya Yesus menjaga ikatan sedekat mungkin dengan sang Bapa.

            “Yesus berkata, ‘Bapa kami yang di surga,’ untuk mengingatkan kepada murid-murid-Nya bahwa meskipun dalam kemanusiaan-Nya, Ia dihubungkan dengan mereka, turut mengambil bagian dalam ujian mereka, dan menaruh simpati dengan mereka dalam penderitaan mereka, namun oleh Keilahian-Nya Ia dihubungkan dengan takhta Allah.” – Ellen G White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 55

            Apakah artinya bagi kita bahwa Yesus adalah Allah, dalam makna sepenuhnya? Walaupun kebenaran ini penuh dengan banyak implikasi, salah satu yang sangat menakjubkan adalah bahwa, walaupun sebagai Allah, Yesus merendahkan diri bukan hanya sampai pada mengenakan kemanusiaan kita kepada diri-Nya tetapi dalam kemanusiaan itu menyerahkan diri-Nya sebagai korban bagi kita. Kita sedang membicarakan mengenai Allah sekarang! Harapan yang indah apakah yang kebenaran ini miliki buat kita karena apa yang disampaikannya kepada kita mengenai seperti apa Allah itu sebenarnya?

SELASA 14 APRIL

Anak Manusia

 

            Walaupun Yesus sadar sepenuhnya bahwa Ia adalah Anak Manusia dan Anak Allah (Lukas 22:67-70), sebutan “Anak Manusia” adalah yang paling disenangi Juruselamat bagi diri-Nya. Tidak ada orang lain menyapa-Nya dengan sebutan itu. Contoh-contoh lain sebutan itu muncul adalah dalam ucapan Stefanus( Kisah 7:56) dan dalam Wahyu 1:13 dan 14:14. Sebutan ini muncul lebih dari 80 kali dalam kitab Injil dan 25 kali dalam Kitab Lukas. Penggunaan Lukas menujukkan minat penulis yang dalam akan kemanusiaan Yesus sebagai manusia yang universal yang diutus Allah untuk memberitakan kabar baik keselamatan.

            “kemanusiaan Anak Allah adalah segala-galanya bagi kita. Inilah rantai emas yang mengikat jiwa kita kepada Kristus, dan melalui Kristus kepada Allah. Inilah yang menjadi pelajaran kita. Kristus adalah benar-benar manusia; Dia membuktikan kemanusaan-Nya dengan menjadi seorang manusia. Namun Dia juga adalah Allah di dalam daging.

            Penggunaan “Anak Manusia” dalam Kitab Lukas memberikan aneka wawasan kepada kodrat, misi, dan nasib Yesus yang menjelma.

            Pertama, sebutan itu menunjukkan-Nya sebagai seorang manusia(Lukas 7:34), tanpa alamat atau keamanan duniawi (Lukas 9:58)

            Kedua, Lukas menggunakan sebutan itu untuk menegaskan kodrat dan kedudukan Keilahian Kristus: karena “ Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat”(Lukas 6:5). Dengan demikian, dia juga adalah Pencipta, dengan kuasa untuk mengampuni dosa ( Lukas 5: 24)

            Ketiga, untuk menyelesaikan misi penebusan yang ditetapkan oleh Allah sebelum dunia di jadikan (Efesus 1:3-5), Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang ( Lukas 9:56, 19:10). Tetapi penebusan itu sendiri tidak dapat diselesaikan sampai “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan, dan ditolak… lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. (Lukas 9:22). Kesadaran diri Anak Manusia ini mengenai jalan yang Dia harus tapaki , dan harga yang harus Dia bayar untuk Penebusan umat manusia dari dosa, mengungkapkan bukan saja asal mula rencana Penebusan dari Allah tetapi juga penyerahan Kristus dalam kemanusiaan-Nya kepada rencana itu.

            Keempat, perhatikanlah bagaimana sempurnanya gambaran penderitaan Mesias yang Lukas gambarkan dalam ayat-ayat berikut ini: Ramalan-Nya atas Salib itu (Lukas 18:31,33). Pengkhianatan (Lukas 9:44), kematian-Nya sebagai penggenapan nubuatan (Lukas 22:22), Penyaliban dan Kebangkitannya (Lukas 24:7 bandingkan dengan Lukas 11:30), dan peran-Nya sebagai Pengantara di hadapan Bapa (Lukas 12:8).

            Kelima, Lukas melihat Anak Manusia dalam sebutan akhir zaman sebagai Dia yang akan datang kembali ke bumi untuk memberikan upah bagi orang-orang kudus dan menyelesaikan pertentangan besar. ( Lukas 9:26 12:4 17:24,26,30:21:36;22:69)

            Singkatnya, sebutan “Anak Manusia” menggabungkan beraneka ragam aspek bukan saja mengenai siapa Kristus itu tetapi apa yang Dia sudah buat dan apa yang Dia telah dan akan selesaikan demi kita dalam rencana keselamatan.

 

RABU 15 APRIL

“MESIAS DARI ALLAH”

 

          Bacalah Lukas 9:18-27. Mengapakah Yesus bertanya kepada murid-murid pertanyaan yang jawabannya Ia telah ketahui? Pelajaran apakah yang Ia hendak ajarkan kepada mereka bukan saja mengenai diri-Nya tetapi mengenai apa artinya mengikuti Dia?

            “menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Lukas 9:20). Pertanyaan yang Yesus tanyakan 2000 tahun yang lalu masih membayangi sejarah. Manusia telah memberikan begitu banyak jawaban yang berbeda. Seorang Mahaguru. Seorang pakar etika. Perwujudan kebenaran. Sebuah monument pengorbanan diri. Seorang nabi pemberani. Seorang pemburu social. Panutan hebat akan segala-galanya bagaimana umat manusia itu seharusnya. Tetapi tidak ada jawaban selain pengakuan yang keluar dari mulut Petrus terhadap pertanyaan aslinya yang dapat menjawab.

            Setelah menunjukkan otoritas-Nya atas alam (Lukas 8:22-25), kuasa-Nya atas roh jahat (ayat 26-35), kekuatan-Nya atas penyakit (Lukas 5:12-15, 8:43-48), ke mampuan-Nya memberi makan 5000 orang dari hampir tidak ada apa-apa (Lukas 9:13-17), kuasa-Nya atas kematian itu sendiri (Lukas 8:51-56)—Yesus menantang murid-murid-Nya hanya dengan dua pertanyaan: Pertama, apa kata orang akan diri-Nya. Dia tidak bertanya unutk mengetahui sesuatu yang Dia belum tahu. Melainkan, Dia bertanya untuk menolong mereka mengerti siapa Dia, yang justru, akan menuntut dari mereka komitmen yang akan mgorbankan segala-galanya.

            “Pengetahuan kita akan Yesus jangan pernah hanya belajar dari orang lain. Barangkali kita telah mengetahui setiap keputusan yang dijatuhkan kepada Yesus; tetapi mengenal Yesus. Yesus Kristus menuntut keputusan pribadi. Ia tidak bertanya kepada Pertus saja, Ia bertanya kepada masing-masing kita: ‘ Menurut kamu, siapakah Aku ini?’”—William Barclay, The Gospel of matthew, (Bangalore Theological Publising in India, 2009)

            Jawaban kita untuk pertanyaan yang Yesus tanyakan tidak boleh karang dari pengakuan Petrus: Yesus adalah “Mesias dari Allah.” (Lukas 9:20). Kristus artinya “Yang Diurapi,” Mesias, yang misinya bukanlah pembebas politis tetapi Juruselamat yang akan membebaskan manusia dari cengkeraman Setan dan dosa dan menahbiskan kerajaan kebenaran.

            Tidaklah cukup hanya sekadar mengetahui siapa Yesus itu. Justru, kita perlu mengetahui diri-Nya bagi diri kita . jika, kemudian, Anda menyatakan mengenal Yesus apakah, sebenarnya, yang Anda ketahui mengenai Dia? Dengan kata lain, apa yang pengetahuan Anda tentang Yesus, mengajarkan kepada Anda mengenai Dia dan mengenai seperti apa Dia itu?

KAMIS 16 APRIL

YESUS DIMULIAKAN

 

               

            Bacalah kisah di tiga kitab Injil mengenai Yesus dimuliakan (Luk. 9:27-36; Mat. 17:1-9; Mrk. 9:2-8). (Bacalah juga catatan Petrus sendiri mengenai kejadian itu, dan perhatikan kebenaran yang rasul ini tetapkan dari pengalamannya sebagai saksi mata; lihat 2 Petrus 1:16-18). Infromasi tambahan apakah yang Lukas berikan, dan mengapakah hal itu penting?

 

            Lukas memulai kisahnya dengan rincian yang Matius dan Markus tidak sebutkan: Yesus membawa Petrus, Yohanes, dan Yakobus ke atas bukit untuk berdoa. Yesus menetapkan pandangan dan pikirannya ke Yerusalem dan menubuatkan jalan penderitaan yang terbentang di hadapan-Nya. Yesus ingin memastikan bahwa apa yang ia sedang lakukan adalah apa yang dekehendaki Allah bagi-Nya untuk dilakukan. Pada saat seperti itu, doa adalah satu-satunya jalan untuk menemukan kepastian dan jaminan. Proses doa secara langsung mencurahkan kemuliaan Ilahi kepada pribadi Yesus: “Rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan” (Luk.9:29)

            Yesus yang dimuliakan berbincang-bincang dengan Musa dan Elia mengenai “tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem” (ayat 31). Kata kepergian dapat dimengerti dalam dua cara: kematian yang akan terjadi kepada-Nya di Yerusalem, walaupun bahasa Yunani yang digunakan di sini, keluaran, tidaklah sering digunakan untuk kematian; karena, “kepergian”dapat juga berarti “keluaran” besar yang Yesus akan capai di Yerusalem, keluaran penebusan yang besar yang akan membawa kelepasan dari dosa.

            Pertemuan ketiga mereka berakhir dengan suatu suara persetujuan dari surga, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia” (ayat 35). Pemuliaan mengurapi Yesus dengan kemuliaan, sekali lagi menjamin hubungan-Nya sebagai Anak, dan mengumumkan bahwa Penebusan akan mengorbankan kehidupan Anak itu. Itulah sebabnya, mandat surgawi kepada murid-murid itu: dengarkanlah Dia. Tanpa penurutan dan kesetiaan khusus kepada-Nya, tidak pemuridan.

            Ellen G. White menulis bahwa mereka, maksudnya Musa dan Elia, yang telah “dipilih lebih dari setiap malaikat di sekeliling takhta, telah datang bercakap-cakap dengan Yesus mengenai peristiwa penderitaan-Nya, dan menguburkan Dia dengan jaminan simpati surga. Harapan dunia, keselamatan setiap manusia, merupakan beban wawancara mereka.” Alfa dan Omega. Jld. 6, hlm. 33. Dengan demikian, Yesus sendiri pun, yang telah menghibur begitu banyak orang, mencari ketenangan dan penghiburan untuk diri-Nya sendiri. Apakah yang hal ini katakan kepada kita mengenai walupun yang paling kuat kerohaniannya di antara kita, bahkan pemimpin-pemimpin, guru-guru, dan pembimbing kita, pada waktu tertentu dapat membutuhkan ketenangan, dorongan dan bantuan dari orang lain? Sebenarnya, siapakah yang Anda kenal sekarang ini yang membutuhkan ketenangan, penghiburan, dan dorongan semangat?

 

JUMAT 17 APRIL

 

                Pendalaman: “ Hindarilah setiap pertanyaan yang berhubungan dengan kemanusiaan Kristus yang cendrung menjadi salah pengertian. Kebenaran terletak dekat dengan jalur prasangka. Dalam menangani soal kemanusiaan Kristus, Anda perlu menjaga setiap pernyataan dengan gigih, janganlah kata-katamu diartikan lebih jauh dari pada yang dikatakan, dan akhirnya Anda menurunkan atau meredupkan pesepsi yang jelas tentang kemanusiaan yang tergabung dengan Keilahian-Nya. Kelahiran-Nya adalah mukjizat Allah…. Jangan pernah, dengan cara apa pun, meninggalkan kesan seditkit pun pada pikiran manusia bahwa noda, atau keinginan untuk menyeleweng ada pada Kristus, atau bahwa Dia dalam cara apa pun menyerah pada penyelewengan. Dia dicobai dalam segala hal seperti halnya manusia dicobai, namun demikian Ia disebut ‘yang suci’. Ini adalah misteri yang ditinggalkan tanpa penjelasan bagi yang fana di mana Kristus dapat dicobai dalam segala hal seperti kita, namun tanpa dosa. Penjelmaan Kristus yang pernah terjadi akan tetap menjadi sebuah misteri.”—Ellen G.White Comments, The SDA Bible Commentary, jld.5, hlm. 1128, 1129.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  • Bacalah pernyataan Ellen G. White di atas mengenai kemanusiaan Kristus. Kita harus hadapai kenyataan bahwa kemanusiaan Yesus, sebagaimana dengan keilahian-Nya, adalah kebenaran besar yang untuk sekarang kita tidak akan pernah pahami sepenuhnya. Sebagaimana tulisannya: “ Penjelmaan Kristus telah terjadi, dan akan tetap menjadi, sebuah misteri.” Jadi, mengapa kita harus sangat berhati-hati mengenai membuat penilaian keras bagi mereka yang tidak memahami dengan semestinya “misteri” ini sebagaimana yang kita pahami?
  • Pikirkanlah mengenai apa yang terjadi di Bukit Pemuliaan. Peristiwa dalam sejarah keselamatan yang luar biasa ini akan segera terjadi, dan apakah yang pertama dilakukan oleh murid-murid pilihan yang datang ke bukit bersama Dia? Tidur! Dalam cara bagaimanakah hal ini menjadi perumpamaan bagi kita, sebagai umat percaya secara pribadi, atau bagi kita sebagai sebuah jemaat yang hidup dekat dengan peristiwa besar lain dalam sejarah keselamatan: kedatangan Yesus yang kedua kali?
  • Bacalah beberapa hal yang Yesus katakan mengenai diri-Nya. Jadi, mengapakah, pendapat bahwa Yesus semata-mata seorang manusia hebat, seorang nabi besar, atau pemimpin rohani yang besar, secara logika cacat? Mengapakah kita seharusnya tidak menerima bahwa Ia adalah apa yang Ia katakan mengenai diri-Nya, atau bahwa Dia adalah seorang yang fanatic dan seorang yang sangat menipu mengenai diri-Nya? Mengapakah tidak ada pilihan lain bagi kita sehubungan dengan identitas Yesus?