Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Renungan Pagi 29 Juni 2014 “Hari Ini, Hari Ini, Dan Hari Ini”

29 Juni, 2014

“Hari Ini, Hari Ini, Dan Hari Ini”

 

“Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah” (2 Petrus 3:10-12)

            Pada tanggal 10 November 1844, seorang petani Baptis yang berubah menjadi penceramah meraih penanya dan menggoreskan kata-kata berikut. Tetapi bilamana kita membacanya hari ini, meskipun masih bersinar dengan pengharapan yang terpantulkan, tidak mungkin bagi kita mengukur kekecewaan yang dalam dan pahit yang terselubung di dalam kelihaiannya menulis. Ia kemudian menyatakan kepada semua dengan kepastian yang demikian mutlak bahwa Kristus akan datang kembali ke bumi pada tanggal 22 oktober? Tetapi menjalani hidup setelah kenyataan yang tak tergenapi itu menjadi hal lain. Kecewa? Tidak heran mereka menyebutnya “kekecewaan terbesar”!

            Sembilan belas hari setelah harapannya hancur, William Miller mengambil penanya di sana di rumah pertanian yang tenang di Low Hampton, New York, dan menuliskan kata-kata berikut kepada rekannya dalam pelayanan, Joshua Himes: “Meskipun saya telah dua kali kecewa, saya belum menyerah atau putus asa. Allah bersamaku dalam roh, dan telah menghibur saya. Sekarang saya lebih yakin bahwa saya percaya pada firman Allah; dan… pikiran saya benar-benar tenang, dan pengharapan saya tentang kedatangan Kristus sama kuatnya. Saya hanya melakukan apa yang selama bertahun-tahun penuh pertimbangan yang merupakan tugas suci yang harus di lakukan. Jika saya keliru, maka itu karena kemurahan hati, kasih sesama manusia, dan keyakinan saya tentang tugas kepada Allah.”

            Dan kemudian Miller menggoreskan tanggal baru yang menurutnya merupakan tanggal yang pasti. “Saudara-saudara; tetaplah setia; jangan biarkan ada yang mengambil mahkotamu. Saya telah menetapkan pikiran kepada waktu yang lain, dan di sini saya bermaksud berdiri teguh sampai Allah memberikan saya lebih banyak terang.—Dan itu adalah hari ini, hari ini, dan hari ini sampai Dia datang, dan saya melihat Dia yang dirindukan oleh jiwa saya” (F.D. Nichol, The Midnight Cry, hlm. 266,267)

            Itu dia, tulisan tangan tentang pengharapan di atas dinding umat pilihan Allah. “Hari ini, dan hari ini.” Dapatkah Anda memikirkan hari yang lebih baik untuk mengharapkan Yesus datang daripada hari ini?