Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Renungan Pagi 28 Juni 2014 “Siapa Yang Ada Di Dalam Pelana”

28 Juni 2014

Siapa Yang Ada Di Dalam Pelana

 

“Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab daripada Dialah hikmat dan kekuatan! Dia mengubah saat dan waktu, Dia memecat raja dan mengangkat raja, Dia memberi hikmat kepada orang bijaksana dan pengetahuan kepada orang yang berpengertian; Dialah yang menyingkapkan hal-hal yang tidak terduga dan yang tersembunyi, Dia tahu apa yang ada di dalam gelap, dan terang ada pada-Nya” (Daniel 2:20-22).

            Orang bijak di abad kesembilan belas, Ralp Waldo Emerson berkata: “Peristiwa-peristiwa ada di dalam pelana dan cenderung menunggangi umat manusia.” Meskipun hal tersebut saat itu memang benar, apakah hal tersebut terbukti benar di zaman kita? Lain waktu Anda mendengarkan berita media tentang presiden, memperhatikan daftar peristiwa yang diikutinya bersama para wartawan yang meliputnya satu per satu, tantangan-tantangan besar yang semua orang ketahui di hadapi bangsa dan dunia kita. Memang “peristiwa-peristiwa ada di dalam pelana”!

            Namun nabi-nabi kuno bertahun-tahun mengingatkan para pendengar dan pembaca mereka untuk mengingat Seseorang lain yang juga ada dalam pelana. Melangkah ke dalam suasana pesta pora mabuk-mabukkan di tengah malam, Nabi Daniel yang sudah lanjut usia menafsirkan tulisan di dinding yang misterius kepada raja Belsyazar yang ketakutan: “Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang di kehendaki-Nya untuk kedudukan itu… Dan tidak tuanku muliakan Allah, yang menggenggam napas tuanku dan menentukan segala jalan tuanku” (Dan 5:21-23). Setelah kata-kata itu diucapkan, kerajaan Babel yang besar itu pun rubuh pagi dini hari itu. “Peristiwa-peristiwa berada dalam pelana” Dan itulah sebabnya saya yakin kita bisa menghadapi masa depan dengan pengharapan pasti dan jaminan yang tenang. Kemerosotan ekonomi yang sedang meluluhlantakan kekuatan keuangan peradaban ini tidak pantas ditakuti. Jika Allah memilih untuk memulihkan kelangsungan hidup keuangan kita demi kerajaan-Nya dan misi-Nya di bumi, maka Ia akan melakukannya. Di lain pihak, jika Ia memilih untuk membiarkan krisis moneter menguras tenaga ekonomi kita demi mempercepat kerajaan dan misi-Nya di bumi, maka “semua raja dan hamba raja” tidak bisa menyatukan kehancuran itu kembali. Setelah mengetahui kehendak-Nya di lakukan di bumi “sebagaimana di surga” meyakinkan dia yang percaya kepada Allah, bahwa dalam keadaan kita sekarang, Allah masih mencapai maksud akhir-Nya. Di tengah pergumulan dan kegemparan bangsa, Ia masih memimpin urusan di bumi” (Education, hlm.178). Masih ada tempat dalam pelana itu untuk pengharapan!