Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pelajaran Sekolah Sabat “Kerendahan Hati Orang Berhikmat” (14-20 Maret)

Pelajaran 12,                                                                         14-20 Maret

 

 

Kerendahan Hati Orang Berhikmat

 

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: AMS 30; LUK 18:9-14; AYB 38-40:2; 1 YOH 1:9; WHY 3:14-18; MZM 104:24.

AYAT HAFALAN: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga” (Matius 5:3).

            Di dalam Alkitab, kerendahan hati dianggap sebagai sifat baik yang penting. Yang terbesar dari antara para nabi, Musa, dinyatakan sebagai orang yang paling rendah hati yang pernah hidup (Bil 12:3). Menurut Mikha 6:8, tugas utama yang Tuhan harapkan dari manusia adalah “hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu.” Yesus, juga, menegaskan bahwa kerendahan hati adalah satu cita-cita yang orang Kristen harus miliki: “Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga” (Mat 18:4).

            Bagaimanapun juga, apa yang seseorang harus sombongkan? Setiap napas, setiap detak jantung, setiap pemberian, setiap talenta, datang hanya dari Allah, yang di dalamnya “kita hidup, kita bergerak, kita ada “ (Kisah 17:28). Dan di dalam terang salib, bahkan semua kebenaran kita adalah seperti “kain kotor” (Yes 64:6); bagaimanakah, kemudian, kita bisa sombong?

            Pekan ini Amsal melihat pada kerendahan hati; mempertimbangkan situasi kita, seberapa bodohkah menjadi sesuatu tetapi rendah hati?

Minggu, 15 Maret

Siapakah Anda Pikir Diri Anda?

 

          Bacalah Amsal 30:1-3, 32,33. Bersama-sama, apakah yang ayat-ayat ini sampaikan?

            Penyangkalan diri yang terlihat dalam ayat-ayat tersebut sungguh-sungguh sebuah terobosan dari kebiasaan meninggikan diri raja-raja Timur Dekat kuno, yang sering suka menyombongkan hikmat mereka, prestasi-prestasi, dan kemenangan militer. Salomo sendiri dicatat melebihi “semua raja di bumi dalam kekayaan dan hikmat” (1 Raj 10:23; Pkh 2:9). Dan kemudian, tentu saja ada Nebukadnezar, yang menyatakan: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” (Dan 4:30).

            Karena penulis kita memahami kebodohannya sendiri, ia menyebut membual itu “bodoh.” Kata Ibrani untuk “bodoh” di sini adalah nabal, yang adalah nama dari Nabal, yang perilakunya menunjukkan kesombongan yang bodoh juga (1 sam 25). Membual seperti itu, yang menyiratkan kesombongan, juga membawa potensi untuk penghinaan dan dengan demikian, menimbulkan amarah dan perselisihan. Rasul Paulus juga menyebut beberapa anggota jemaatnya “bodoh” yang menganggap diri mereka sendiri berhikmat dan, dan bukan lebih buruk, membual hal itu (2 Kor 11:18,19).

            Bacalah Lukas 19:9-14. Mengapa lebih mudah menjadi seperti orang Farisi daripada yang orang mungkin pikirkan? Bagaimanakah kita bisa merasa pasti bahwa kita tidak jatuh ke dalam perangkap yang sama bahkan dalam cara yang paling halus?

            Anda harus merasa kasihan terhadap orang-orang yang membual (biasanya itu untuk menutupi rasa tidak aman); itu menunjukkan betapa menipu diri sendiri dan bebalnya mereka.

Senin, 16 Maret

Pengetahuan Allah?

 

            Kesombongan muncul pada mereka yang tidak mengenal Tuhan secara pribadi. Sebaliknya, orang yang hidup dalam persekutuan dengan Allah akan rendah hati, karena ia terus-menerus berhubungan dengan Dia yang jauh lebih hebat daripada kita. Ketika kita berpikir tentang ukuran alam semesta dan menyadari bahwa kita menyembah Dia yang menciptakan alam semesta itu, dan bahwa Allah yang sama ini menderita di dalam diri Yesus di kayu salib bagi kita, maka sulit untuk membayangkan bagaimana kita bisa bergumul dengan kesombongan sementara menjaga pemikiran ini di hadapan kita.

            Bacalah Amsal 30:3-6. Apakah yang ayat-ayat ini katakan kepada kita tentang kuasa, keagungan, dan misteri Allah?

            Ungkapan “pengetahuan Allah” harus dipahami sebagai arti “Pengetahuan tentang Allah.” Lima pertanyan retoris (yang tidak perlu dijawab) kemudian ditanyakan, yang memaksa kita untuk menyadari betapa banyak tentang Allah yang kita benar-benar tidak mengerti.

            Bacalah pertanyaan-pertanyaan itu dalam Amsal 30:4. Apakah tantangan yang mereka berikan kepada kita?

            Karena Allah adalah Pencipta (empat pertanyaan pertama), Ia tetap jauh melampaui pemahaman kita (pertanyaan kelima). Dalam buku Ayub, Allah menantang Ayub dengan pertanyaan serupa sehingga Ayub menyadari bahwa ia tidak bisa memahami Allah atau jalan-jalan-Nya (Ayb 38-40:2).

            Fakta bahwa Allah adalah Pencipta, dan bahwa kita tidak dapat sepenuhnya memahami Dia, memberi kita pelajaran penting tentang bagaimana kita harus menerima wahyu-Nya yang tertulis, yang para ahli selalu ragukan. Siapakah kita—yang pemahaman bahkan hal-hal yang paling sederhana di alam adalah gelap dan penuh misteri—menantang Firman Allah, bahkan bagian-bagian yang membingungkan atau mengganggu kita?

            Tetap pada keagungan dan misteri ciptaan itu sendiri. Apakah yang hal ini nyatakan kepada kita tentang keagungan dan misteri Sang Pencipta? Mengapa keangungan dan misteri ini harus memberi kita ketenangan dan pengharapan?

 

Selasa, 17 Maret

Tidak Terlalu Banyak Juga Tidak Terlalu Sedikit

 

          Ayat ini (Ams 30:7-9) berisi satu-satunya doa dalam kitab Amsal. Ini bukanlah secara kebetulan bahwa permohonan ini segera mengikuti penegasan Allah sebagai Pencipta Agung (Ams 30:4) dan janji kesetiaan-Nya (Ams 30:5).

            Bacalah Amsal 30:7-9. Mengapakah seseorang seharusnya meminta hal-hal tersebut?

            Sebelum kita meminta apa pun kepada Allah, penting untuk memastikan hubungan kita dengan Dia adalah teguh. Jika kita berdusta, maka kita bertindak seolah-olah Allah, yang mengetahui segala sesuatu, bahkan tidak ada. Inilah sebabnya mengapa pengakuan dosa kita merupakan prasyarat untuk pengampunan (1 Yoh 1:9). Kita tidak bisa menipu Allah; Dia melihat kita persis sebagaimana kita ada. Ketika kita berdoa, gerakan dramatis bersujud, berbaring dalam debu seperti orang mati (Rat 3:29), mengungkapkan bukan hanya rasa hormat dan kerendahan hati kita, tetapi menunjukkan kesadaran akan ketelanjangan rohani kita di hadapan-Nya.

            Dalam Amsal 30:8, penulis meminta Allah untuk “memberikan” bukan kemiskinan dan bukan kekayaan. Pertama kali kata kerja “memberikan” digunakan dalam Alkitab dalam kaitannya dengan manusia, itu berkaitan dengan karunia Allah berupa makanan (Kej 1:29). Inilah sebabnya dalam banyak budaya makanan secara tradisi dikaitkan dengan doa. Kebutuhan dasar ini, yang membuat kita begitu bergantung pada Allah Pencipta, menempatkan pengalaman berdoa pada inti kelangsungan hidup kita.

            Kedua permintaan tidak bertujuan hanya pada keseimbangan karakter manusia. Mereka menyatu dalam satu tujuan: Kemuliaan Allah. Jika kita mendapat terlalu sedikit, kita bisa saja mencuri dan menghina Allah; jika mendapat terlalu banyak, kita tidak merasakan kebutuhan akan Allah dan bahkan mungkin menyangkal keberadaan-Nya. Bagaimana pun, perlu dicatat, bahwa hanya keadaan yang terakhir yang bisa menuntun kepada putus hubungan dari Allah; yang pertama kemungkinan akan membuat kita tetap berhubungan dengan-Nya.

            Doa Bapa Kami membawa dua perhatian ganda: (1) “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (Mat 6:11) menyediakan untuk kebutuhan kita dan tidak lebih; dan (2) “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Mat 6:33) mengurusi kebutuhan kita dan tidak kurang.

            Pikirkan tentang betapa bergantungnya Anda pada Allah. Bagaimanakah menjaga fakta yang sebenarnya itu selalu di dalam pikiran Anda bisa menolong Anda bertumbuh di dalam iman? Apakah bahaya-bahaya yang datang ketika kita melupakan ketergantungan ini?

 

Rabu, 18 Maret

Tindakan-tindakan yang Sombong

 

            Sebagaimana kerendahan hati adalah positif dan membawa berkat, kurangnya kerendahan hati berbahaya dan membawa kutuk. Setela mendorong keutamaan kerendahan hati oleh menunjukkan pahala dan buahnya, Amsal 30 memberikan peringatan keras tentang bahaya yang datang dari kesombongan.

            Mengutuki orangtuamu (Ams 30:11, 17). Agur mulai dengna kategori ini, karena itu merupakan tindakan yang paling serius dari kesombongan, ketika anak-anak membeci sumber hidup mereka. Secara signifikan, menghormati dan memberkati orangtua adalah satu-satunya perintah yang terkait dengan janji kehidupan (Kel 20:12; Ef 6:2,3), ketika hukuman kematian dijelaskan bagi pelanggarannya (Kel 21:15, 17).

            Kebenaran diri sendiri (Ams 30:12, 20). Keadaan orang-orang berdosa yang menganggap diri mereka sendiri orang benar adalah buruk, karena mereka akan tinggal dalam dosa mereka, percaya bahwa mereka murni dan tidak membutuhkan pengampunan. Ini sebabnya mengapa pengakuan dosa begitu mendasar untuk mendapatkan pengampunan (1 Yoh 1:9). Jemaat Laodikia, yang mengaku bahwa mereka kaya, cerdas, dan berpakaian (meskipun tidak menyadari bahwa mereka miskin, buta dan telanjang), dinasihati untuk memperoleh dari Allah alat-alat untuk memperbaiki kondisi mereka yang menyedihkan (Why 3:14-18).

            “Di sini ditunjukkan mereka yang membanggakan diri mereka sendiri dalam kepemilikan mereka akan pengetahuan dan keuntungan-keuntungan rohani. Tetapi mereka tidak menanggapi berkat-berkat yang tak terhingga yang Allah telah anugerahkan kepada mereka. Mereka telah penuh dengan pemberontakan, rasa tidak berterima kasih, dan melupakan Allah; dan Dia masih berurusan dengan mereka sebagai yang penuh kasih ayah pemaaf yang berurusan dengan yang tidak tahu berterima kasih, anak bandel. Mereka telah menolak kasih karunia-Nya, menyalahgunakan hak-hak istimewah-Nya, meremehkan kesempatan-Nya, dan telah dipuaskan untuk tenggelam dalam kepuasan, dalam rasa tidak berterima kasih yang menyedihkan, formalism kosong, dan kemunafikan ketidaktulusan hati.”—Ellen G.White, Faith and Works, hlm.83.

            Penghinaan (Ams 30:13, 14). Gambaran kesombongan yang disajikan di sini tidak menarik. Meskipun mereka memiliki tampilan sombong di wajah mereka, kesombongan tidak hanya tinggal disitu saja: itu diwujudkan dalam penghinaan yang mereka sampaikan kepada yang mereka anggap di bawah mereka. Gambaran “gigi geligi” dan “gigi” (Ams 30:14) menunjukkan betapa buruk tindakan mereka.

            Pikirkan bagaimana Anda memperlakukan orang lain, terutama mereka kepada siapa Anda mungkin merasa superior (banyak diantara kita memiliki perasaan seperti itu beberapa kali, bukan? Bagaimanakah Anda bisa membuatnya benar? Bagaimanakah Anda dapa menampilkan kerendahan hati yang diperlukan untuk membuatnya benar?

 

Kamis, 19 Maret

Pelajaran dari Alam

 

            Di seluruh Alkitab, gambaran dari Alam telah digunakan untuk mengajarkan kebenaran-kebenaran rohani. Di sini, juga, menggunakan alam, amsal mengajarkan kita pelajaran tentang kerendahan hati.

            Bacalah Amsal 30:18,19. Apakah yang disampaikan di sini, juga, tentang batas-batas pemahaman manusia?

            Agur melihat misteri bahkan dalam banyak hal-hal yang “umum.” Ini adalah suatu campuran misteri-misteri yang menarik yang ia hadirkan di sini. Dua yang pertama adalah dari binatang, elang yang melayang melintasi langit, ular perlahan bergerak di bumi. Dia kemudian bergeser kepada dua tindakan manusia: sebuah kapal di laut, dan seorang pria dengan seorang wanita. Bahkan saat ini, dengan semua pengetahuan ilmiah kita, masih begitu banyak misteri. Betapa pentingnya agar kita tidak pernah kehilangan apresiasi kita terhadap kedalaman dan keagungan hidup. Sikap itu pasti akan menolong kita tetap rendah hati di hadapan Allah.

            Bacalah Amsal 30:24-28. Apakah misteri-misteri lain dari alam menarik perhatian penulis yang terpesona?

            Sungguh menarik bahwa ayat-ayat sebelumnya (Ams 30:20-23) berkaitan dengan kebodohan manusia, kesombongan, dan perbuatan jahat. Dia kemudian bergeser ke dunia hewan, menunjuk kepada mahluk-mahluk kecil dan rendah hati, meskipun dia menggunakan kata Ibrani yang sama untuk “hikmat” dalam referensi untuk mereka (mahluk-mahluk) yang digunakan dalam referensi kepada manusia (Ams 3:13)  dan bahkan Allah sendiri (Ayb 12:13; Mzm 104:24). Bahkan saat ini, dengan semua kemajuan kita dalam ilmu pengetahuan, bagaimana mahluk-mahluk ini melakukan apa yang mereka lakukan tetap di luar pemahaman kita sepenuhnya. Betapa lagi tindakan-tindakan mereka pasti telah membingungkan orang berhikmat ini di zamannya. Dan dia memang berhikmat, karena salah satu bukti utama dari hikmat adalah mengakui betapa sedikitnya yang kita tahu, bahkan hal-hal yang umum.

            Pikirkan beberapa hal-hal “sederhana” di alam: Daun pohon; setetes air; kulit kerang. Bagaimanakah seharusnya fakta bahwa hal-hal yang penuh misteri ini membuat kita tetap rendah hati?

 

Jumat, 20 Maret

          PENDALAMAN: “Kita harus menghormati firman Allah. Terhadap buku yang tercetak itu kita harus menunjukkan penghormatan, jangan sekali-kali menggunakannya secara umum, atau memegangnya dengan tidak hati-hati. Dan jangan sekali-kali Alkitab dikutip untuk lelucon atau kelakar, atau menafsirkannya untuk menunjukkan perkataan jenaka. ‘Semua firman Allah adalah murni;’ ‘bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah’ (Ams 30:5; Mzm 12:7).”—Ellen G. White, Membina Pendidikan Sejati, hlm. 228,229.

            “Perkataan yang pertama yang diucapkan Kristus di atas bukit itu adalah kata bahagia. Berbahagialah mereka, kata-Nya, yang merasa dirinya miskin rohani dan yang merasa perlu akan keselamatannya. Injil itu harus disebarkan kepada orang miskin. Bukan menyombongkan kerohanian, mereka yang mengaku dirinya kaya dan yang tidak memerlukan pertolongan, melainkan bagi mereka yang rendah hati dan yang menyesal…. Tuhan tidak dapat berbuat sesuatu untuk memulihkan manusia sampai manusia itu mengakui kelemahannya, dan mengukir segala kesombongan diri, dan menyerahkan dirinya ke bawah pengawasan Tuhan. Kemudian barulah ia dapat menerima pemberian Allah yang sudah siap untuk dicurahkan. Dari jiwa yang merasakan kebutuhannya, tidak ada yang ditahankan. Ia tidak dihalangi datang kepada Dia di dalam siapa berdiam segala kesempurnaan.”—Ellen G.White, Alfa dan Omega, jld.5, hlm.319.

 

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Pikirkan rencana keselamatan dan apa yang diperlukan untuk menyelamatkan kita. Artinya, kita begitu jatuh, begitu korup, begitu jahat, bahwa regenerasi saja tidak akan cukup untuk menebus kita dari dosa. Tidak peduli berapa banyak kita diubahkan dan dipulihkan, bahwa regenerasi dan pemulihan tidak dapat menyelamatkan kita. Kita butuh pengganti, seseorang yang secara hukum berdiri di tempat kita dan kebenarannya saja sudah cukup untuk membuat kita benar di hadapan Allah. Apakah yang realitas ini sendiri seharusnya nyatakan kepada kita tentang mengapa kesombongan dan kebanggan pasti menjadi beberapa dosa terburuk dalam mahluk-mahluk berdosa seperti kita?
  2. Apakah beberapa cara berbeda tentang keberadaan kita bergantung pada Allah? Apakah hal-hal di alam itu sendiri yang menunjukkan kepada kita bagaimana Allah menopang keberadaan kita?
  3. Pikirkan lebih lanjut doa dalam Amsal 30:7-9. Lihatlah keseimbangan di sana. Bagaimanakah kita menemukan keseimbangan dalam semua yang kita lakukan? Mengapakah ini sangat penting?