Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Pelajaran 12 “Kematian dan Kebangkitan”

Pelajaran 12                                                13-19 September 2014

 

Kematian dan Kebangkitan

 

 

 

SABAT PETANG

BACALAH UNTUK PELAJARAN PEKAN INI: Yoh 11:11; Yoh 1:1-4; Luk 8:54,55; Yoh 5:28,29; Yoh 11:38-44.

AYAT HAFALAN: Jawab Yesus: ‘Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati”’ (Yoh 11:25).

            Manusia memiliki penolakan bawaan terhadap kematian karena kita diciptakan hanya untuk hidup dan tidak pernah untuk mati. Kematian adalah penyusup; itu tidak pernah direncanakan. Itu sebabnya, selama pelayanan-Nya di bumi, Yesus menunjukkan simpati yang besar terhadap yang berduka. Ketika Ia melihat janda dari Nain membawa anaknya satu-satunya ke kuburan, “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Jangan menangis’” (Luk 7:13). Kepada seorang bapa yang hancur hatinya karena anak perempuannya yang berumur dua belas tahun baru saja meninggal, Kristus menghibur dia, dengan berkata: “Jangan takut, percaya saja” (Mrk 5:36). Setiap kali kematian menimpa orang yang kita kasihi, Yesus dengan lembut tersentuh oleh kesedihan kita. Hati-Nya yang penuh belas kasihan menangis bersama kita.

            Tetapi Kristus melakukan jauh daripada sekadar menangis. Setelah menaklukkan kematian dengan kematian-Nya sendiri dan kebangkitan, Ia memegang kunci maut, dan Ia berjanji untuk membangkitkan barangsiapa yang percaya kepada-Nya menuju kehidupan kekal. Sejauh ini, ini adalah, janji terbesar yang telah diberikan kepada kita di dalam Firman Allah; jika tidak, jika kematian memiliki kata akhir, seluruh kehidupan kita dan segala sesuatu yang pernah kita capai akan sia-sia.

 

Minggu, 14 September

Keadaan Orang Mati

 

            Para penulis Perjanjian Lama secara konsisten menyatakan bahwa manusia adalah suatu kehidupan yang tak dapat dibagi-bagi. Berbagai istilah Ibrani yang biasanya diterjemahkan sebagai daging, jiwa, dan roh adalah cara yang berbeda untuk menjelaskan, dari sudut pandang yang berbeda, pribadi manusia secara keseluruhan. Selaras dengan perspektif ini, Kitab Suci menggunakan kiasan yang berbeda untuk menjelaskan kematian. Di antaranya, tidur adalah sebagai symbol yang pas untuk merefleksikan pengertian Alkitabiah dari kondisi orang mati (Lihat Ayub 3:11-13; 14:12; Mzm 13:3; Yer 51:39; Dan 12:2). Kematian adalah total akhir dari kehidupan. Kematian adalah keadaan tidak sadarkan diri di mana tidak ada pikiran, emosi, pekerjaan, atau hubungan apa pun (Pkh 9:5,6,10; Mzm 115:17; 146:4).

            Namun, pada zaman Yesus, pandangan tentang kemanusiaan ini, dan secara khusus akan kematian, ditantang oleh konsep dualistis kekafiran dari keabadian jiwa, yang dengna cepat menyebar ke seluruh dunia saat itu.

            Bagaimanakah Yesus menjelaskan kematian sahabat-Nya Lazarus? Lihat Yoh 11:11.

            Meskipun ayat ini dan ayat-ayat lainnya ada, sejumlah orang Kristen berpendapat bahwa Yesus percaya pada kebakaan jiwa, karena Ia berkata kepada pencuri di salib itu: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau aka nada bersama-sama dengan Aku di Firdaus” (Luk 23:43). Makna dari ayat ini berubah seluruhnya, tergantung di mana koma ditempatkan. (Naskah-naskah Perjanjian Baru Yunani kuno tidak memiliki tanda baca). Jika tanda koma diletakkan setelah kata “mu,” seperti kebanyakan versi Alkitab melakukannya, itu berarti bahwa Yesus dan si pencuri pergi ke surga pada hari yang sama; jika tanda koma setelah kata “hari ini,” ayat ini berarti Yesus meyakinkan si pencuri akan masa depan penebusannya. Sebenarnya, perkataan Yesus menekankan jaminan keselamatan, bukan waktu si pencuri ke dalam surga. Konteks ayat ini menegaskan hal tersebut. Sebagai pendahuluan, si pencuri tidak meminta pemindahan langsung ke surga pada saat kematian, melainkan untuk diingat ketika Tuhan akan datang ke kerajaan-Nya. Selain itu, tiga hari kemudian Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia belum naik ke surga (Yoh 20:17). Oleh karena itu, ayat ini tidak mengajarkan bahwa jiwa orang mati pergi ke surga setelah kematian.

            Oleh karena kita memahami bahwa kematian adalah keadaan tidur tak sadarkan diri, mengapa pengajaran tentang kebangkitan sangat penting bagi kita?

 

Senin, 15 September

Pengharapan Kebangkitan

 

            Pada penciptaan, “TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya.” Dan sebagai hasilnya, “manusia itu menjadi mahluk yang hidup” (Kej 2:7). Selama Allah mempertahankan napas kehidupan pada mahluk hidup, mereka tetap hidup. Namun ketika Ia mengambil napas mereka, mereka mati dan kembali ke debu (Mzm 104:29; Pkh 12:7). Ini bukan keputusan sewenang-wenang dari Allah; itu adalah konsekuensi yang tak terelakkan dari dosa. Tetapi kabar baiknya adalah, melalui Kristus, ada pengharapan, bahkan dalam kematian.

            Bacalah Yohanes 1:1-4. Apakah yang tersirat dalam ayat-ayat ini yang menunjukkan kepada kita kuasa Yesus untuk membangkitkan orang mati?

            Kristus memiliki hidup di dalam Diri-Nya sendiri, karena Ia adalah hidup (Yoh 14:6). Ia menciptakan segala sesuatu dan memiliki kuasa untuk memberikan kehidupan kepada siapa yang Ia kehendaki (Yoh 5:21).  Dengan demikian, Ia bisa membangkitkan orang mati.

            Bagaimanakah kebangkitan itu terjadi? Lihatlah Luk 8:54,55.

            Menurut Alkitab, kebangkitan adalah kebalikan dari kematian. Kehidupan dipulihkan ketika napas hidup datang kembali dari Allah. Itu adalah bagaimana Lukas menjelaskan kebangkitan Putri Yairus. Setelah mengetahui bahwa anak gadis berumur dua belas tahun itu telah meninggal dunia, Yesus pergi ke rumah dan mengatakan kepada para pelayat bahwa ia sedang tidur. Lalu Ia “memegang tangan anak itu dan berseru, kata-Nya: ‘hai anak bangunlah!’ maka kembalilah roh [pneuma] anak itu dan seketika itu juga ia bangkit berdiri” (Luk 8:54,55). Pada perintah Ilahi Yesus, prinsip hidup yang diberikan oleh Allah kembali ke pada anak gadis itu. Istilah Yunani yang digunakan Lukas, pneuma, berarti “angina,” “napas,” atau “roh.” Ketika Alkitab menggunakannya dalam kaitannya dengan manusia, itu tidak pernah menunjukkan suatu kesadaran yang mampu terpisah dari tubuh. Dalam ayat ini jelas mengacu kepada napas hidup.

            Kematian begitu umum sehingga kita menerimanya begitu saja. Meskipun demikian bagaimanakah kita bisa belajar untuk percaya pada janji Allah tentang kehidupan kekal, meskipun sekarang, kematian tampaknya menjadi pemenang?

 

Selasa, 16 September

Kematian dan Kebangkitan

 

            Apa yang telah kita pelajari sejauh ini bisa membawa kita untuk berpikir bahwa kebangkitan akan jadi hanya kepada beberapa saja. Tetapi Yesus menegaskan bahwa saatnya akan tiba ketika: “Semua orang yang di dalam kuburan akan mendengar suara-Nya” (Yoh 5:28,29). Orang percaya dan yang tidak percaya, orang benar dan berdosa, yang diselamatkan maupun yang hilang, semua akan dibangkitkan. Sebagaimana Paulus menyatakan: “Akan ada kebangkitan semua orang mati, baik orang-orang yang benar maupun orang-orang yang tidak benar” (Kisah 24:15).

            Akhirnya, meskipun semua dibangkitkan dari antara orang mati, semua akan menghadapi salah satu dari dua nasib kekal. Apakah itu? Yohanes 5:28,29.

            Kebangkitan yang universal tidak berarti bahwa pada akhir zaman semua orang akan diantarkan ke dalam hidup kekal yang bahagia dan menyenangkan. “Orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan 12:2).

            Alkitab mengajarkan bahwa Allah akan menghakimi kehidupan semua umat manusia, menentukan tujuan akhir setiap orang yang pernah hidup (Pkh 12:14; Roma 23:1-11). Pelaksanaan hukuman Ilahi, bagaimanapun, tidak terjadi segera setelah kematian setiap individu tetapi hanya setelah kebangkitannya. Sampai saat itu, baik yang diselamatkan dan yang hilang, tidur tak sadarkan diri dalam debu. Kebangkitan, dengan sendirinya, bukanlah sebuah hadiah atau hukuman. Ini adalah prasyarat untuk menerima hidup kekal atau penghukuman.

            Berbicara mengenai dua kebangkitan, Yesus menunjukkan bahwa nasib kita akan ditentukan berdasarkan kualitas moral perbuatan kita (baik atau buruk). Fakta ini, bagaimanapun juga, tidak berarti bahwa perbuatan menyelamatkan kita. Sebaliknya, Yesus jelas mengajarkan bahwa keselamatan kita bergantung semata-mata pada iman kita di dalam Yesus sebagai Juruselamat (Yoh 3:16). Lalu, mengapa perbuatan dibawa ke dalam pertimbangan? Karena perbuatan menunjukkan apakah iman kita di dalam Kristus dan penyerahan kita kepada-Nya adalah murni atau tidak (Yak 2:18). Perbuatan kita menunjukkan apakah kita tetap “mati dlaam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa” (Ef 2:1) atau “mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Roma 6:11).

            Pikiran puncak nasib akhir yang menanti masing-masing kita. Jika ada sesuatu yang berdiri di antara engkau dan kehidupan kekal, mengapa tidak sekarang juga memilih untuk menyingkirkannya? Setelah semuanya itu, apakah kemungkinan ada yang berharga yang membuat kekekalan hilang?

 

 

Rabu, 17 September

Apa yang Yesus Katakan tentang Neraka

 

            Yesus menggunakan dua istilah Yunani, Hades dan gehema, untuk berbicara tentang kematian dan hukuman atas orang-orang jahat. Mengingat kepercayaan populer tentang arti “neraka,” kita perlu mempertimbangkannya dengan hati-hati.

            Hades setara dengan Bahasa Ibrani she’ol, istilah yang paling umum di Perjanjian Lama untuk dunia orang mati. Nama-nama ini mewakili kuburan atau tempat kemana semua turun kepada kematian, tanpa ada konotasi hukuman atau hadiah. Namun, ada satu ayat, dimana Hades muncul dihubungkan dengan hukuman. Itu adalah perumpamaan orang kaya dan Lazarus.

            Baca Lukas 16:19-31. Apakah pelajaran mendasar yang perumpamaan ini tetapkan (lihatlah khususnya ayat 27-31)? Apakah yang salah dengna menggunakan perumpamaan ini untuk mengajarkan  bahwa manusia pergi ke surga atau neraka segera setelah kematian?

            Perumpamaan ini tidk difokuskan kepada keadaan manusia saat mati. Sebuah keyakinan populer tetapi tidak Alkitabiah yang banyak dipegang oleh orang sezaman Yesus menjadi latar belakang perumpamaan ini, yang mengajarkan satu pelajaran penting. Nasib masa depan kita ditentukan oleh keputusan yang kita buat setiap hari dalam hidup ini. Jika kita menolak terang yang Allah berikan kepada kita saat ini, tidak ada kesempatan setelah kematian. Segala usaha untuk mengartikan perumpaan ini secara harfiah menuntun kepada banyak masalah yang tak terpecahkan. Sebenarnya, rincian dari gambaran ini tampaknya disengaja janggal untuk menunjukan kepada kita bahwa Yesus tidak berniat agar perkataan-Nya akan dipahami secara harfiah, namun kiasan.

            Amaran apakah yang Yesus ucapkan tentang neraka? Lihatlah Mat. 5:22, 29, 30; 23:33

            Dalam banyak terjemahan Alkitab, kata neraka muncul sebelas kali di bibir Yesus. Ia sebenarnya menggunakan istilah Yunani gehenna, dari nama Ibrani gehenna, dari nama Ibrani Ge Hinnom, ”Lembah Hinnom.” Menurut perjanjian lama di ngarai selatan hebohkan dengan mengorbankan anak-anak kepada Molek (2 Taw. 28:3, 33:6). Kemudian, raja yang saleh Yosia membawa praktik ini ke tempat perhentian “Lembah Pembunuhan” (Yer. 7:32,33; 19:6). Oleh karena itu, bagi orang-orang Yahudi, lembah menjadi simbol penghakiman terakhir dan hukuman bagi yang tidak bertobat. Yesus menggunakan nama kiasan, tanpa menjelaskan rincian apa pun tentang waktu dan tempat hukuman, yang kita temukan di ayat-ayat  Alkitab lainnya. Jadi , neraka bukanlah sebuah tempat hukuman kekal.

 

 

Kamis, 18 September

Yesus Mengalahkan Kematian

 

            Mengapakah kebangkitan Lazarus adalah mahkota mukjizat pelayanan Kristus di bumi? Lihat Yohanes 11:38-44

            Meskipun Yesus telah membangkitkan dua orang lainnya dari antara orang mati, tidak ada yang sedramatis ini. Lazarus telah mati selama empat hari, sebuah fakta yang Marta tekankan di sisi makam. Yesus melakukan mukjizat dalam cahaya siang hari di hadapan kumpulan saksi-saksi yang terhormat dari Yerusalem. Bukti ini tidak bisa dihilangkan.

            Namun, jauh lebih penting dari kebangkitan Lazarus adalah kebangkitan Yesus sendiri. Karena Dia memiliki hidup dalam Diri-Nya sendiri, Ia tidak hanya memiliki kuasa untuk membangkitkan orang mati dan memberikan kehidupan kepada siapa yang Ia kehendaki (Yoh. 5:21), tetapi Ia juga memiliki kuasa untuk memberikan nyawa-Nya dan mengambilnya lagi (Yoh. 10:17, 18). Kebangkitan-Nya membuktikan hal ini dan meyakinkan.

            Apakah hubungan kebangkitan Kristus dengan kebangkitan kita? Mengapakah kebangkitan-Nya begitu penting bagi keselamatan kita? Lihatlah 1 Kor. 15:17-20.

            Kuasa Kristus untuk mematahkan belenggu kematian tidaklah dapat diantah. Ia bangkit dari kubur sebagai buah sulung dari orang-orang yang tidur di dalam Dia. Kebangkitan-Nya adalah jaminan dari kebangkitan setiap orang percaya, karena Ia memiliki kunci maut” (Why. 1:17, 18).

            “Bagi orang percaya , Kristus adalah kebangkitan dan hidup. Dalam juruselamat kita, hidup yang sudah hilang karena dosa dipulihkan kembali; karena Ia mempunyai hidup dalam diri-Nya Sendiri untuk menghidupkan siapa yang dikehendaki-Nya: Ia diberikan untuk memberikan sifat baka. Hidup yang diserahkan-Nya dalam kemanusian, diambil-Nya kembali, dan diberikan-Nya kepada manusia.” – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 6, hlm. 439.

            Setelah Vladimir Lenin Meninggal, tubuhnya dibekukan dalam keyakinan bahwa akhirnya ilmu pengetahuan akan memungkinkan dia untuk dibawa kembali kepada kehidupan. Sejauh ini, harapan-harapan tersebut tidak tampak berjalan dengan baik, benar bukan? Kematian begitu berkuasa bahwa hanya Dia yang pertama kali menciptakan kehidupan yang dapat memulihkannya. Apakah yang dikatakan kebenaran ini kepda kita tentang mengapa kita harus percaya, bahwa Yesus bisa, dan akan, membangkitkan kita sebagaimana yang Ia telah janjikan?

 

Jumat, 19 September

Pendalaman: Ellen G. White, “Hai Lazarus, Marilah Keluar” hlm. 141-154, dan “Tuhan Sudah Bangkit,” hlm. 432-440, dalam Alfa dan Omega, Jld. 6.

            “Suara Anak Allah memanggil orang-orang kudus yang sedang tidur. Ia memandang kepada kuburan-kuburan orang benar, lalu mengangkat tangannya ke langit dan berseru, “Bangun, bangun, bangun, kamu yang tidur di debu tanah, bangkitlah!’ Dari seluruh penjuru dunia ini orang mati mendengar suara itu, dan mereka yang mendengar akan hidup….Dari penjara maut mereka keluar, berpakaikan kemuliaan kekal, berseru, ‘Hai maut, dimanakah kemenanganmu? Hai maut, dimanakah sengatmu?’ I Korintus 15:55. Dan orang-orang benar yang masing-masing hidup dan orang-orang kudus yang dibangkitkan itu meyatukan suara mereka dalam pekik kemenangan yang panjang penuh kegembiraan. “ – Ellen G. White, Alfa dan Omega, jld. 8, hlm. 679, 680.

Pertanyaan untuk Didiskusikan:

  1. Kita semua berjuang dengan realitas kematian, yang tampaknya penutup kehidupan, dan yang tampak sia-sia. Jika, sebagaimana banyak yang percaya, tidak ada Allah, tidak ada pengharapan hidup kekal, tidak ada kebangkitan, lalu apakah arti kehidupan manusia itu sendiri? Apakah maknanya jika, cepat atau lambat, setiap orang yang pernah hidup mati dan setiap kenangan atas mereka lenyap selama-lamanya? Bagaimanakah pengertian kita akan kebangkitan menjawab dilemma yang tak terpecahkan ini?
  2. Apa sajakah bahaya-bahaya yang melekat dalam ide kebakaan jiwa? Mengapakah Setan bersemangat untuk menyebarkan kepercayaan yang tidak Alkitabiah ini? Apakah peran yang konsep ini mainkan dalam scenario keagamaan di akhir zaman? Pikirkanlah tentang semua penipuan yang mungkin di luar sana dari mana mereka yang memahami kematian sebagai tidur sampai kebangkitan diselamatkan.