Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pelajaran 5 (1 – 7 November) “Iman yang Bekerja”

Iman yang Bekerja

SABAT PETANG

Untuk Pelajaran Pekan Ini, Bacalah: Yak. 2:14-26; Rm. 3:27, 28;Tit. 2:14; 2 Kor. 4:2; Rm. 4:1-5; Yos. 2:1-21.

AYAT HAFALAN:”Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:26).

Ia adalah seorang dokter yang sukses serta seorang ketua jemaat di sebu­ah gereja yang mewah dengan beberapa ratus anggota. Ia adalah donatur utama proyek jemaat yang besar, dan kedermawanannya telah mendorong orang lain menjadi lebih suka berkorban. Dokter tersebut juga adalah seorang pengkhotbah yang hebat. Ketika pendeta jemaat sedang pergi, ia yang berkhot­bah, dan setiap anggota memandang ke depan kepada apa yang ia sampaikan, sebuah pekabaran yang secara teologi sangat dalam, menyentuh hati, serta ro­hani.

Kemudian pada suatu hari, kebenaran akhirnya muncul. Ketidakhadirannya di gereja pada Sabat yang sebelumnya bukan disebabkan karena ia sedang da­lam liburan, seperti yang kebanyakan orang pikirkan. Tidak, ia ditemukan te­was di sebuah kondominium miliknya yang terletak di tepi pantai karena over dosis kecanduan narkotik.

Lebih buruk lagi adalah kenyataan bahwa di dalam kamar tidurnya dite­mukan berlusin video serta majalah porno. Gereja menjadi hancur, khususnya orang muda yang melihatnya sebagai seorang teladan. Meskipun kita harus meletakkan semuanya ke dalam tangan pengadilan Allah, tetapi tindakan dok­ter ini telah menimbulkan pertanyaan pada realitas imannya.

Apakah intinya? Meskipun kita diselamatkan oleh iman, kita tidak dapat memisahkan iman dari perbuatan di dalam kehidupan Kristen, krusial tetapi kebenaran yang sering disalahmengerti ini diuraikan dalam kitab Yakobus.

*Pelajari pelajaran pekan ini sebagai persiapan untuk Sabat 8 November.

Minggu, 2 November
Iman yang Mati

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bah­wa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapat­kah iman itu menyelamatkan dia?” (Yakobus 2:14). Bagaimanakah kita memahami ayat ini dalam konteks keselamatan oleh iman saja? Bacalah Yakobus 2:15-17; bandingkan dengan Roma 3:27, 28; Efesus 2:8, 9.

Yakobus 2:15-17
2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Roma 3:27, 28;
3:27 Jika demikian, apakah dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan apa? Berdasarkan perbuatan? Tidak, melainkan berdasarkan iman!
3:28 Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.

Efesus 2:8, 9
2:8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,
2:9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Iman tanpa perbuatan. Yakobus memberikan ilustrasi yang jelas tentang jenis iman yang palsu ini (Yak 2:15,16). Seperti yang kita telah saksikan, penurutan di dalam kitab Yakobus adalah penghubung. Jadi, bagaimana kita berhubungan dengan saudara atau saudari dalam jemaat yang membutuhkan? Kata-kata ti­daklah cukup. Kita tidak dapat sekadar berkata, “Pergilah dengan damai. Allah akan menyediakan,” ketika Allah telah menyediakan apa yang kita butuhkan untuk menolong mereka.

Tentunya, kebutuhan tidak akan ada akhirnya, dan kita tidak dapat meme­nuhi semuanya. Tetapi ada prinsip yang disebut “kekuatan dari satu.” Kita ada­lah tangan dan kaki Yesus, dan kita dapat menolong orang lain seorang demi seorang. Bahkan, demikianlah biasanya cara Yesus melayani. Dalam Markus 5:22-34 seorang yang anaknya sedang sekarat memohon pertolongan kepada- Nya. Dalam perjalanan, seorang wanita mendekat dari belakang dan menja­mah jubah Yesus. Setelah penyembuhan itu, Yesus dapat saja pergi dan wanita itu ditinggalkan dengan keadaan sukacita. Tetapi Yesus tahu bahwa wanita itu memerlukan lebih dari sekadar penyembuhan fisik. Jadi, ia berhenti dan meng­ambil waktu supaya wanita itu dapat belajar menjadi saksi bagi Yesus, mem­bagikan sebagaimana ia menerima. Kemudian Ia mengatakan perkataan yang sama dalam kitab Yakobus 2:16, “Pergilah dengan selamat” (Markus 5:34). Tetapi, tidak seperti perkataan dalam Yakobus, dalam kasus ini kata-kata itu memiliki sesuatu arti.

Ketika kita menyadari sebuah kebutuhan dan tidak melakukan apa-apa terhadapnya, kita telah kehilangan kesempatan untuk melatih iman. Dengan melakukan itu, iman kita menjadi makin lemah dan semakin padam. Ini di­sebabkan karena iman tanpa perbuatan adalah mati. Yakobus bahkan meng­gambarkan hal ini lebih tegas: iman telah mati. Jika iman itu hidup, perbuatan akan menyertainya. Tetapi jika tidak, apakah gunanya itu? Di akhir ayat 14, Yakobus menanyakan sebuah pertanyaan tentang jenis iman yang tidak beker­ja dan sia-sia ini. Hal ini terlihat lebih jelas dalam terjemahan bahasa Yunani daripada terjemahan yang lain: “Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?” Ja­waban yang Yakobus harapkan dari kita adalah jelas, “Tidak.”

Bagaimanakah kita dapat belajar untuk mengekspresikan iman kita lebih baik melalui perbuatan kita sementara kita menjaga diri kita dari penipuan bahwa perbuatan menyelamatkan kita?

Senin, 3 November
Iman yang Menyelamatkan

Bacalah Yakobus 2:18. Apakah poin utama yang Yakobus buat? Bagai­manakah kita menunjukkan iman kita melalui perbuatan kita?

Yakobus 2:18
2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”

Yakobus menggunakan teknik gaya bahasa yang lazim di mana calon pe­nentang itu muncul. Dalam kasus ini, si penentang ini mencoba untuk mengen­dalikan pengganjal antara iman dan perbuatan dengan menyarankan bahwa selama seseorang memiliki salah satu apakah iman atau perbuatan, maka ia akan baik-baik saja. Tetapi secara keseluruhan, poin yang Yakobus coba buat adalah bahwa orang Kristen tidak dapat berharap untuk selamat melalui iman jika tidak ada hubungannya dengan perbuatan: “Tunjukkanlah kepadaku iman­mu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku” (Yak. 2:18).

Kuncinya adalah bahwa tidak semua iman dapat menyelamatkan. Iman yang sejati, iman yang menyelamatkan, adalah ditandai dengan perbuatan yang baik. Demikian juga, perbuatan adalah baik hanya jika perbuatan itu terpancar keluar dari iman. Iman dan perbuatan tidak dapat dipisahkan. Seperti dua sisi mata uang, yang satu tidak berlaku tanpa ada sisi yang lain. Juga seperti mata uang, sisi yang satu adalah kepala dan sisi yang lain adalah ekor. Iman datang pertama kemudian menuntun jalan kepada perbuatan.

Pertimbangkanlah sikap Paulus terhadap perbuatan dalam Ef. 2:10; 1 Tes. 1:3; 1 Tim. 5:25; dan Tit. 2:14. Mengapakah perbuatan baik adalah penting?

Ef. 2:10;
2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

1 Tes. 1:3;
1:3 Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.

1 Tim. 5:25;
5:25 Demikian pun perbuatan baik itu segera nyata dan kalau tidak demikian, ia tidak dapat terus tinggal tersembunyi.

Tit. 2:14.
2:14 yang telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan dan untuk menguduskan bagi diri-Nya suatu umat, kepunyaan-Nya sendiri, yang rajin berbuat baik.

Paulus tidak menentang perbuatan baik. Tetapi ia menentang perbuatan se­bagai sarana keselamatan (lihat Gal. 2:16). Bahkan, Paulus berkata bahwa me­reka yang bergantung kepada melakukan hukum supaya diselamatkan adalah berada di bawah kutuk, karena tidak satu pun yang mencoba untuk selamat oleh melakukan hukum telah berhasil melakukannya (Gal. 3:10). Penurutan adalah mungkin hanya melalui karunia Roh Kudus.

“Jika manusia tidak sanggup, melalui perbuatan baiknya, memperoleh ke­selamatan, maka semuanya pasti hanya karena karunia,”diterima oleh manusia sebagai orang berdosa karena ia menerima dan percaya di dalam Yesus. Semua itu adalah pemberian yang cuma-cuma. Pembenaran oleh iman ditempatkan melampaui pertentangan. Dan semua pertentangan ini berakhir, segera setelah hal ini selesai yaitu jasa manusia yang telah berdosa dalam perbuatan baiknya tidak akan pernah mendapatkan kehidupan yang kekal dari Dia.”—Ellen G. White, Faith and Works, hlm. 20

Mengapakah kabar agung bahwa kita tidak dapat membuat jalan kita ke surga harus memotivasi kita, dihasilkan oleh kasih kepada Allah, un­tuk melakukan semua perbuatan baik yang dapat kita buat?

Selasa, 4 November
“Iman” Setan

Jika perbuatan tidak ada, hanya akan ada satu cara untuk “membuktikan” keaslian iman seseorang: melalui sifat ortodoks. Jika saya percaya kepada se­suatu yang benar, maka saya harus memiliki iman, benarkan?

Bacalah 2 Kor. 4:2; 1 Tim. 2:4; Yak. 5:19, 20; 1 Ptr. 1:22; dan 1 Yoh. 3:18, 19. Apakah yang ayat-ayat ini katakan tentang pentingnya menge­nal kebenaran?
2 Kor. 4:2;
4:2 Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

1 Tim. 2:4;
2:4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.

Yak. 5:19, 20;
5:19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik,
5:20 ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.

1 Ptr. 1:22;
1:22 Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu.

1 Yoh. 3:18, 19
3:18 Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
3:19 Demikianlah kita ketahui, bahwa kita berasal dari kebenaran. Demikian pula kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah,

Tidak ada keraguan lagi bahwa pengetahuan intelektual akan kebenaran ada tempatnya, tempat yang sangat penting. Tetapi, pengetahuan itu, di dalam dan dari dirinya, tidaklah cukup untuk membuktikan bahwa seseorang memiliki iman yang menyelamatkan.

Peringatan apakah yang diberikan kepada kita dalam Yakobus 2:19 tentang konsep yang salah dari iman yang benar?
Yakobus 2:19
2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

Pernyataan yang paling mendasar tentang iman dalam Perjanjian Lama ada­lah dalam Ulangan 6:4, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!” Di kenal sebagai shema (karena ini diawali dengan kata Ibrani tersebut), ayat ini menyimpulkan dengan rapi keyakinan kepada Allah yang Esa. Setiap ajaran Alkitab yang lain mengalir dari kebenaran yang utama ini.

Tetapi Setan pun percaya pada kebenaran ini. Bahkan, mereka tahu itu! Te­tapi, apa gunanya itu bagi mereka? Mereka gemetar di hadapan hadirat Allah, seperti yang mereka lakukan ketika berhadapan dengan Yesus serta diperintah­kan oleh Yesus untuk keluar dari para korbannya (Markus 3:11; 5:7).

Sebuah iman intelek yang tidak memiliki dampak bagaimana kita bertindak adalah percuma; bahkan, itu sama saja dengan iman yang Setan miliki, Setan yang secara aktif bekerja menipu kita dengan doktrin-doktrin yang salah serta kebohongan-kebohongan. Sama seperti Israel pada zaman Yesus, Setan akan mendorong orang-orang untuk percaya kepada tipuan-tipuannya berdasarkan keinginan korban mereka untuk berpegang kepada tabiat yang tidak suci ser­ta tidak benar: “Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan” (1 Tim. 4:1).

Iman harus diwujudkan dalam hidup kita atau gantinya iman lain yang tidak menyelamatkan; yaitu, “iman Setan,” dan iman seperti ini tidak akan menyelamatkan kita tetapi itu akan menguntungkan mereka (Se­tan).

Rabu, 5 November
Iman Abraham

Bacalah Yakobus 2:21-24 dan bandingkan itu dengan Roma 4:1-5, 22- 24. Bagaimanakah iman Abraham digambarkan dalam ayat-ayat ini, dan dalam hal apakah pembenaran itu didasarkan?
Yakobus 2:21-24
2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”
2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.

Roma 4:1-5, 22- 24
4:1 Jadi apakah akan kita katakan tentang Abraham, bapa leluhur jasmani kita?
4:2 Sebab jikalau Abraham dibenarkan karena perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.
4:3 Sebab apakah dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Tuhan, dan Tuhan memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”
4:4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.
4:5 Tetapi kalau ada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang durhaka, imannya diperhitungkan menjadi kebenaran.
4:22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.
4:23 Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja,
4:24 tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,

Menariknya, baik Yakobus dan Paulus mengutip Kejadian 15:6, tetapi me­reka tampaknya tiba pada kesimpulan yang berlawanan. Menurut Yakobus, Abraham dibenarkan melalui perbuatan, tetapi Paulus dalam Roma 4:2, seper­tinya menyangkal kemungkinan ini (bandingkan dengan ayat 24).

Tetapi, konteks utama Roma 4 adalah njengenai apakah sunat itu penting untuk pembenaran: yaitu, apakah orang yang tidak mengenal Allah harus men­jadi Yahudi supaya diselamatkan (Roma 3:28-30). Paulus menunjukkan bahwa iman Abraham itu, bukanlah ‘”perbuatannya” dengan disunat, yang merupakan dasar pembenaran, karena Abraham percaya kepada Allah bahkan sebelum ia disunat. Abraham disunat sesudah itu. sebagai pengakuan luar imannya (Roma 4:9-11). Tetapi perbuatan itu sendiri, bahkan sunat, tidaklah cukup untuk pem­benaran, karena hanya mereka “yang mengikuti jejak iman Abraham, bapa le­luhur kita” (Roma 4:12) yang akan dibenarkan.

Apakah penekanan ini sungguh berbeda dari penekanan Yakobus? Paulus bahkan melanjutkan dengan menggunakan “bukti” yang sama dari iman Abra­ham yang Yakobus gunakan (lihat Roma 4:17-21). Abraham percaya bahwa Allah dapat membangkitkan Ishak karena la “menghidupkan orang mati dan yang menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada” (ayat 17, bandingkan dengan Ibrani 11:17-19). Paulus juga mengartikan iman yang menyelamatkan sebagai “dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa un­tuk melaksanakan apa yang telah la janjikan” (Roma 4:21). Singkatnya, iman yang percaya kepada Allah yang menjaga janji-Nya serta bergantung setia ke­pada firman-Nya adalah iman yang menyelamatkan. Perbuatan-perbuatan ini bukanlah “perbuatan-perbuatan hukum” tetapi “perbuatan-perbuatan iman.” Atau, seperti yang Yakobus katakan: “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna” (Yak. 2:22).

Banyak orang menekankan pentingnya iman dan perbuatan, tetapi meski­pun penekanan ini memisahkan keduanya, paling tidak itu hanya sedikit saja. Iman yang sejati adalah iman yang bekerja melalui kasih” (Gal 5:6). Perbu­atan baik bukan hanya sekadar tanda lahiriah iman. tetapi perbuatan adalah penyempurnaan iman. Iman Abraham kepada Allah yang menciptakan semua kehidupan memotivasi dia untuk menurut kepada Allah dalam mempersem­bahkan anak satu-satunya, Ishak. Menurut Yakobus, adalah melalui penurutan, iman itu menjadi sempurna.
Apakah pengalaman Anda tentang bagaimana perbuatan (atau ku­rangnya perbuatan pada akhirnya) berdampak pada iman Anda?

Kamis, 6 November
Iman Rahab

“Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?” (Yak. 2:25). Bacalah juga Yosua 2:1-21. Bagaimanakah kita mengerti contoh ini, sekali lagi dalam konteks keselamatan hanya melalui iman saja?
Yosua 2:1-21
2:1 Yosua bin Nun dengan diam-diam melepas dari Sitim dua orang pengintai, katanya: “Pergilah, amat-amatilah negeri itu dan kota Yerikho.” Maka pergilah mereka dan sampailah mereka ke rumah seorang perempuan sundal, yang bernama Rahab, lalu tidur di situ.
2:2 Kemudian diberitahukanlah kepada raja Yerikho, demikian: “Tadi malam ada orang datang ke mari dari orang Israel untuk menyelidik negeri ini.”
2:3 Maka raja Yerikho menyuruh orang kepada Rahab, mengatakan: “Bawalah ke luar orang-orang yang datang kepadamu itu, yang telah masuk ke dalam rumahmu, sebab mereka datang untuk menyelidik seluruh negeri ini.”
2:4 Tetapi perempuan itu telah membawa dan menyembunyikan kedua orang itu. Berkatalah ia: “Memang, orang-orang itu telah datang kepadaku, tetapi aku tidak tahu dari mana mereka,
2:5 dan ketika pintu gerbang hendak ditutup menjelang malam, maka keluarlah orang-orang itu; aku tidak tahu, ke mana orang-orang itu pergi. Segeralah kejar mereka, tentulah kamu dapat menyusul mereka.”
2:6 Tetapi perempuan itu telah menyuruh keduanya naik ke sotoh rumah dan menyembunyikan mereka di bawah timbunan batang rami, yang ditebarkan di atas sotoh itu.
2:7 Maka pergilah orang-orang itu, mengejar mereka ke arah sungai Yordan, ke tempat-tempat penyeberangan, dan ditutuplah pintu gerbang, segera sesudah pengejar-pengejar itu keluar.
2:8 Tetapi sebelum kedua orang itu tidur, naiklah perempuan itu mendapatkan mereka di atas sotoh
2:9 dan berkata kepada orang-orang itu: “Aku tahu, bahwa TUHAN telah memberikan negeri ini kepada kamu dan bahwa kengerian terhadap kamu telah menghinggapi kami dan segala penduduk negeri ini gemetar menghadapi kamu.
2:10 Sebab kami mendengar, bahwa TUHAN telah mengeringkan air Laut Teberau di depan kamu, ketika kamu berjalan keluar dari Mesir, dan apa yang kamu lakukan kepada kedua raja orang Amori yang di seberang sungai Yordan itu, yakni kepada Sihon dan Og, yang telah kamu tumpas.
2:11 Ketika kami mendengar itu, tawarlah hati kami dan jatuhlah semangat setiap orang menghadapi kamu, sebab TUHAN, Allahmu, ialah Allah di langit di atas dan di bumi di bawah.
2:12 Maka sekarang, bersumpahlah kiranya demi TUHAN, bahwa karena aku telah berlaku ramah terhadapmu, kamu juga akan berlaku ramah terhadap kaum keluargaku; dan berikanlah kepadaku suatu tanda yang dapat dipercaya,
2:13 bahwa kamu akan membiarkan hidup ayah dan ibuku, saudara-saudaraku yang laki-laki dan yang perempuan dan semua orang-orang mereka dan bahwa kamu akan menyelamatkan nyawa kami dari maut.”
2:14 Lalu jawab kedua orang itu kepadanya: “Nyawa kamilah jaminan bagi kamu, asal jangan kaukabarkan perkara kami ini; apabila TUHAN nanti memberikan negeri ini kepada kami, maka kami akan menunjukkan terima kasih dan setia kami kepadamu.”
2:15 Kemudian perempuan itu menurunkan mereka dengan tali melalui jendela, sebab rumahnya itu letaknya pada tembok kota, jadi pada tembok itulah ia diam.
2:16 Berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah ke pegunungan, supaya pengejar-pengejar itu jangan menemui kamu, dan bersembunyilah di sana tiga hari lamanya, sampai pengejar-pengejar itu pulang; kemudian bolehlah kamu melanjutkan perjalananmu.”
2:17 Kedua orang itu berkata kepadanya: “Kami akan bebas dari sumpah kami ini kepadamu, yang telah kausuruh kami ikrarkan —
2:18 sesungguhnya, apabila kami memasuki negeri ini, haruslah tali dari benang kirmizi ini kauikatkan pada jendela tempat engkau menurunkan kami, dan ayahmu serta ibumu, saudara-saudaramu serta seluruh kaum keluargamu kaukumpulkan di rumahmu.
2:19 Setiap orang yang keluar nanti dari pintu rumahmu, harus sendiri menanggung akibatnya, kalau darahnya tertumpah, dan kami tidak bersalah; tetapi siapa pun juga yang ada di dalam rumahmu, jika ada orang yang menciderainya, kamilah yang menanggung akibat pertumpahan darahnya.
2:20 Tetapi jika engkau mengabarkan perkara kami ini, maka bebaslah kami dari sumpah kepadamu itu, yang telah kausuruh kami ikrarkan.”
2:21 Perempuan itu pun berkata: “Seperti yang telah kamu katakan, demikianlah akan terjadi.” Sesudah itu dilepasnyalah orang-orang itu pergi, maka berangkatlah mereka. Kemudian perempuan itu mengikatkan tali kirmizi itu pada jendela.

Menurut Ibrani 11:31, penduduk Yerikho tidak percaya. Kebanyakan ter­jemahan modern menggambarkan mereka menjadi “tidak menurut.” Pendu­duk Yerikho mengetahui tentang tanda kemenangan Israel atas orang Midian dan Amori, jadi mereka betul-betul menyadari kekuatan Allah orang Israel. Penghakiman Allah kepada Israel di Baal Perasim mengajarkan orang Yerikho tentang kekudusan-Nya sebagaimana kebencian Allah terhadap penyembahan berhala dan tindakan asusila: “Segala peristiwa ini diketahui oleh penduduk Yerikho, dan banyak dari antara mereka yang merasakan keyakinan yang sama seperti Rahab, sekalipun mereka menolak menurutinya.”- Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 2, hlm. 96.

Rahab bukan diselamatkan karena ketidakjujurannya tetapi lepas dari itu. Dia percaya kepada Allah yang benar, dan ia bertindak sesuai iman itu oleh melindungi para pengintai yang diutus oleh Yosua. Juga ada satu kondisi lain: ia menuruti petunjuk pengintai itu untuk mengikatkan tali kirmizi pada jende­la rumahnya, yang juga melambangkan darah yang dipercik di setiap rumah- rumah orang Israel ketika hari raya Paskah pembebasan orang Israel (Ke/. 12:21-24). Walau jauh dari kesempurnaan, kehidupan Rahab adalah teladan iman yang menunjukkan realitas karunia dan pengampunan Allah kepada se­tiap orang yang maju dalam iman dan percaya kepada Allah apa pun hasilnya.

Bacalah Yakobus 2:26. Bagaimanakah ayat ini menyimpulkan hubung­an antara iman dan perbuatan?

Yakobus 2:26
2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

Seperti tubuh yang hanyalah mayat bila tanpa napas kehidupan, demikianlah iman tanpa perbuatan adalah mati. Sebagai tambahan, tanpa iman yang sejati setiap “penurutan” yang kita coba lakukan hanyalah sama dengan “perbuatan yang mati” (Ibrani 6:1; 9:14), yang adalah percuma di pemandangan Allah.

Seorang pelacur diselamatkan oleh iman? Jika hanya itu contoh kese­lamatan oleh iman yang kita miliki, kesimpulan salah apakah yang dapat kita tarik dari padanya? Namun, pengharapan apakah yang dapat Anda ambil bagi diri Anda dari kisah ini?

Jumat, 7 November

Pendalaman: “Ketika diri dikosongkan, maka Anda akan memiliki penga­laman yang baru dan kaya, Anda akan melihat ketidaksempurnaan Anda sen­diri ketika Anda sujud di bawah kaki salib, dan ketika Anda memandang ke­sempurnaan Kristus, diri Anda akan tenggelam dalam keadaan yang hampa dan merasa kecil.”
“Kristus akan menunjukkan kepada pandangan yang cerdas akan kesem­purnaan dari keindahan yang menarik; kemudian peta-Nya akan berada dalam pikiran dan hati, dan akan dinyatakan dalam karakter. Kesan terhadap pikiran Ilahi haruslah dibuat dalam hati, serta diwujudkan dalam kehidupan. Datang­lah kepada Yesus, berdoa dalam iman, berpegang teguh pada tangan kuasa Ilahi, percaya, hanyalah percaya, dan Anda akan melihat keselamatan yang dari Tuhan. Jika Anda mau diajar, Allah akan mengajar Anda; jika Anda mau dipimpin, Ia akan memimpin Anda kepada mata air kehidupan.”—Ellen G. White, Testimonies to Southern A/rica, hlm. 26.

Pertanyaan untuk Didiskusikan:
1. Bacalah seluruh Yakobus 2 secara saksama Pekabaran penting apakah di sana bagi mereka yang percaya hanya pada jasa Kristus untuk keselamatan mereka?
Yakobus 2
2:1 Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.
2:2 Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk,
2:3 dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: “Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!”, sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: “Berdirilah di sana!” atau: “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”,
2:4 bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?
2:5 Dengarkanlah, hai saudara-saudara yang kukasihi! Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada barangsiapa yang mengasihi Dia?
2:6 Tetapi kamu telah menghinakan orang-orang miskin. Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kamu dan yang menyeret kamu ke pengadilan?
2:7 Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia, yang oleh-Nya kamu menjadi milik Allah?
2:8 Akan tetapi, jikalau kamu menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”, kamu berbuat baik.
2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
2:10 Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya.
2:11 Sebab Ia yang mengatakan: “Jangan berzinah”, Ia mengatakan juga: “Jangan membunuh”. Jadi jika kamu tidak berzinah tetapi membunuh, maka kamu menjadi pelanggar hukum juga.
2:12 Berkatalah dan berlakulah seperti orang-orang yang akan dihakimi oleh hukum yang memerdekakan orang.
2:13 Sebab penghakiman yang tak berbelas kasihan akan berlaku atas orang yang tidak berbelas kasihan. Tetapi belas kasihan akan menang atas penghakiman.
2:14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?
2:15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari,
2:16 dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?
2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.
2:18 Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”
2:19 Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.
2:20 Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?
2:21 Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah?
2:22 Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.
2:23 Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”
2:24 Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.
2:25 Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?
2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.

2. Beberapa orang membantah bahwa Yakobus berbicara tentang iman dan perbuatan tanpa referensi dari Paulus, dan kita harus menafsirkan surat Yakobus menurut bahasanya sendiri. Apakah yang salah dengan pandangan itu? Mengapa, khususnya dalam ka­sus ini, adalah penting untuk diingat apa yang ayat lain katakan tentang iman dan perbuatan? Bahkan, dalam hangatnya reforma­si Protestan, para pembela Katolik sering menggunakan kitab Ya­kobus untuk membela gereja Roma melawan Protestan. Mengapa ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya membangun dok­trin berdasarkan semua ayat yang tersedia?

3. Sering disebutkan bahwa iman dan perbuatan harus “seimbang.” Dalam terang pelajaran ini, apakah Anda setuju dengan pernyata­an itu? Diskusikan jawaban Anda dengan orang lain dalam kelas Anda.

4. Mengapa kita tidak menemukan dalam kitab Yakobus (atau kitab Perjanjian Baru lainnya) kegagalan Abraham dalam hubungannya dengan Ismael, atau tentang dusta Rahab? Apakah yang fakta ini ajarkan kepada kita tentang artinya dibungkus dengan kebenaran Kristus?

Sumber: http://lannymanaroinsong.blogspot.com/