Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pelajaran Sekolah Sabat “Hidup Oleh Iman” (07-13 Maret)

Pelajaran 11                                                                                          *7-13 Maret 2015

 

Hidup oleh Iman

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: AMS 28:4,7,9; ROMA 1:16,17; GAL 3:24; AMS 28:5; 1 YOH 2:15-17; AMS 29:13.

AYAT HAFALAN: “Takut kepada orang mendatangkan jerat, tetapi siapa percaya kepada TUHAN, dilindungi” (Amsal 29:25).

Begitu banyak suara yang berteriak kepada kita dari banyak arah. Bagaimanakah orang mengetahui apa yang benar dan apa yang salah? Jawabannya ditemukan di dalam Allah dan wahyu-Nya yang tertulis. Kita harus belajar untuk mengendalkan Allah dan menuruti hukum-Nya. Kemudian sisanya akan mengikuti dengan sendirinya.

Yesus menyampaikan ini kepada kita ketika Ia berkata untuk “carilah dahulu kerajaan Allah,” dan kemudian semua yang kita butuhkan akan diberikan (Mat 6:33). Kita harus menjadikan kepercayaan dan mengikut Allah sebagai prioritas pertama kita; jika tidak , kita akan menjadikan yang lainnya itu prioritas, yang adalah penyembahan berhala, teori dan yang biasa. Dan kita bisa belajar untuk mempercayai Allah hanya oleh menghidupkan kehidupan iman. Perjalanan Kristen hanyalah itu saja, berjalan; kita harus membuat pilihan-pilihan untuk melakukan hal-hal yang Tuhan telah perintahkan kepada kita agar dilakukan, dan kemudian membiarkan konsekuensi-konsekuensinya kepada-Nya.

Minggu, 08 Maret

Memelihara Hukum

 

            Dari antara 13 kemunculan kata Torah—“hukum” atau “pengajaran”—dalam kitab Amsal, empat di antaranya ada di Amsal 28 (ayat 4 [dua kali], 7, 9). Meskipun penggunaan ini dalam Amsal berlaku normal kepada “pengajaran” orang berhikmat (Ams 13:14), dalam tradisi orang Israel kata tersebut memiliki konotasi rohani dan merujuk kepada ilham Ilahi, seperti yang dibuktikan dalam kitab Amsal itu sendiri (Ams 29:18).

            Bacalah Amsal 28:4,7, dan 9. Apakah yang ayat-ayat ini nyatakan kepada kita tentang pentingnya hukum dalam cara kita hidup?

Apa yang membuat orang Israel berbeda dari bansa-bangsa lain bukanlah cara berpikir mereka, atau bahkan pandangan “rohani” dan teologis abstrak mereka. Itu adalah pilihan-pilihan konkret mereka dalam hidup, antar lain, tentang makanan, istirahat, lingkungan alam, dan hubungan mereka dengan tetangga dan keluarga yang membuat mereka “kudus,” atau “diasingkan” dari semua bangsa-bangsa lain. Dan idealnya, pilihan-pilihan tersebut berpusat pada hukum dan prinsip-prinsip yang ditemukan di dalamnya.

Bagaimana pun juga, manusia tidak bisa oleh dirinya sendiri menjadi berkhitmat; kita bahkan tidak selalu bisa membedakan antara yang baik dan jahat (1 Kor 3:9). Jadi, kita perlu hukum Ilahi untuk menolong kita memperoleh kearifan. Dengan kata lain, perolehan hikmat tidak bergantung pada intelektual atau pengalaman rohani; melainkan pada dasarnya berkaitan dengan penurutan kepada hukum yang berada di luar diri kita, budaya kita, kejiwaan kita, dan keinginan kita.

Hukum ini, tentu saja, hukum abadi Allah. Dan menuruti hukum itu sesungguhnya adalah sebuah tindakan iman. “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, sebab ada tertulis: ‘Orang benar akan hidup oleh iman’” (Rm 1:16,17).

            Apakah kesulitan dan masalah yang Anda telah hindari karena Anda telah membuat sebuah komitmen oleh iman untuk memelihara perintah Allah? Betapa berbedanyakah hidup Anda jika Anda tidak memeliharanya?

 

Senin, 09 Maret

Mencari Tuhan

 

Tidak peduli seberapa penting itu bagi kehidupan iman, Hukum (Taurat) itu sendiri bukanlah sumber kehidupan. Sebaliknya, hukum menunjukkan dosa, dan dosa menyebabkan kematian (lihat Rm 7:7-13). Sebaliknya, apa yang membuat Taurat itu efektif adalah  bahwa itu berasal dari Allah. Terpisah dari Allah, Taurat akan menjadi keyakinan legalisme yang tidak ada hubungannya dengan maksud-Nya semula. Sebuah kehidupan yang taat kepada hukum Allah berkaitan dengan kehidupan dengan Allah. Taurat tidak menggantikan Allah; melainkan hanya guru yang (menurut analogi Paulus) menuntun para murid kepada tuan mereka (Gal 3:24).

Bacalah Galatia 3:24 sesuai konteksnya. Bagaimanakah hukum menunjuk kita kepada Yesus, sehingga kita sesungguhnya bisa “dibenarkan oleh iman”?

            Kitab Amsal bukan hanya sebagai buku hikmat; melainkan pertama-tama itu adalah sebuah buku tentang Allah yag telah mengungkapkan hikmat. Mencari hikmat oleh menuruti hukum akan menari kita lebih dekat kepada Tuhan dan kepada keselamatan yang Ia berikan dengan Cuma-Cuma kepada kita oleh iman dalam Yesus.

Bacalah Amsal 28:5. Apakah kunci bagi kita untuk “memahami semuanya?”

            Kata “memahami” digunakan dua kali dalam ayat 5, seperti kata “hukum” di ayat 4. Kedua ayat saling berkaitan: memelihara hukum (ayat 4) dan mencari Tuhan (ayat 5) saling melengkapi. Ruang lingkup aktivitas ini, bagaimanapun juga, bukan hanya mengetahui dan melakukan apa yang benar (“keadilan” [ayat 5, NKJV]). Pemahaman ini menyangkut “semua” hanya karena berasal dari Allah atas “semua.” Bagi Israel kuno, pengetahuan tentang segala sesuatu tidaklah terpisah dari pengalaman rohani. Iman itu terkait erat dengan kecerdasan dan pemahaman rasional. Tidaklah terbayangkan untuk memiliki iman tanpa pemikiran atau pemikiran tanpa iman, karena Allah adalah dasar kedua domain tersebut.

Mengapakah iman dalam Allah adalah suatu posisi rasional untuk  dipegang? Mengapa lebih tidak masuk akal dan tidak rasional untuk menolak Allah ketimbang percaya kepada-Nya?

Selasa, 10 Maret

Firman bagi Orang Kaya

 

          Bacalah 1 Yohanes 2:15-17. Apakah amaran yang disampaikan kepada kita di sini, dan bagaimanakah kita bisa melindungi diri kita sendiri dari bahaya yang ayat-ayat ini sampaikan?

            Meskipun gagasan tentang apa artinya menjadi “kaya” sangatlah bervariasi, kitab Amsal dilengkapi dengan beberapa pentunjuk tentang bagaimana mendapatkan “kekayaan” dan kemudian bagaimana mengurus “kekayaan Anda” setelah engkau mendapatkannya.

  1. Jangan memperoleh kekayaan dengan mengorbankan orang miskin (Ams 28:8). Kekayaan Anda tidak dibenarkan jika Anda memperolehnya dengan mengorbankan orang miskin. Sebagaimana telah kita lihat, Alkitab berbicara dengan keras menentang mereka yang mengeksploitasi orang miskin untuk keuntungan mereka.
  2. Memberi kepada orang miskin (Ams 28:27). Berbeda dengan “loba” pada Amsal 28:25 (secara harafiah, “besarnya jiwa/nafsu makan”), orang yang murah hati kepada orang miskin akan diberkati.
  3. Kerja keras (Ams 28:19). Kekayaan seharusnya tidak berasal dari hasil mencuri atau secara kebetulan, tetapi sebagai upah kerja keras kita. Apa yang diperoleh bergantung pada kualitas pekerjaan. Jika kita kaya, kita memang layak mendapatkannya.
  4. Jangan berusaha cepat kaya (Ams 28:20,22). Amsal kita menghadirkan dua scenario penting: (1) Ketika kita menutup satu mata untuk beberapa tindakan tidak jujur dan, sebagai akibatnya, menjadi terlibat di dalam tindakan itu (Ams 28:22); (2) Ketika kita begitu bersemangat untuk menikmati kekayaan orangtua kita berarti kita merampok mereka dari apa yang mereka butuhkan untuk hidup sekarang (Ams 28:24). Lebih buruk lagi, mereka yang melakukan hal-hal tersebut dapat membenarkan perbuatan-perbuatan salah dalam pemikiran mereka sendiri hingga mereka meyakinkan diri bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Oleh karena itu, mereka berkata, “itu bukan pelanggaran.”

Uang adalah kekuatan yang sangat kuat di dunia ini, itulah sebabnya mengapa Alkitab berbicara banyak tentang hal itu. Jika, seperti kebanyakan orang lainnya, Anda menginginkan uang, bagaimanakah Anda bisa memastikan bahwa Anda tidak jatuh ke dalam perangkap yang Yesus sebut “tipu daya kekayaan” (Mrk 4:19)?

Rabu, 11 Maret

Buku Penuntun bagi Orang Miskin

 

Bacalah Amsal 29:13. Apakah yang sedang dibicarakan di sini?

            Orang miskin dan orang kaya adalah sederajat (Ams 29:13). Gambaran cahaya yang digunakan  dalam amsal ini menempatkan masalah ini dalam perspektif penciptaan. Baik orang kaya dan orang miskin menikmati karunia kehidupan, dan matahari bersinar bagi keduanya. Sebagaimana orang kaya telah diamarkan bagaimana mereka memperlakukan orang miskin, orang miskin bahkan harus mencintai para penindas mereka, yang mungkin dalam beberapa kasus boleh jadi adalah orang kaya (Mat 5:44,45).

Apakah pekabaran Amsal 28:3?

            Orang miskin mempunyai tugas yang sama sebagaimana orang kaya (Ams 28:3). Kemiskinan seharusnya tidak menjadi alasan untuk kejahatan. Kenyataan bahwa Anda mungkin telah ditindas serta merta tidak memberikan kepada Anda izin untuk menindas orang lain. Perumpamaan Yesus tentang hamba yang tidak mengenal ampun yang menindas orang yang lebih miskin dari dirinya menunjukkan bahwa tindakan ini, meskipun tidak diharapkan oleh pihak si miskin (yang mungkin berpikir akan lebih bersimpati kepada orang miskin lainnya), bukanlah luar biasa (Mat 18:22-35). Dalam Amsal 28:3, gambaran hujan, yang biasanya adalah berkat, ternyata berubah menjadi semburan air yang merusak; gambaran ini mengilustrasikan kelainan perilaku dan kekecewaan yang hal itu timbulkan.

Apakah pekabaran Amsal 28:6?

            Orang miskin yang benar lebih baik daripada orang miskin yang jahat (Ams 28:6). Menurut hikmat tradisional, orang benar tidak seharusnya menjadi miskin, karena kemiskinan diduga hukuman yang adil bagi orang malas (Ams 24:34). Namun, kenyataan hidup lebih sulit lagi. Orang miskin mungkin menjadi korban ketidakadilan atau keadaan-keadaan diluar kendali mereka. Hal ini sering terjadi. Namun demikian, skala nilai yang dipertahankan oleh kitab Amsal adalah jelas dan terang. Kebenaran lebih penting daripada kekayaan, dan kesuksesan bukanlah sebuah indikator yang mudah dan aman bagi kebenaran.

Apakah yang dapat kita lakukan ketika tergoda untuk mengkompromikan nilai-nilai kita guna keuntungan materi? Bagaimanakah kita bisa melindungi diri kita sendiri oleh melakukan sesuatu seperti ini, yang lebih mudah untuk melakukannya daripada yang kita sadari?

Kamis, 12 MARET

Mencintai Kebenaran

 

                Dari semua hal yang kita bisa ajarkan kepada anak-anak kita, para siswa kita, atau siapa saja yang terbuka untuk belajar dari kita, mungkin pelajaran yang paling penting bisa ditemukan di sini, seperti Paulus, yang menulis tentang yang tersesat, berkata bahwa, “Mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran” (2 Tes. 2:10). Tentu saja, karena Yesus adalah Kebenaran, mengajar orang lain untuk mencintai kebenaran berarti mengajar mereka untuk mencintai Yesus, dan apa lagi yang benar-benar berarti?
”Garis penyelidikan apa pun yang kita tempuh, dengan maksud yang ikhlas untuk mencapai kebenaran, kita akan berkenalan dengan Oknum tak kelihatan, yang besar kepandaian-Nya, yang bekerja pada dan melalui semua orang. Pikiran manusia dibawa ke dalam persekutuan dengan pikiran Allah, yang fana dengan yang baka. Hasil persekutuan tersebut terhadap tubuh dan pikiran serta jiwa tidaklah dapat diperkirakan.” — Ellen G White, Membina Pendidikan Sejati, hlm. 10.

   Bacalah Amsal 29:15 (lihat juga Ams. 29:19). Apakah prinsip penting yang terlihat di sini, bukan hanya dalam pendidikan tetapi dalam kehidupan pada umumnya?

Meskipun teladan kita adalah penting— khususnya bagi mereka yang kita tidak bisa tegur atau hukum— dalam beberapa kasus lebih banyak diperlukan. Hal ini terutama benar bagi anak-anak kita. Pada saat tertentu anak-anak perlu dihukum agar dapat diselaraskan.
Sifat alami kita adalah semua telah jatuh dan korup, dan ini termasuk makhluk-makhluk kecil yang manis yang kita kasihi, anak-anak kita. Kita tidak memberikan anak-anak kita atau diri kita sendiri pesetujuan apa pun oleh membiarkan mereka melakuakan apa pun yang mereka inginkan. Anak-anak, kenyataannya tidak hanya membuthkan disiplin—mereka menginginkannya. Anak-anak, kenyataannya tidak hanya membutuhkan disiplin—mereka menginginkannya. Mereka perlu tahu bahwa batas-batas itu ada, dan bahwa mereka harus tetap tinggal di dalamnya. Seorang ibu yang percaya bahwa ia harus menghormati kebebasan anak-anaknya dan membiarkan mereka melakukan apa pun yang mereka inginkan tanpa pernah berkata. “tidak” kepada mereka, pada akhirnya akan membawa “malu” (Ams. 29:15) bagi dirinya sendiri dan , tidak diragukan lagi, duka kepada anak-anak—- jika bukan sekarang, maka tentunya ketika anak-anak menjadi dewasa.

Apakah pelajaran-pelajaran yang anda dapatkan sebagai seorang dewasa bagi seorang anak yang melekat dengan Anda? Bagaimanakah petahuan itu telah menolong membuat hidup Anda lebih baik saat ini?

JUMAT, 13 MARET

                      PENDALAMAN: “Hukum-hukum Allah memiliki dasar mereka dalam kejujuran yang abadi, dan sangat tersusun supaya mereka akan mempromosikan kebahagiaan orang-orang yang menurutinya….. Agama membawa manusia ke dalam hubungan pribadi dengan Allah, tetapi tidak eksklusif; karena prisnsip-prinsip surga harus dihidupkan, agar mereka boleh menolong dan memberkati umat manusia. “—–Ellen G. White, Sons and Daughters of God, hlm. 267.
“Melalaikan sama sekali pendidikan anak-anak bagi Tuhan telah mengabadikan kejahatan dan melemparkan ke dalam jajaran musuh banyak orang yang dengan perhatian yang bijaksana mungkin telah bekerja sama dengan Kristus. Ide-ide palsu dan bodoh, kasih sayang yang salah arah telah menumbuhkan sifat yang membuat anak-anak tidak menyenangkan dan tidak berbahagia, telah menyakiti kehidupan orangtua, dan telah memperluas pengaruh buruk mereka dari satu generasi ke generasi. Setiap anak yang diizinkan memiliki caranya sendiri akan menghina Allah dan mendatangkan malu kepada ayah dan ibu nya…. Oleh mengabaikan tugas mereka dan memanjakan anak-anak mereka dalam kesalahan, orangtua menutup bagi mereka gerbang kota Allah. “Ellen G. White, Testimonies for the church, jld. 5, hlm 325,326.

Pertanyaan-pertanyaan untuk didiskusikan:

1. Penulis Rusia, Leo Tolstoy, meskipun di besarkan dalam keluarga Kristen, mengabaikan imannya selama bertahun-tahun. ketika tua, ia menghadapi krisis: apakah maksud hidup, terutama kehidupan yang pasti akan berakhir dalam kematian? meskipun ia mencari jawaban-jawaban dalam semua bidang pengetahuan, ia tidak menemukan apa-apa di sana. dia akhirnya menyadari bahwa satu-satunya jawaban yang logis kepada pertanyaan kehidupan dan maknanya harus ditemukan dalam iman–pada sesuatu yang melampaui logika itu sendiri. artinya, logikanya menyuruh dia untuk melangkah di luar logika, ke dalam dunia iman, agar mendapatkan jawaban atas makna kehidupan. lalu, mengapakah iman pada Yesus benar-benar pilihan yang paling logis yang kita dapat buat berkenaan dengan makna dan tujuan hidup?

2. Apakah pemahaman Anda tentang apa artinya mencintai kebenaran? mencintai kebenaran, tentu saja, akan berarti bahwa kita harus mengetahuinya terlebih dahulu. bagaimanakah kita bisa tiba kepada pengetahuan akan kebenaran? dan bagaimanakah kita bisa yakin bahwa kita tidak membiarkan apa pun berdiri menjadi penghalang cinta kita kepada kebenaran di atas segalanya?