Pelajaran Sekolah Sabat “Panggilan kepada Pemuridan” 18-24 April 2015

Pelajaran 4                                                  *18-24 April 2015

 

Panggilan kepada Pemuridan

 

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: LUK 5:1-11; 6:12-16; 9:1-6; MAT 10:5-15; LUKAS 10:1-24; LUKAS 9:23-25; MAT 16:24-28.

AYAT HAFALAN: “Kata-Nya kepada mereka semua: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setipa hari dan mengikut Aku’” (Lukas 9:23).

            “Murid” berarti pengikut, atau pelajar. Kata murid muncul lebih dari 250 kali dalam Alkitab, sebagian besar dalam, walaupun tidak hanya pad, kitab Injil dan Kisah Para Rasul.

            Menjadi seorang murid membangkitkan semangat, menantang pikiran, dan meminta hubungan yang terbaik kita dengan Tuhan dan sesama kita. Tanpa kesetiaan sepenuhnya kepada Kristus dan tuntutan kehidupan dan pekabaran kehidupan-Nya, maka tidak ada pemuridan. Betapa mulia panggilan yang dapat Anda miliki?

            “Allah mengambil seseorang sebagaimana adanya, dan mendidik dia bagi pelayanan-Nya, jika ia hendak menyerahkan dirinya kepada-Nya. Roh Allah yang diterima di dalam jiwa, akan mempertajam kesanggupan pikirannya. Di bawah pimpinan Roh kudus, pikiran yang diserahkan sepenuhnya kepada Allah berkembang dengan seimbang dan dikuatkan untuk memahami dan menggenapi tuntutan-tuntutan Allah. Tabiat yang lemah dan ragu-ragu akan diubahkan kepada suatu tabiat yang kuat dan teguh. Penyerahan yang terus menerus membangunkan suatu hubungan yang begitu dekat antara Yesus dengan murid-murid-Nya sehingga orangk-orang Kristen menjadi seperti Dia dalam pikiran dan tabiat.”—Ellen G.White, Alfa dan Omega, jld.5 hlm.259.

            Pekan ini kita akan melihat bagaimana Yesus memanggil mereka yang akan mengikuti Dia dan melihat pelajaran apa yang dapat kita ambil yang dapat menolong kita dalam melanjutkan pekerjaan kita yang Dia telah mulai di atas bumi.

Minggu, 19 April

Penjala-Penjala Manusia

 

          Simon dan Andreas telah bekerja keras semalam suntuk. Nelayan-nelayan yang berpengalaman ini, mereka tahu teknik penangkapan ikan, dan mereka tahu kapan harus berhenti. Sudah bekerja sepanjang malam tanpa hasil apa-apa. Di tengah-tengah kekecewaan mereka, datanglah perintah tanpa diminta: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan” (Lukas 5:4). Jawaban Simon adalah sesuatu yang keluar dari keputusasaan dan penderitaan: “Telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau yang menyuruhnya…” (ayat 5).

            Siapa gerangan tukang kayu ini yang memberikan nasihat kepada nelayan mengenai menangkap ikan? Simon dapat saa berpaling tetapi barangkali karena khotbah yang autentik dan menguatkan sebelumnya berpengaruh? Oleh karena itu, jawabannya: “Tetapi karena Engkau yang menyuruhnya.”

            Dengan demikian, pelajaran pertama dari pemuridan: “Penurutan kepada Firman Kristus. Andreas, Yohanes, dan Yakobus juga segera mengetahui bahwa malam yang panjang dan tidak menghasilkan apa-apa telah menjadi jalan kepada fajar yang cerah dan menakjubkan, dengan banyak ikan yang tertangkap. Saat itu juga, Petrus berlutut dan berseru: “Pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa” (ayat 8). Pengakuan akan kesucian Allah dan keberdosaan seseorang adalah langkah penting dalam panggilan kepada pemuridan. Sebagaimana Yesaya (Yes 6:5). Petrus telah menempuh langkah itu.

            Bacalah Lukas 5:1-11; Matius 4:18-22; dan Markus 1:16-20. Pikirkanlah mukjizat, ketakjuba nelayan-nelayan ini, pengakuan Petrus, dan otoritas Yesus. Apakah yang masing-masing kisah ini katakana mengenai jalan pemuridan?

            “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia” (Lukas 5:10). Peralihan dari penjala ikan menjadi penjala manusia sangatlah luar biasa: Hal tersebut membutuhkan penyerahan diri yang sepenuhnya kepada sang Guru, mengakui ketidakberdayaan dan keberdosaan diri, menjangkau Kristus dalam iman untuk kekuatan berjalan di jalan pemuridan yang sepi dan belum diketahui, dan ketergantungan secara terus menerus kepada Kristus dan kepada Dia saja. Kehidupan sebagai nelayan tidaklah pasti dan berbahaya, berjuang melawan gelombang yang kejam, dan pendapatan yang tidak menentu. Demikianlah kehidupan sebagai penjala manusia tidak kurang dari itu, tetapi Tuhan berjanji, “Jangan takut.” Pemuridan bukanlah jalan yang mudah; ada pasang surutnya, ada sukacita dan tantangan-tantangannya, tetapi seorang murid tidak dipanggil untuk berjalan sendiri. Dia yang berkata “Jangan takut” berada di samping murid yang setia.

            Kembalilah dan baca lagi pengakuan Petrus tentang keadaan orang berdosa. Perhatikanlah bagaimana keberdosaan mendorongnya untuk berpisah dari Yesus. Dosa apakah yang memisahkan kita demikian, yang mendorong kita menjauh dari Tuhan?

Senin, 20 April

Pemilihan Keduabelas Murid

 

          Pemuridan bukanlah usaha sendiri. Itu adalah hasil menyambut panggilan Yesus. Lukas menyebutkan bahwa Yesus telah memanggil Petrus, Andreas, Yohanes, dan Yakobus (Lukas 5:11) dan Lewi Matius, pemungut cukai (ayat 27-32). Sekarang penulis menempatkan pemilihan dua belas murid di tempat yang strategis dalam kisahnya: segera setelah penyembuhan pada hari Sabat terhadap seorang yang mati sebelah tangannya (Lukas 6:6-11), yang telah menuntun orang-orang Farisi merencanakan pembunuhan terhadap Yesus. Tuhan tahu bahwa sudah waktunya untuk melakukan konsolidasi pekerjaan-Nya dan menyiapkan kelompok pekerja yang dapat Dia latih dan persiapkan untuk tugas setelah penyaliban.

            Bacalah Lukas 6:12-16; 9:1-6. Apakah yang ayat-ayat ini katakan kepada kita mengenai panggilan kepada kedua belas rasul?

            Di antara orang banyak yang mengikuti Dia, ada banyak murid-murid—mereka yang mengikuti-Nya sebagai pelajar-pelajar yang mau mengikuti sang Guru. Tetapi tugas Kristus lebih daripada ajaran saja. Tugas-Nya adalah untuk membangun komunitas yang telah ditebus, sebuah jemaat yang akan membawa pekabaran-Nya yang menyelamatkan sampai ke ujung bumi. Untuk maksud itu, Ia memerlukan lebih daripada murid-murid. “Lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut rasul” (Lukas 6:13). “Rasul” berarti seseorang yang diutus dengan sebuah pekabaran khusus untuk maksud khusus. Lukas menggunakan kata ini enam kali di kitab Injilnya dan lebih dari 25 kali dalam kitab Kisah Para Rasul (Matius dan Markus masing-masing hanya menggunakannya satu kali.

            Kedua belas rasul dipilih bukan karena pendidikan mereka, latar belakang ekonomi, social yang menonjol, bermoral tinggi, atau apa saja yang menandai mereka untuk layak dipilih. Mereka adalah orang-orang biasa dari latar belakang yang biasa: nelayan, pemungut cukai, seorang Zelot, seorang peragu, dan seorang yang ternyata menjadi pengkhianat. Mereka dipanggil hanya untuk satu tujuan: Menjadi duta-duta Raja dan kerajaan-Nya.

            “Allah menerima manusia sebagaimana adanya, dengan segala sifat kemanusiaannya, dan mendidik mereka untuk pekerjaan-Nya, jikalau mereka mau patuh dan belajar dari pada-Nya. Mereka tidak dipilih sebab mereka sempurna, tetapi sekalipun mereka tidak sempurna, melalui pengetahuan dan perbuatan kebenaran, melalui kemurahan Kristus, mereka itu boleh diubahkan kepada peta-Nya.”—Ellen G.White, Alfa dan Omega, jld.5 hlm.313.

            Akuilah: kita tidak sempurna, demikian juga orang lain di jemaat tidak sempurna. Kita semua berada dalam sebuah proses pertumbuhan (bahkan ada yang lain kelihatan pertumbuhannya lebih lambat daripada yang kita inginkan terhadap mereka!). bagaimanakah, sekarang ini, apakah kita belajar untuk bekerja dengan orang lain dan menerima mereka sebagaimana adanya?

 

Selasa, 21 April

Mengutus Rasul-rasul

 

            Bacalah Lukas 9:1-6 dan Matius 10:5-15. Apakah kebenaran rohani yang dapat kita pelajari dari ayat-ayat ini mengenai bagaimana Yesus mengutus rasul-rasul ini?

            Lukas menjelaskan pengutusan rasul-rasul ini dalam proses tiga langkah. Pertama, Yesus memanggil mereka bersama (Lukas 9:1). Kata panggil atau Panggilan adalah penting bagi misi Kristen demikian juga dalam kosakata orang Kristen. Sebelum kata ini menjadi sebutan teologis, kata ini harus menjadi pengalaman pribadi. Rasul-rasul harus patuh kepada Dia yang memanggil, datang kepada-Nya, dan “bersama-sama.” Baik penurutan kepada-Nya yang memanggil dan penyerahan segalanya kepada-Nya adalah penting untuk mengalami persatuan untuk misi itu berhasil.

            Kedua, Yesus “memberikan tenaga dan kuasa kepada mereka” (Lukas 9:1). Yesus tidak pernah mengutus utusan-utusan-Nya dengan tangan hampa. Dia juga tidak mengharapkan kita menjadi wakil-wakil-Nya dengan kekuatan kita sendiri. Pendidikan, budaya, kedudukan, kekayaan, atau kepintaran kita tidak berdaya untuk mencapai misi-Nya. Kristuslah yang menyanggupkan , melengkapi, dan memberdayakan kita. Kata Yunani untuk “tenaga” adalah dinamis, dari kata ini berasal kata “dynamo,” sumber terang, dan “dinamit,” sumber tenaga yang dapat menghancurkan gunung. Tenaga dan kuasa yang Yesus berikan cukup untuk menghancurkan Setan dan mengalahkan maksud-maksudnya. Yesus adalah kekuatan kita. “Bila kehendak manusia bekerjasama dengan kehendak Allah, ia menjadi kuasa yang besar. Apa pun yang akan dilakukan atas perintah-Nya, dapat dilaksanakan dalam kekuatan-Nya. Segala permohonan dapat dilaksanakan.”—Ellen G.White, Perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus, hlm.239.

            Ketiga, Yesus “mengutus mereka untuk memberitakan Kerjaan Allah dan untuk menyembuhkan orang” (Lukas 9:2). Pekabaran dan penyembuhan jalan bersama, dan misi rasul-rasul adalah untuk merawat manusia seutuhnya—tubuh, pikiran, dan jiwa. Dosa dan setan telah mengambil keutuhan manusia, dan keutuhan manusia harus dibawa ke bawah kuasa Yesus yang menyucikan.

            Kehidupan pemuridan dapat dipertahankan hanya jika kehidupan itu diberikan seluruhnya kepada Kristus, dengan tiada sesuatu yag dapa memisahkannya. Bukan emas ataupun perak, bukan ayat ataupun ibu, bukan pasangan ataupun anak, bukan kehidupan ataupun kematian, bukan keadaan tak terduka hari ini ataupun darurat hari esok yang akan memisahkan murid dan Kristus. Hanya tentang Kristus, kerajaan-Nya dan kesaksian kepada dunia yang hilang.

            “jangan membawa apa-apa dalam perjalanan” (Lukas 9:3). Apakah prinsip yang dinyatakan di sini yang penting bagi kita sendiri mengerti dan alami?

Rabu, 22 April 20

Mengutus Tujuh Puluh Murid

 

          Bacalah Lukas 10:1-24. Sehubungan dengan mengutus tujuh puluh murid, apakah yang catatan ini ajarkan kepada kita mengenai pekerjaan memenangkan jiwa di tengah realitas pertentangan besar?

            Selama pelayanan-Nya, lebih dari 12 murid yang mengikuti Yesus. Ketika Petrus berbicara kepada orang-orang percaya mengenai pemilihan pengganti Yudas, kelompok itu berdiri dari sedikitnya 120 murid (Kisah 1:15). Paulus mengatakan kepada kita bahwa Yesus memiliki tidak kurang dari 500 orang pengikut pada saat kenaikan-Nya (1 Kor 15:6). Jadi, mengutus 70 murid tidak membatasi jumlah murid yang Yesus miliki tetapi hanya untuk menyatakan pilihan-Nya pada kelompok khusus unutk misi tertentu untuk mendahului-Nya ke kota-kota di Galilea dan mempersiapkan jalan bagi kunjungan-kunjungan Yesus berikutnya.

            Hanya Injil Lukas yang mencatat kisah 70 murid, ini sangat khas dari hati misionarisnya. Angka 70 adalah lambang dalam Kitab Suci, dan dalam sejarah orang Yahudi. Kejadian 10 mendaftarkan 70 bangsa di dunia sebagai keturunan Nuh, dan Lukas adalah seorang penulis yang berpandangan luas. Musa mengangkat 70 tua-tua untuk membantu dia dalam pekerjaannya (Bil 11:16,17, 24, 25). Sanhedrin terdiri dari 70 anggota. Apakah semua ini memiliki arti dalam hal Yesus mengutus 70 murid, tidak disebutkan dalam Kitab Suci dan tidak perlu menghambat kita dengan berspekulasi. Tetapi apa yang penting adalah di mana Yesus, sebagai pelatih pemimpin-pemimpin gereja telah meninggalkan strategi yang tidak memusatkan tenaga dan tanggungjawab pada segelintir orang tetapi menyebarkanny ake seluruh cakupan murid-murid.

            Kegembiraan dan kepuasan menandai kembalinya ke-70 murid. Mereka melaporkan kepada Yesus: “Juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu” (Lukas 10:17). Keberhasilan dalam memenangkan jiwa bukanlah karena pekerjaan penginjil. Penginjil hanyalah sarana. Keberhasilan datang melalui “nama-Mu.” Nama dan kuasa Yesus adalah inti dari setiap keberhasilan misi Injil.

            Tetapi perhatikanlah tiga reaksi yang luar biasa dari Yesus terhadap keberhasilan misi dari ketujuh puluh murid. Pertama, dalam keberhasilan evanglisasi, Yesus melihat kekalahan Setan (ayat 18). Kedua, semakin terlibat seseorang dalam pekerjaan Injil, semakin banyak kuasa yang dijanjikan (ayat 19). Ketiga, sukacita penginjil bukan seharusnya pada apa yang telah dicapai di bumi tetapi karena namanya terdaftar di surga (ayat 20). Surga bergembira dan mencatat setiap orang yang dimenangkan dari cengkeraman Setan. Setiap jiwa yang dimenangkan bagi kerajaan adalah pukulan telak terhadap rencanan Setan.

            Bacalah kembali Lukas 10:24. Apa sajakah hal-hal yang kita telah lihat yang banyak nabi dan raja ingin lihat tetapi tidak melihatnya? Apakah artinya bagi kita?

Kamis, 23 April

Harga Mengikut Yesus

 

            Sokrates memiliki Palto. Gamaliel memiliki Saulus. Para pemimpin dari berbagai agama memiliki pengikut-pengikut setia mereka. Perbedaan antara pemuridan mereka dan pemuridan Yesus adalah pemuridan mereka didasarkan pada isi filsafat manusia, sedangkan pemuridan Yesus berakar pada diri dan prestasi Yesus sendiri. Dengan demikian, pemuridan Kristen bertumpu bukan hanya pada ajaran-ajaran Yesus tetapi juga pada apa yang telah Dia lakukan demi keselamatan manusia. Oleh karena itu Yesus perintahkan semua pengikut-Nya untuk sepenuhnya menghubungan diri mereka dengan-Nya, memikul salib mereka, dan mengikuti pimpinan-Nya. Bila tidak ada yang berjalan mengikuti jejak kaki Golgota, tidaklah ada pemuridan Kristiani.

            Bacalah Lukas 9:23-25; Matius 16:24-28; Markus 8:34-36. Apakah pekabaran penting dalam ayat-ayat ini bagi siapa saa yang mengaku sebagai seorang Kristen?

            Pemuridan Kritiani adalah suatu hubungan penting antara yang diselamatkan dengan Juruselamat; sebagai orang yang diselamatkan, kita harus mengikuti Juruselamat. Itu sebabnya Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Gal 2:20,NIV).

            Harga mengikut Yesus didefinisikan dalam Lukas 9:23: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(Lukas 9:23). Perhatikanlah kata-kata kunci: “menyangkal,” “memikul,” dan “mengikut.” Bila kita membaca kisa Petrus menyangkal Yesus, kita mendapatkan definisi “menyangkal” yang terbaik. Petrus katakan, “Aku tidak kenal Yesus.” Jadi, ketika panggilan kepada pemuridan menuntun saya menyangkal diri, saya harus dapat berkata aku tidak kenal diriku; diriku telah mati. Gantinya, Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20). Kedua, memikul salib setiap hari adalah suatu panggilan untuk mengalami penyaliban—diri secara terus menerus. Ketiga, mengikut menuntut bahwa focus dan arah kehidupan adalah Kristus dan hanya Dia saja.

            Yesus memperjelas harga pemuridan lebih jauh lagi, sebagaimana dinyatakan dalam Lukas 9:57-62: tidak ada yang lebih diutamakan daripada Yesus. Dia, dan Dia saja, yang paling utama dalam persahabatan dan persekutuan, pekerjaan dan ibadah. Di dalam pemuridan Kristiani, mati terhadap diri sendiri bukan suatu pilihan; itu adalah suatu keharusan. “Ketika Kristus memanggil seseorang, Dia perintahkan kepadanya datang dan mati… kematian yang sama setiap waktu—kematian di dalam Yesus Kristus, kematian atas tuntutan manusia lama… Hanya orang yang mati terhadap kehendak dirinya sendiri dapat mengikut Yesus.”—Dietrich Bonhoeffer, The Cost of Discipleship (New York: The Macmillan Co., 1965), hlm. 99.

            Apakah yang menjadi harga mengikuti Yesus bagi Anda? Pikirkan baik-baik jawaban Anda dan implikasinya.