Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pelajaran Sekolah Sabat “Perempuan dan Anggur” (21-27 Maret)

Pelajaran 13                                                   21-27 Maret 2015

 

 

 

Perempuan dan Anggur

 

 

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: AMS 31; AYB 29:15; AMS 8; 1 KOR 1:21; WHY 14:13.

AYAT HAFALAN: “Jangan berikan kekuatanmu kepada perempuan, dan jalanmu kepada perempuan-perempuan yang membinasakan raja-raja. Tidaklah pantas bagi raja, hai Lemuel, tidaklah pantas bagi raja meminum anggur, ataupun bagi para pembesar mengingini minuman keras” (Amsal 31:3,4).

            Kitab Amsal mulai dengan pengajaran-pengajaran dari seorang ayah (Ams 1:1, 8; 4:1) dan berakhir dengan pengajaran-pengajaran dari seorang ibu (Ams 31:1). Nama Lemuel mungkin menyinggung kepada Salomo; jika demikian, maka ibu Lemuel adalah ibu Salomo, dan ia mengamarkan anaknya terhadap dua ancaman paling serius bagi sang raja: anggur dan wanita.

            Hubungan anggur dan hikmat adalah disengaja. Untuk menjadi efisien sebagai penguasa, sang raja harus berhati-hati terhadap pengaruh-pengaruh yang ia hadapi, dan kedua factor ini bisa sangat berkuasa. Meskipun wanita yang tepat dapat bermanfaat, alcohol hanyalah masalah.

            Pendahuluan sang ayah berkaitan dengan pemahaman rohani hikmat. Sekarang kesimpulan sang ibu berkaitan dengan penerapan hikmat dalam kehidupan nyata. Untuk prinsip-prinsip rohani yang diajarkan sang ayah tidak akan berarti apa-apa jika nasihat praktis yang ditawarkan sang ibu tidak diikuti.

 

Minggu, 22 Maret

Sebuah Salam Hormat “Untuk Kehidupan?”

 

            Dalam banyak budaya, meminum alcohol dikaitkan dengan kehidupan. Orang-orang mengangkat gelas dan berharap satu dengan yang lain umur panjang, meskipun ironis bahwa setiap gelas mengupayakan kehancuran bagi kehidupan. Botol yang didisain dengan bagus, lagu-lagu puitis dan lucu pengiring minuman, iklan yang pintar, dan bahkan beberapa penemuan-penemuan “ilmiah,” semuanya membuat nyaman para peminum dalam pemikiran mereka bahwa alcohol adalah baik bagi mereka. Amsal telah mengamarkan kita terhadap penipuan yang mematikan ini (Ams 23:30-35). Sekarang tema itu muncul kembali, menunjukkan kepada kita kerusakan lebih banyak lagi yang minuman dapat akibatkan.

            Bacalah Amsal 31:4,5,8,9. Secara bersama, apakah yang ayat-ayat ini sampaikan, dan bagaimana pekabarannya berlaku kepada setiap pengikut Tuhan, bukan hanya sang raja?

            Dalam Bahasa yang sama, Ayub menggambarkan dirinya sendiri sebagai “mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayb 29:15). Demikian juga raja atau mereka yang kaya harus membantu mendukung orang miskin dan yang membutuhkan—mereka yang “terdiam” dalam hal itu adalah mereka tidak memiliki suara karena tidak seorang pun mendengarkan mereka.

            Efek merusak dari anggur bisa juga dilihat pada bagaimana itu dapat dengan mudah menyimpangkan pertimbangan seseorang. Sementara alcohol cukup buruk bagi orang biasa, namun bagi seorang raja atau seseorang yang berkuasa, alcohol dapat menciptakan situasi yang mengerikan. Raja yang minum tidak hanya “melupakan hukum” dan tidak mengetahui apa yang benar, tetapi ia kemudian mengeluarkan keputusan yang menyimpang: Yang bersalah dinyatakan tidak bersalah, dan yang tidak bersalah dinyatakan bersalah.

            Apa yang dipertaruhkan di sini adalah kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, baik dan jahat. Larangan minum anggur berkaitan dengan hikmat dasar, dengan demikian, harus berlaku kepada setiap manusia. Perlu dicatat bahwa kekhawatiran ini justru alasan yang tersirat dalam larangan khusus minum bagi imam: “Supaya kamu dapat membedakan yang kudus dengan yang tidak kudus” (Im 10:9,10).

            Siapakah yang belum melihat dampak yang menghancurkan dari alcohol dalam begitu banyak kehidupan? Bagaimanakah Anda bisa menolong orang lain, terutama orang muda, tetap jelas apa yang bisa membawa kerugian kepada mereka dan orang lain?

 

Senin, 23 Maret

Bersulang “untuk Kematian”

 

            Bacalah Amsal 31:6,7. Bagaimanakah kita memahami ayat-ayat ini?

            Pembacaan cepat ayat-ayat ini memberikan kesan bahwa ibu Lemuel mengizinkan penggunaan anggur atau minuman alcohol lainnya bagi orang yang hampir mati (ayat 6) atau bagi orang yang menderita depresi (ayat 7). Bacaan ini, bagaimanapun juga, akan bertentangan bukan hanya dengan konteks yang ada—ibu Lemuel baru saja mengamarkan sang raja terhadap meminum anggur—tetapi juga konteks secara umu dari kitab Amsal, yang secara sistematis dan tegas melarang meminum anggur.

            Selain itu, tidak masuk akal untuk menawarkan sesuatu kepada yang mau mati yang hanya akan membuat kesehatan da kesejahteraan mereka menjadi semakin buruk. Dan memberikan alcohol kepada orang yang depresi adalah seperti memberikan garam kepada seseorang yang sudah mengalami dehidrasi. Jika, sebagaimana kita ketahui, Allah peduli tentang tubuh dan kesehatan kita, tidak masuk akal untuk melihat ayat-ayat ini, khususnya di dalam konteks, mendorong penggunaan alcohol.

            Lebih penting lagi, sebuah analisis penggunaan ungkapan “yang sedang binasa” dalam kitab Amsal mengungkapkan bahwa ayat ini selalu dikaitkan dengan orang jahat (Ams 10:28; 11:7,10; 19:9; 21:28; 28:28). Melalui ungkapan “yang sedang binasa,” ibu Lemuel sesungguhnya menunjuk, dalam kaitannya, kepada orang jahat. Sebagaimana ungkapan “susah hati,” itu mengacu kepada orang-orang yang depresi (Ams 31:6), yang seperti orang jahat menjadi tidak peka dan “melupakan” kemiskinan (Ams 31:7).

            “Setan telah mengumpulkan malaikat-malaikat yang telah jatuh untuk merencanakan beberapa cara untuk melakukan hal yang paling jahat bagi manusia. Usul demi usul telah dikemukakan hingga akhirnya Setan sendiri menyodorkan satu rencana. Dia akan mengambil buah anggur itu, juga gandum dan bahan-bahan lain yang telah diberikan oleh Tuhan sebagai makanan, akan diubahnya menjadi racun, yang akan merusak tubuh, mental dan kuasa moril manusia dan dengan saraf yang demikan rupa sehingga Setan dapat mengendalikan manusia itu sepenuhnya. Oleh pengaruh minuman keras, manusia akan dikendalikan untuk melakukan segala macam kejahatan. Melalui selera makan yang diselewengkan itu dunia ini akan menjadi rusak. Dengan memimpin manusia meminum minuman keras, Setan akan membuat manusia itu makin lama makin rendah derajatnya.”—Ellen G.White, Pertarakan, hl.14.

 

Selasa, 24 Maret

Wanita Saleh

 

          “Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih  berharga dari pada permata” (Ams 31:10).

            Siapakah “wanita saleh” pada Amsal 31:10 ini? Sejumlah petunjuk menunjukkan bahwa penulis memiliki dalam pikiran lebih daripada seorang wanita yang saleh atau istri yang ideal. Mengikuti jejak banyak ayat-ayat dari kitab tersebut (Ams 1:20-33; 3:13-20; 4:5-9; Ams 8), kita memiliki alasan yang baik untuk berpikir bahwa “wanita saleh” melambangkan hikmat. Penjelmaan hikmat sebagai seorang wanita dibenarkan bukan hanya karena kata Ibrani untuk “hikmat,” chokmah, adalah kata benda feminine, tetapi juga karena itu memungkinkan penulis Ibrani untuk menggambarkan semua jenis pelajaran nyata bagi kehidupan kita setiap hari. Hikmat tidak digambarkan sebagai suatu cita-cita yang agung dan tak terjangkau, tetapi sebagai seorang wanita yang sangat praktis dan mudah ditemui yang bisa menjadi pendamping hidup kita.

            Pengajaran terakhir tentang hikmat diberikan melalui puisi Akrostik yang indah: Setiap ayat mulai dengan huruf Ibrani mengikuti urutan abjad, sebagaimana di buku Ratapan dan di Mazmur.

            Bandingkan ayat tentang hikmat di Amsal 8 dengan ayat kita tentang “wanita saleh.” Apakah ciri-ciri “wanita saleh” yang mengingatkan ktia akan hikmat dalam kitab Amsal?

  1. Ia sangat berharga dan penemuan yang berharga (Ams 31:10; 8:35).
  2. Ia lebih berharga daripada permata (Amsa 31:10; 8:10,11, 18, 19).
  3. Ia menyediakan makanan (Ams 31:14, 8:19).
  4. Ia kuat (Ams 31:17, 25; 8:14).
  5. Ia berhikmat (Ams 31:26; 8:1).
  6. Ia dipuji (Ams 31:28; 8:34).

Meskipun kita hidup dalam apa yang disebut era reformasi, dan meskipun kita telah memperoleh begitu banyak pengetahuan lebih daripada generasi sebelumnya, ada sedikit untuk menunjukkan bahwa generasi kita lebih berhikmat dari generasi sebelumnya. Memang, seperti Marhin Luther King Jr. katakan, “Kita memiliki peluru kendali pria sesat.”

Bacalah 1 Korintus 1:21. Apakah yang ayat ini katakan kepada Anda, dan bagaimana ide ini bisa menolong Anda hidup dengan iman?

 

Rabu, 25 Maret

Ia Bekerja

 

          Wanita saleh dalam Amsal 31 tidaklah malas; ia bekerja keras dan sangat aktif. Puisi ini bersikukuh pada sifat ini (Ams 31:27)  yang mencirikan orang berhikmat melawan orang bodoh (Ams 6:6; 24:33,34). Bidang kegiatannya meliputi banyak hal dan konkret. Menjadi rohani tidak berarti bahwa kita harus bermalas-malas, dengan berdalih bahwa kita prihatin dengan isu-isu agama yang sangat penting, sehingga tidak punya waktu untuk mengurus hal-hal “sepele.” (Lihat Luk 16:10). Sang wanita “senang bekerja dengan tangannya” (Am 31:13). Sangat menarik bahwa orang yang sangat rohani ini tidak pernah digambarkan berdoa atau bermeditasi. Dia ditampilkan sebagai seorang wanita yang produktif dan efisien, seperti Marta dalam buku Injil (Luk 10:38-40).

            Bacalah Amsal 31:12, 15, 18. Mengapakah wanita itu selalu bekerja?

            Sang wanita tidak pernah beristirahat. Ia bekerja “sepanjang umurnya” (ay 12), bahkan pada malam hari (ay 15,18). Keaktifan dan kewaspadaannya adalah efektif sepanjang waktu. Alasan untuk perhatiannya yang tetap adalah tanggungjawabnya. Dia harus berada di sana; jika tidak semuanya akan berantakan.

            Bacalah Amsal 31:20,25. Apakah ruang lingkup sementara dari usaha-usahanya?

            Di sini kita tiba pada titik penting mengenai pekerjaan dan usaha kita bahwa itu akan diuji oleh waktu. Hanya masa depan yang akan menyaksikan kualitas perbuatan kita. Bekerja dengan hikmat berarti bekerja dengan masa depan dalam pikiran, bukan hanya untuk hadiah yang langsung.

            Meskipun tidak terlalu berkaitan dengan hal yang sama, prinsip di ayat selanjutnya pada Wahyu sangat penting: “’Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.’ ‘sungguh,’ kata Roh, ‘supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka’” (Why 14:13).

            Jika Anda memiliki seorang wanit yang istimewa dalam hidup Anda (siapa pun dia), apakah yang dapat Anda lakukan untuk menunjukkan penghargaan Anda untuknya dan untuk semua yang ia telah lakukan untuk Anda?

 

Kamis, 26 Maret

Ia Peduli

 

            Bacalah Amsal 31:26-31. Apakah ciri-ciri penting lainnya yang terlihat pada wanita ini? Mengapakah hal-hal ini penting bagi kita semua, terlepas dari siapa kita?

            Sebagaimana telah kita lihat sepanjang kuartal ini, suatu penekanan ditempatkan pada kata-kata, pada apa yang kita ucapkan. Sang wanita dikenal karena hikmatnya dan kebaikan hatinya. Keduanya berkaitan. Bagaimanapun juga, tidak bisakah seseorang menunjukkan bahwa kebaikan adalah bentuk lain dari hikmat, terutama ketika kita memahami bahwa hikmat bukan hanya yang kita tahu tetapi yang kita ucapkan dan lakukan?

            Perhatikan juga, kalimat “hukum kebaikan.” Artinya, kebaikan bukanlah sekadar atribut sekilas yang keluar dari mulut sang wanita sekarang dan kemudian. Itu adalah hukum, prinsip eksistensinya. Bagaimana kuatnya hal itu jika “hukum kebaikan” memandu semua yang keluar dari mulut kita.

            Bacalah Amsal 31:30. Apakah pokok penting dinyatakan di sini yang begitu sering dilupakan?

            Terlau sering wanita-wanita dinilai hanya dari segi penampilan luar; itulah suatu penilaian yang dangkal dan sekadar rupa. Alkitab menjelaskan betapa “sia-sia,” betapa kosong sikap semacam itu pada akhirnya. Kecantikan sejati wanit ini ditemukan dalam tabiatnya dan bagaimana karakter itu dinyatakan di dalam hidup dan pekerjaannya. Kecantikan akan pasti berlalu; karakter dapat bertahan selamanya. “sebuah nama besar di antara manusia adalah seperti huruf-huruf ditemukan di pasir, tetapi karakter tak bercela akan bertahan selama-lamanya.”—Ellen G.White, God’s Amazing Grace, hlm.81.

            Dalam bidang kehidupan Anda yang manakah Anda perlu melihat karakter Anda berkembang? Mendoakan hal itu baik juga, namun langkah-langkah positif yang nyata apakah yang Anda harus ambil untuk melihat pertumbuhan?

 

Jumat, 27 Maret

 

            Pendalaman: “Ketika memanjakan selera mereka untuk anggur dan sementara berada pada rangsangan yang menggairahkan, pertimbangan mereka diredupkan, dan mereka tidak bisa melihat perbedaan antara yang suci dan biasa. Bertentangan dengan petunjuk Allah yang jelas, mereka [Nadab dan Abihu] menolak Dia oleh memperembahkan apai yang biasa bukan api suci. Allah menemui mereka dengan murka-Nya; api keluar dari hadapan-Nya dan menghancurkan mereka.”—Ellen G.White, Testimonies for the Church, jld. 3, hlm.295.

            ”Biarlah anak-anak dan orang muda belajar dari Kitab Suci bagaimana Allah menghormati pekerjaan sehari-hari para pekerja… Biarlah mereka membaca… Tentang wanita yang bijaksana dilukiskan dalam buku Amsal, yang ‘mencari bulu domba dan rami dan senang bekerja dengan tangannya;’ yang ‘menyediakan makanan untuk seisi rumahnya, dan membagikan tugas kepada pelayan-pelayannya perempuan,’ yang ‘ditanaminya kebun anggur,’ ‘dan menguarkan lengannya;’ yang ‘memberikan tangannya kepada yang tertindas; mengulurkan tangannya kepada yang miskin,’ yang ‘mengawasi segala perbuatan rumah tangganya, makanan kemalasan tidak dimakannya.’ Amsal 31:13, 15, RV; 31:16,17,20,27.”—Ellen G.White, Membina Pendidikan Sejati, hlm.202.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Mengapa pantangan sepenuhnya terhadap alcohol adalah satu-satunya pilihan yag tepat? Bagaimanapun juga, apakah kemungkinan yang baik dapat muncul dari penggunaan alcohol jenis apa saja? Di sisi lain, pikirkan tentang semua kerusakan yang sering disebabkan alcohol!
  2. Pikirkan lagi ide bahwa meskipu kita mempuyai lebih banyak pengetahuan, tidak serta-merta kita memiliki lebih banyak hikmat. Dengan cara apakah pengetahuan tanpa hikmat bisa lebih berbahaya daripada kurangnya pengetahuan tanpa hikmat? Apa sajakah contoh-contoh terkini yang bisa kita lihat betapa merusaknya pengetahuan tanpa hikmat?
  3. Tinjau kembali karakteristik-karakteristik “wanita saleh.” Bagaimanakah prinsip-prinsip di balik yang terungkap dalam situasi yang khusus ini diterapkan kepada orang-orang percaya, apa pun jenis kelamin mereka atau status pernikahan, atau usia?
  4. Kitab Amsal dipenuhi dengan hikmat praktis. Ini seharusnya menyatakan kepada kita bahwa agama kita, dengan semua teologinya dan dimensi-dimensi rohaninya, memiliki sisi yang sangat praktis. Bagaimana kita bisa memastikan bahwa kita tidak mengabaikan aspek-aspek praktis iman sebagaimana kita berusaha untuk memenuhi dimensi-dimensi teologis dan rohani dari Allah.