Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pelajaran Sekolah Sabat “Baptisan dan Pencobaan” 04-10 April 2015

PELAJARAN 2:                                          4-10 APRIL 2015

 

BAPTISAN DAN PENCOBAAN

 

 

SABAT PETANG

UNTUK PELAJARAN PEKAN INI, BACALAH: LUKAS 3:1-14; ROMA 6:1-6; LUKAS 3:21,22; LUKAS 4:5-8; YESAYA 14:13,14; LUKAS 4:9-13.

AYAT HAFALAN: Dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: ‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan’” (Lukas 3:22)

Seperti yang kita lihat pekan yang lalu, kita yakini bahwa Lukas memberikan daftar orang terkemuka sesuai sejarah untuk membantu menunjukkan bahwa pandangannya tentang Yesus dan Yohanes adalah senyata dan sesuai sejarah seperti halnya para penguasa ini.

            Tetapi ada alasan lain yang penting untuk menyebtukan para pembesar yang berkuasa dan berpengaruh ini. Ini untuk membedakan mereka dengan seorang yang rendah hati dari padang gurun, Yohanes Pembaptis, usutsan pilihan Allah yang adlaah untuk “mempersiapkan jalan” bagi peristiwa yang palin gpenting dalam semua sejarah manusia selama: Kedatangan Yesus, Penebus dunia. Betapa menarik bahwa Tuhan memilih bukan salah satu dari orang-orang “besar” dunia untuk menyambut mesias itu tetapi sebaliknya seorang dari mereka yang “rendahan.”

            Para pakar menetapkan semua tokoh-tokoh bersejarah ini dan memberikan kita penanggalan sekitar tahun 27 atau 28 T.M. sebagai awal pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Dalam kerangka waktu historis tokoh-tokoh kekaisaran Romawi inilah Yesus dibaptis dan menerima ucapan berkat dari surga bahwa Dia adalah “Anak-Ku yang Kukasihi” (Lukas 3:22). Lukas menetapkan fakta ini tepat di awal bahkan sebelum ia menyajikan kepada para pembacanya ”catatan teratur” dari misi dan pelayanan Yesus Kristus.

MINGGU: 5 APRIL

Persiapkan Jalan Tuhan

            Dalam Lukas 3, Yohanes muncul dengan perannya yang unik dan penting dalam sejarah keselamatan. Apa pun yang orang katakan tentang khotbah Yohanes, dia tidak membumbui kata-katanya untuk menyenangkan orang banyak.

            Bacalah Lukas 3:1-14. Kata-katanya penuh dengan kebenaran penting, bukan hanya bagi mereka yang mendengarkannya saja, tetapi bagi ktia semua. Apakah hal-hal utama yang dapat anda ambil dari apa yang Yohanes katakan di sini?

________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

            Pertobatan bukan hanya gagasan teoritis. Hal itu adalah gaya hidup. Kata ini berasal dari bahasa Yunani metanoia, yang berarti perubahan pikiran, dan hal ini menuntun kepada hidup baru.

            “Baptis” berarti mencelupkan atau membenamkan seluruhnya dalam air. Pencelupan memiliki makna yang mendalam. Bahkan sebelum zaman Yohanes, orang Yahudi telah memiliki makna yang melekat mengenai baptisan selam. Hal itu telah biasa dilakukan ketika seorang penganut agama kafir memilih untuk bergabung dengan agama Yahudi.

            Dengan mengajak orang-orang Yahudi untuk dibaptis, Yohanes Pembaptis menetapkan prinsip baru: Baptisan adalah kesempatan seseorang untuk meninggalkan cara-cara lama yang berdosa dan mempersiapkan dirinya bagi kedatangan Mesias. Dengan demikian Yohanes Pembaptis memperkenalkan tindakan simbolis penolakan terhadap dosa dan pengabdian keapda cara hidup yang baru sebagai warga kerajaan Mesias, yang akan segera dimulai. Yohanes dengan cepat menambahkan bahwa ia membaptis hanya dengan air, tetapi Dia yang akan datang “akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Lukas 3:16). Dengan demikian, pokok penting dibuat: Baptisan sebagai tindakan pembenaman dalam air hanya merupakan simbol lahiriah dari perubahan batiniah—sebuah perubahan yang pada akhirnya akan dimeteraikan oleh baptisan Roh Kudus.

            Bacalah Roma 6:1-6. Pelajaran rohani apakah yang Rasul Paulus gambarkan dari tindakan baptisan? Perhatikanlah perbandingan yang dia buat antara tindakan pembenaman dan keluar dari air dengan mati bagi dosa dan hidup bagi kebenaran. Bagaimanakah anda mengalami realitas kehidupan baru di dalam Kristus? Bagian-bagian apakah yang masih tetap “terendam”?

____________________________________________________________________________________________________________________________

SENIN: 6 APRIL

“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi”

 

            Dalam Lukas 2:41-50, kita membaca kisah terkenal, Yusuf dan Maria lalai memperhatikan Yesus di Yerusalem. Yang lebih menarik adalah respons Yesus kepada Maria ketika dia menegurNya (ayat 48). Jawaban Yesus merupakan penegasan akan kesadaran Keilahian diriNya, bahwa Dia adalah Anak Allah. “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah BapaKu?” (ayat 49). Seperti ayat berikutnya katakan Yusuf dan Maria tidak mengerti arti tersirat dari apa yang Yesus katakana kepada mereka. Yang benar saja, bagaimana mereka bisa mengerti? Bagaimanapun juga, bahkan para murid, setelah bertahun-tahun bersama Yesus, masih tidak sepenuhnya yakin tentang siapa Dia dan apa yang Dia lakukan.

            Sebagai contoh, setelah kebangkitanNya, Yesus berbicara dengan dua murid di jalan menuju Emaus. Seorang dari mereka, dalam membicarakan Yesus, mengatakan bahwa Yesus ”adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami” (Lukas 24:19). Yesus, tentu saja, jauh melebihi seorang nabi. Bahkan kemdian mereka masih tidak memahami siapa Dia dan apa yang Dia akan lakukan.

            Bacalah Matius 3:13-17; Yohanes 1:29-34, dan Lukas 3:21,22. Apakah makna dari baptisan Yesus?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

            Pada saat pembaptisanNya, surga membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Yesus mencari baptisan bukan karena Dia membutuhkan itu sebagai bagian dari proses setelah pertobatan tetapi untuk memberi teladan bagi orang lain (Mat 3:14,15). Tiga faktor penting yang menonjol mengenai baptisan Yesus: (1) Pernyataan Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (Yohanes 1:29); (2) Roh Kudus mengurapiNya untuk misiNya ke depan. (3) Peryataan dari surga bahwa Yesus adalah Anak Allah, kepadaNya Bapa berkenan.

            Pikirkanlah mengenai hal ini: Anak Allah tak bercela. Pencipta alam semesta, dibaptis oleh seorang manusia biasa, semua bagian dari rencana keselamatan. Bagaimanakah seharusnya sikap merendahkan diri yang luar biasa di pihakNya ini menolong kita untuk bersedia merendahkan diri setiap ada kesempatan?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________’

SELASA: 7 APRIL

Bukan dari “Roti Saja”

 

            “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus… dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun. Di situ Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.” (Lukas 4:1,2). Dilahirkan untuk misi yang ditetapkan Allah, diutus untuk suatu tugas pada baptisanNya, dilengkapi dengan kuasa Roh Kudus, Yesus Kristus mengasingkan diri ke padang gurun untuk merenungkan tugasNya ke depan.

            Pencobaan di padang gurun adalah pertempuran yang signifikan antara Kristus dan Setan dalam pertentangan besar, yang telah berkecamuk sejak pemberontakan Lusifer di surga. Di padang gurun, ketika Juruselamat lemah karena 40 hari berpuasa, saat perjalanan di depan tampak suram dan melelahkan, Setan mengambil komando pribadi dalam serangannya melawan Yesus. “Setan melihat bahwa ia mesti mengalahkan atau dikalahkan. Persoalan yang menyangkut perjuangan itu meliputi terlalu banyak perkara untuk dipercayakan kepada malaikat-malaikat serikatnya. Ia mesti secara pribadi melangsungkan peperangan itu.”—Ellen G. White. Alfa dan Omega. Jld. 5, hlm. 109.

            Perhatikanlah apa yang dikatakan Iblis kepada Kristus: “Jika Engkau Anak Allah, suruhlah batu ini menjadi roti” (Lukas 4:3). Apakah yang Setan sedang coba lakukan dalam kisah ini yang mencerminkan apa yang ia telah coba lakukan di surga?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

Roti bukanlah pokok masalahnya. Benar, berpuasa 40 hari di padang gurun pasti telah membuat Juruselamat lapar, dan Iblis menggunakan keadaan itu sebagai umpan. Tetapi Iblis tahu bahwa Yesus adalah Pencipta alam semesta. Dia yang menciptakan alam semesta dari kehampaan, menjadikan roti dari batu bukanlah masalah. Pokok penting dalam pencobaan ini terdapat dalam kata pendahuluan: “Jika Engkau Anak Allah, dan sekarang haruskah Yesus meragukan jaminan dari surga itu? Meragukan Firman Tuhan adalah langkah pertama dalam menyerah kepada pencobaan. Di surga Setan menantang otoritas Yesus, ia melakukannya lagi di sini, bahkan dengan cara yang jauh lebih halus daripada yang dia telah coba di surga.

            Bagaimanakah anda bisa belajar untuk tidak menyerah pada upaya Setan supaya anda—sebagaimana ia mencobai kita semua—meragukan janji-janji Allah?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

 

RABU: 8 APRIL

“Sembahlah Aku”

 

            Bacalah Lukas 4:5-8. Mengapakah Setan menghendaki Yesus untuk menyembah Dia? Apakah pokok penting yang dipertaruhkan di sini?

______________________________________________________________

            Penyembahan adalah hak prerogatif Allah semata-mata. Inilah satu faktor yang selamanya memisahkan makhluk ciptaan dari Sang Pencipta. Salah satu masalah dalam pemberontakan Lusifer terhadap Tuhan di surga adalah penyembahan. Ambisi Lusifer diringkaskan dengan baik melalui Yesaya 14:13,14: Hendak naik ke langit, hendak mendirikan takhtanya mengatasi bintang-bintang di langit, hendak menyamai Yang Mahatinggi. Hal ini merupakan upaya untuk merebut kekuasaan milik Sang Pencipta saja yang tidak pernah dimiliki oleh makhluk apa pun, seberapa ditinggikan sekalipun.

            Dalam konteks ini kita dapat lebih memahami apa yang terjadi dalam pencobaan ini. Ketika Yesus hendak memulai misiNya untuk menebus kembali dunia kepada kepemilikan dan kekuasaan Allah, Setan membawaNya ke puncak gunung, memberikan pemandangan panorama akan seluruh kerajaan, dan menawarkannya kepadaNya seharga sebuah tindakan sederhana: “Jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milikMu” (Lukas 4:7).

            Setan berusaha untuk mengalihkan pandangan Kristus dari prioritas KeilahianNya dan untuk menarik perhatianNya dengan kemegahan dan kemuliaan yang harganya tidak lebih besar daripada sekadar menunduk saja. Dia mencoba, sekali lagi, untuk mendapatkan di sini, kekuasaan dan penyembahan yang ia telah gagal dapatkan di surga.

            Perhatikanlah bagaimana Kristus menolak penggoda itu dengan penuh penghinaan. “Enyahlah, Iblis!” (ayat 8, NKJV). Penyembahan, dan pelayanan ibadah yang menyertainya, adalah milik Tuhan Pencipta semata. Di sini, sekali lagi Firman Tuhan menjadi penolongNya. Bukankah Ilham dengan perantaraan Musa berkata, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu… Engkau harus takut akan TUHAN, ALLAHMU, kepada Dia haruslah engkau beribadah” (Ul. 6:4,5,13)? Benar-benar bertekad untuk mengikut Tuhan dalam iman dan ketaatan adalah jawbaan utama terhadap kebohongan dan tipuan Setan.

            Masing-masing kita dapat menghadapi pencobaan dengan mengkompromikan iman kita, bahkan dalam “hal-hal kecil.” Pekerjaan anda, anda lulus ujian di universitas, kenaikan jenjang anda, menuntut kompromi dalam hal Sabat. Visa anda ke negara yang lebih baik tergantung pada perubahan nama yang menyembunyikan iman anda. Pada saat manakah dapat berkompromi? Kapankah, jika pernah, harga kompromi itu tepat?

 

KAMIS: 9 APRIL

Kristus Sang Pemenang

 

            Lukas dan Matius membalikkan urutan pencobaan kedua dan ketiga. Alasannya tidak jelas, tetapi hal itu tidak perlu menghalangi kita. Hal yang penting adalah puncak kemenangan Yesus terhadap Setan, dicanangkan oleh kedua Injil. Faktor penting yang muncul dari kajian tentang pencobaan adalah bahwa Yesus Kristus adalah manusia sesungguhnya—dicobai seperti kita, tetapi tidak berbuat dosa (Ibrani 4:15). Dengan kemenangan di setiap pencobaan, dengan kemenanganNya terhadap Iblis, dengan Firman Tuhan di mulutNya, dan terhubung dengan pusat kekuasaan surga melalui doa. Yesus muncul untuk memberitakan Kerajaan Allah dan untuk memulaikan zaman Mesianik.

            Bacalah Lukas 4:9-13 dan Matius 4:5-7. Dalam dua pencobaan pertama, Yesus menggunakan Kitab Suci untuk mengalahkan pencobaan Setan. Sekarang, pada yang ketiga, Setan melakukan hal yang sama dan mengutip Kitab Suci untuk menguji apakah Yesus benar-beanr menggunakan Firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Apakah yang terjadi disini, dan bagaimanakah Yesus menanggapinya?

__________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________

            Setan membawa Yesus ke bubungan Bait Allah di Yerusalem, tempat yang paling suci dalam sejarah Yahudi. Kota Sion, bait suci di mana Allah tinggal di antara umatNya, menjadi jalan untuk konfrontasi Setan dengan Yesus. “Jika engkau Anak Allah” sekali lagi menjadi kata pengantarnya. Perhatikan apa yang Iblis katakan: Jika Allah benar-benar Bapamu, dan jika misimu benar-benar atas perintahNya, lemparkanlah dirimu ke bawah dari bubungan, dan itu pasti terjadi. Pasti, jika semuanya benar, Allah tidak akan membiarkan Engkau terluka. Ia kemudian mengutip Kitab Suci “Ia akan memerintahkan malaikat-malaikatNya untuk melindungi Engkau” (Lukas 4:10).

            Setan mengetahui Kitab Suci tetapi salah menafsirkannya. Taktiknya adalah menuntun Yesus untuk mencobai Allah. Tuhan memang telah menjanjikan perlindungan malaikat-malaikatNya, tetapi hanya dalam konteks melakukkan kehendakNya, seperti halnya Daniel dan teman-temannya. Yesus menjawab Setan dengan tegas lagi dengan menggunakan Kitab Suci, menyatakan bahwa kita jangan mencobai Allah (ayat 12). Tugas kita adalah menempatkan diri kita dalam kehendak Tuhan dan biarkan Dia melakukan selebihnya.

            Perhatikanlah empat ajaran utama Alkitab mengenai pencobaan: (1) Tidak seorangpun bebas dari pencobaan, (2) Ketika Tuhan mengizinkan pencobaan datang kepada kita, Dia juga memberikan kasih karunia untuk melawan dan kekuatan untuk menang, (3) Pencobaan tidak datang dalam cara yang sama setiap kali, (4) Tidak seorang pun dicobai melampaui kekuatannya (1 Kor. 10:13).

 

JUMAT 10 APRIL

 

PENDALAMAN: “Sekiranya Yususf dan Maria telah memusatkan pikiran mereka pada Allah dengan renungan dan doa, niscaya mereka sudah menginsafi betapa sucinya tanggung jawab yang telah dipercayakan kepada mereka dan mereka tidak akan kehilangan Yesus. Karena kelengahan sehari mereka kehilangan Juruselamat; akan tetapi mereka harus mencari dengan perasaan cemas selama tiga hari untuk menemukan Dia. Demikian juga halnya dengan kita; dengan perkataan sia-sia, fitnahan, atau kelalaian berdoa, mungkin kita pada satu hari kehilangan hadirat Juruselamat, lalu mungkin memerlukan berhari-hari lamanya untuk mendapat Dia dengan susah payah, serta memperoleh kembali damai yang telah hilang dari kita.” –Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 5, hlm. 75.

Pertanyaan-pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Pencobaan itu sendiri bukanlah dosa. Dalam arti Alkitabiah, pencobaan memiliki potensi untuk menegaskan mungkinnya kekudusan. Dicobai dan jatuh ke dalam dosa adalah dua hal yang berbeda. Pada saat yang sama, apakah tanggung jawab kita untuk melakukan semampu kita untuk menghindari pencobaan sekalipun?
  2. Para filsuf dan teolog sering berbicara mengenai apa yang mereka sebut “metanarasi,” sebuah kisah atau tema umum utama di mana kisah-kisah lain terjadi. Dengan kata lain, metanarasi adalah latar belakang, konteks, di mana kisah-kisah dan peristiwa lain terungkap. Sebagai orang Advent, kita melihat pertentangan besar sebagai “metanarasi” atau latar belakang dari apa yang sedang terjadi, bukan hanya di bumi, tetapi juga di surga. Ayat-ayat Alkitab manakah yang menunjukkan kepada kita realitas pertentangan besar dan bagaimana ayat-ayat tersebut membantu menjelaskan apa yang sedang terjadi di dunia?
  3. Ayat-ayat Alkitab manakah yang sangat menolong yang menjanjikan kepada kita kemenangan atas pencobaan yang datang kepada kita? Mengapakah, walaupun, ada janji-janii ini, begitu mudah untuk jatuh?
  4. Salah satu pelajaran pekan ini memberikan pernyataan berikut: “meragukan Firman Tuhan adalah langkah pertama dalam menyerah kepada pencobaan.” Mengapakah demikian?
  5. Dengan cara apakah penyembahan berhala menjadi jauh lebih halus daripada tunduk dan menyembah sesuatu yang lain daripada Tuhan?