Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Renungan Pagi 23 Juni 2014 “Kerajaan Bukan Sulap” (Bagian 2)

23 Juni 2014

Kerajaan Bukan Sulap

(Bagian 2)

 

 

“Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu satu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka” (Ibrani 11:16).

            Ted Dekker, dalam The Slumber of Christianity: Awakening a Passion for Heaven on Earth, membuat satu pengamatan tentang pengharapan. “Apakah yang mengangkat emosi kita, dan apa yang menjatuhakannya ke tanah? Apakah yang membuat kita melompat kegirangan, dan apa yang membawa kita kepada keputusasaan yang dalam? Jawabannya amat sederhana: Harapan. Dan kemudian ia menggambarkan: “Pengharapan adalah kekuatan utama yang menggerakkan manusia dari waktu ke waktu. Pengharapan untuk kesenangan sederhana, sebuah rangkulan, sebuah ciuman… kesehatan yang diperbarui dari seorang anak atau ibu yang lanjut usia. Segala sesuatu yang kita lakukan digerakkan oleh pengharapan atau ketidakberdayaan dalam satu atau lain bentuk” (hlm. 34,35).

            Jika itu benar—dan saya merasa kita setuju—maka apakah yang akan terjadi jika kita menggunakan waktu setiap hari merenungkan pengharapan surga—melalui sebuah lagu, sebuah puisi, music, satu atau dua janji Kitab Suci? Bagaimanakah bila kita dengan kesadaran penuh mengalihkan pikiran kita dari berita buruk yang tak habis-habisnya tentang ekonomi yang hancur, dunia yang berantakan, ekosistem yang kacau, budaya yang secara moral merosot—berpaling dari urusan media yang tak berpengharapan sehari-harinya dan sebagai gantinya fokuskan pikiran kita pada “rumah surgawi” itu, sebagaimana ayat kita hari ini, kota dan negeri kekal itu yang Allah telah janjikan kepada sahabat-sahabat-Nya?

            “Paulus mendapat pemandangan tentang surga, dan untuk memperbincangkan kemuliaan di sana, hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah tidak mencoba melukiskannya. Ia mengatakan bahwa apa yang tidak di lihat mata atau tidak di dengar telinga, tidak juga ada dalam hati manusia, itulah hal-hal yang Allah sediakan bagi mereka yang mengasihi Dia. Jadi Anda dapat menaruh imajinasi Anda kepada bidang itu, Anda boleh mencoba sebisa mungkin membayangkan dan merenungkan bobot kekal kemuliaan itu, namun pemahaman Anda yang fana, letih, tak mampu menggapainya, karena ada yang kekal di balik itu semua. Diperlukan segala kekekalan untuk mengungkap kemuliaan dan mengeluarkan harta kekayaan berharga firman Allah” (The Seventh-day Adventist Bible Commentary, Ellen G. White Comments, jld.6, hlm. 1107). Bentangkan imajinasi Anda tentang surge sekarang juga, dan biarkan Roh merasuki Anda dengan dosis pengharapan yang segar.