Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Renungan Pagi 26 Juni 2014 “Terlalu Mudah Senang”

26 Juni 2014

Terlalu Mudah Senang

 

“Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia’” (1 Korintus 2:9)

            Di desa saya tinggal, dia adalah salah seorang warga kesukaan kami! Tanya saja orang-orang di Smithsonian’s National Air and Space Museum di Washington, D.C., di mana lukisan besar Nathan Greene tentang pemandangan bulan menyemarakkan salah satu dinding pameran mereka. Saya mendapat keistimewaan mendapatkan karya seni Nathan memperindah sampul empat buku yang saya tulis. Tetapi salah satu karya seni Nathan Green paling popular adalah The Lion and the Lamb. Salah seorang anggota jemaat saya memilih lukisan itu sebagai hadiah kenangan untuk suaminya, dan sekarang tergantung di tempat di mana semua orang bisa melihatnya di sebelah jalan ramai di Gereja Pioneer Memorial. Nathan melukis satu pemandangan masa depan tentang surga, di mana Yesus yang ramah di kelilingi oleh anak-anak-Nya, seorang gadis kecil duduk di pangkuan-Nya dan bersandar di dada-Nya. Di kaki Juruselamat berbaring seekor singa besar. Dan di samping sang raja rimba itu berdiri seekor domba hitam dengan bulu keriting. “Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus” (Yes 11:9).

            Surga. Sebagaimana ayat kita hari ini mengingatkan, memang tidak mungkin bagi pikiran kita yang fana dan berdosa untuk memahami, apalagi membayangkan, kemuliaan firdaus yang telah Allah siapkan bagi umat pilihan-Nya, sahabat-sahabat-Nya di bumi. Namun meskipun ini membuat kita membayangkan yang tertinggi, kita tidak boleh membiarkan diri kita sendiri menjadi begitu letih oleh pemandangan dunia yang begitu rusak dan hiburan semu sehingg kita jadi menggantikan pengharapan surga dengan konsdisi yang tak berharga itu.

            C.S. Lewis suatu hari bertanya-tanya mengapa kita tidak lebih sibuk dengan pengharapan mulia surga: “Jika kita mempertimbangkan janji-janji pasti tentang pahala dan sifat pahala itu yang mengejutkan yang dijanjikan dalam Injil, maka akan tampak bahwa Tuhan kita menemukan keinginan kita tidak terlalu kuat. Kita ini ciptaan dengan setengah hati, diperdaya oleh minuman dan seks dan amibisi padahal sukacita kekal diberikan kepada kita, seperti seorang anak yang tak tahu apa-apa yang ingin pergi membuat kue lumpur di tempat kotor karena ia tidak dapat membayangkan apa rasanya liburan di laut. Kita terlalu mudah dibuat senang” (The Weight of Glory, hlm.4). Bukankah begitu?