Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Renungan Pagi 25 Juni 2014 “Pulang Ke Rumah”

25 Juni 2014

“Pulang Ke Rumah”

 

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi…. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak aka nada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu” (Wahyu 21:1-4).

            Salah satu gubahan klasik kesukaan saya adalah dari Antonim Dvorak, karyanya, Symphony No.9 dalam E.Minor yang ia sebut, “From the New World.” Kini itu dikenang sebagai “The New World Symphony.” Sebagian besar erat dengan porsi Largo, dan saya akui Largo itulah yang saya suka senandungkan. Terutama sejak seorang penyair berkata: “Pulang, pulang, ya Tuhan, saya pulang ke rumah.”

            Apakah menurut Anda bahwa jauh di dalam hati setiap manusia ada insting yang ditanamkan Allah, satu kerinduan untuk pulang ke rumah? Mungkinkah “Pulang ke rumah” itu adalah lirik melodi tanpa kata yang dinyanyikan setiap orang di bumi? Lagi pula, bukan kah orang bijak mengamati, “[Allah] memberikan  kekekalan dalam hati mereka” (Pkh 3:11)? Dan hati—oh, betapa hati rindu dan mendambakan tempat yang lebih baik untuk disebut rumah daripada di sini, bukankah begitu?

            Untuk ulasan itu gambaran Yohanes tentang bumi baru dalam ayat kita hari ini sangat disukai, dan begitu sering dikutip ketika kita berkumpul dalam kesedihan untuk menguburkan orang mati yang kita kasihi. Namun apakah Anda memperhatikan bahwa Yohanes harus berpaling kepada hal negatif agar kita memahami hal yang positif? “Perkenankan saya memberitahu Anda apa yang tidak akan ada disana!” tidak akan ada lagi air mata, tidak ada kematian, tidak aka nada kesedihan, tidak akan ada tangisan, tidak ada rasa sakit. Tidak ada lagi rumah sakit, tidak ada lagi pengadilan perceraian, tidak ada lagi penjara, tidak ada lagi perkampungan kumuh, tidak ada lagi kejahatan, tidak ada lagi peperangan.

            Harry Blamires dengan tajam menggambarkan: “Kalau saja kita bisa mendapatkan hal-hal positif dalam kehidupan di bumi tanpa hal negatifnya. Di dalam alam semesta yang dikuasai oleh waktu, pernikahan paling berbahagia berakhir dalam kematian, wanita paling cantik menjadi kerangka. Pudar dan tua, hilang dan gagal, kehilangan dan putus asa—inilah aspek-aspek negatif kehidupan dalam hal waktu. Kehidupan dalam kekekalan akan membebaskan kita dari semua kehilangan, semua kesedihan” (“The Eternal Weight of Glory,” Christianity Today, 27 Mei 1991, hlm.30). tidak heran melodi di kejahuan, “pulang ke rumah” masih terasa dalam hati kita.