Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Renungan Pagi 22 Juni 2014 “Kerajaan Bukan Suap” (Bagian 1)

22 Juni 2014

Kerajaan Bukan Sulap

(Bagian 1)

 

“Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang di janjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini” (Ibrani 11:13).

            Ada apakah dengan Disneyland? Saya ingat pertama kali taman cerita itu. Waktu itu saya adalah seorang anak misionaris berusia 5 tahun dan belum dan belum pernah ke Amerika yang disambut oleh paman serta bibinya dengan berkata, “Selamat datang ke Amerika—kami akan membawamu ke Disneyland!” Kini Disney World adalah taman hiburan terbesar di dunia, digerakkan (sejak 1987) oleh kampanye pemasaran yang tak ada bandingannya. Setelah pemain paling hebat Super Bowl diumumkan dan ia dikelilingi para wartawan dan kamera, salah seorang agen perusahaan Disney menanyakan satu pertanyaan yang di dengar di TV secara langsung di seluruh dunia: “Hai anda baru saja memenangkan Super Bowl, apa yang akan Anda lakukan sekarang?” Dan MVP (semua pemain dilatih oleh Disney sebelum permainan) tahu menjawabnya: “Saya akan ke Disney World!” (jika timnya berasal dari Timur), atau; “Saya akan ke Disneyland!” (jika dari Barat).

            Tahukah Anda bahwa Disney hanya merobek satu halaman dari buku permainan Allah sendiri? Ia telah melakukannya selama satu millennium—menggunakan para pahlawan-Nya untuk memperkenalkan Kerajaan Bukan Gaib. Ayat kita hari ini merangkumkan kehidupan warga terhebat dunia—Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Sara, Ishak, Yakub, Yusuf, Musa, Rahab, Gideon, Samson, Daud—dengan mengingat bahwa mereka semuanya adalah “orang-orang asing dan pengelana” di bumi. Mengapa? Karena pengharapan mereka tertuju ke negeri lain. Dan pengharapan itulah yang menggerakkan kehidupan mereka.

            Saya suka berpergian. Tetapi bagian terbaik bagi saya adalah perjalanan pulang ke rumah. Bilamana Anda mendarat di negeri asing, bukan negaranya yang asing—tetapi Anda! Dan Anda diingatkan tentang itu pada bagian pemeriksaan paspor: “Orang asing antri di sini.” Tetapi ketika saya pulang ke rumah, sambutan ceria (kadang-kadang) “Selamat datang di rumah pulang ke rumah!” cocok dengan semangat saya sendiri. Akhirnya saya pulang.

            Sama seperti sahabat Allah di seluruh sejarah suci, Anda dan saya adalah orang asing, orang asing di negeri ini, para peziarah yang lewat, menghitung hari sampai Juruselamat kembali. Jadi ketika Anda ditanya apakah yang sedang Anda lakukan sekarang, maka Anda dapat menyerukan-nya dengan harapan penuh sukacita: “Saya siap untuk pulang!”